
Aku langsung terburu mengusap wajahku ketika pintu kamar dibuka. Hendri berjalan kearah ranjang lalu duduk di dekatku
Aku segera menundukkan wajahku, tak berani melihat kearahnya
"Lin...?"
Aku menoleh kearah Hendri dan menatapnya dengan takut
"Aku nggak main hp kok Hen, hpnya aku simpan dalam lemari, dan sosial medianya sudah aku hapus"
Hendri hanya bergeming melihatku bicara, lalu aku kembali menunduk
"Dan isi kontaknya sekarang ada dua, satunya nomor bibi Ni Luh"
Hendri menarik daguku dan menatap ke arahku
"Besok akan aku hapus kok Hen, aku janji" lanjut ku cepat karena takut Hendri bakal marah lagi
"Kamu kesepian di sini?"
Aku langsung terdiam mendengar ucapannya yang lembut
"Kalau kamu kesepian, aku akan membawamu pulang ke rumahku, di rumah ada ketiga anakku, kamu nggak akan kesepian lagi"
Aku menggeleng
"Aku disini saja, aku belum siap jika ketiga anakmu curiga"
Hendri menarik nafas lalu mengusap wajahku yang membuat bulu romaku meremang
"Malam ini aku ingin tidur disini"
Aku menelan ludahku ketika Hendri berbaring dan langsung mematikan lampu yang ada di meja di dekatnya
Aku bergeming ketika Hendri telah berbaring dan membelakangi ku.
Aku segera meletakkan bantal yang semula bersandar di tepian ranjang, menaruhnya di kasur lalu mulai menggeser posisiku agar tidak terlalu dekat dengan Hendri
Aku ikut merebahkan tubuhku dan menatap langit-langit kamar. Ku lirik Hendri yang masih saja membelakangi ku
Berkali-kali aku menggerakkan badanku karena aku merasakan pegal
"Kamu kenapa?"
Aku langsung berhenti dan menoleh kearah Hendri yang telah membalikkan badannya mengarah ke arahku
"Mau ke toilet?"
Aku menggeleng
"Terus?"
"Tubuhku rasanya pegal karena aku lebih banyak berbaring tidak melakukan apa-apa"
Tak kuduga tangan Hendri terulur dan menggerakkan tubuhku membelakanginya lalu dia mendekat dan mendekap ku dari belakang
Kurasakan hembusan nafasnya di tengkukku, dan tangannya yang memeluk erat perutku
Aku menggerakkan bahuku karena aku merasa geli karena dagu Hendri sekarang berpindah ke bahuku
"Kenapa?"
Aku diam tak berani menjawab, jika aku menjawab aku geli dan tak suka tentulah Hendri akan marah, dan bisa dipastikan aku nanti yang repot
"Tangan kamu sudah tidak sakit kan?"
Aku mengangguk
"Masih tapi tidak terlalu"
"Kaki?"
"Sama"
Kurasakan Hendri kian memelukku erat dan nafasnya berubah tak teratur, memburu dan terdengar kasar
"Lin.....?"
Aku menelan ludahku ketika aku mendengar suaranya yang berat. Hendri kembali membalikkan tubuhku telentang, dia segera duduk dan memandang dengan mata sayu ke arahku
"Boleh..?"
Degup jantungku berdebar kencang saat dia mengucapkan kalimat yang menakutkan untukku itu
Aku diam tak menjawab melainkan hanya mengerjapkan mataku
Karena tak mendapat jawaban dari Linda, Hendri menghembus nafas dengan kasar dan segera membuang wajahnya dan menatap ke depan
Aku yang tahu jika dia kecewa segera menarik tangannya. Hendri menoleh padaku dan aku mengangguk ragu
Kembali aku hanya bisa mengangguk. Degup jantungku kian berdebar kencang ketika Hendri mendekatkan wajahnya ke wajahku dan tak lama setelah itu dia telah melahap bibirku
Walau aku sedikit kesulitan menghadapi ciuman ganasnya tapi aku terus membiarkan bibirnya melahap bibirku
Dan aku kian belingsatan ketika tangan Hendri mulai bergerak liar, dan Hendri yang menyadari jika Linda mulai fly kian bergerak liar menjamah seluruh tubuh perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu
"Aaarghhh...." aku menjerit tertahan ketika lutut Hendri menekan kaki kiriku
Hendri yang kaget segera tersadar dan mengelus-elus kakiku
"Masih sakit?"
Aku menggeleng
"Pelan-pelan ya Hen, jangan kasar"
Hendri tak menjawab ucapanku, dia segera merangkak ke atas tubuhku lalu mulai menciumi leherku
Sekuat tenaga aku menahan jangan sampai aku menimbulkan suara laknat ketika Hendri makin gila bermain di leher dan dadaku
Tapi pertahananku jebol ketika Hendri berhasil membuatku polos dan bermain di bagian intiku
Suara laknat yang sejak tadi aku tahan akhirnya meluncur lancar dari mulutku
Dan Hendri yang mendengar suara dari bibir Linda tersenyum puas dan makin berani menjalar kemana-mana
Aku sudah bergerak liar dan tak memperdulikan bagaimana keadaanku kini. Aku terus mengerang dan menarik apa saja yang bisa aku gapai dengan kedua tanganku, bahkan aku sampai menjambak rambut Hendri ketika dia kian berani menjelajahi tubuhku
Mataku telah sayu menatap kearah mata Hendri yang menatapku dengan nafsu dan nafas yang memburu
"Benar kamu siap?"
Aku diam dan memejamkan mataku karena malu. Hendri tersenyum menyeringai ketika dilihatnya Linda menahan malu
Lalu dia membungkuk dan kembali melahap bibir tipis ku, dan kembalilah dibuatnya tubuhku bergerak tak karuan hingga akhirnya aku menjerit tertahan ketika bagian intiku dihujam sesuatu yang keras
Aku mengalungkan kedua tanganku di leher Hendri yang saat ini mulai bergerak liar di atas tubuhku, lenguhan dan rintihan kecil dari masing-masing mulut kami memenuhi ruangan ini
Aku tak hanya menjambak rambut Hendri aku bahkan mencengkeram pundaknya ketika kurasakan aku akan lepas kendali
Tubuhku dan ranjang sudah tak karuan lagi bagaimana bentuknya ketika guncangan di atas tubuhku kian terasa makin kencang
Aku yang merem melek hanya melihat bagaimana Hendri makin seperti orang kesetanan ketika dia akan sampai dipuncak
Teriakan tertahan dari mulutnya mengakhiri guncangan yang mungkin nyaris satu jam terjadi di atas ranjang ini
Dengan nafas terengah-engah Hendri membuang tubuhnya kesamping ku dan kembali menarik kepalaku, mencium dalam keningku yang basah oleh keringat
Kurasakan berkali-kali Hendri mencium keningku, dan aku yang merasa sangat kelelahan hanya memejamkan mataku ketika dia terus saja menciumi keningku
Dan aku sudah tak sadar kapan Hendri menyelimuti tubuh polos ku, karena aku sudah tertidur dalam dekapannya
...----------------...
Aku membuka mataku dengan kaget ketika kurasakan ada sesuatu yang bergerak di dadaku
Kulihat Hendri telah merangkak di atas tubuhku dan saat ini sedang bermain di dadaku
Hendri mengangkat wajahnya yang saat ini sedang melahap boba coklat cream ketika mendengar suara rintihan dari bibirku
"Aku ingin lagi" ucap Hendri ke arahku
Aku tak menjawab melainkan kembali menahan suara laknat yang telah siap keluar dari bibirku
Dan sama seperti tadi, suara itu akhirnya meluncur lancar ketika kembali Hendri mengguncang kuat tubuhku dengan liarnya
Aku yang mengerang dan menarik rambutnya tak berhasil menghentikan aksi brutalnya
Hingga akhirnya aku hanya bisa mengerang dan merintih dibawah kungkungannya yang terus liar bermain
Entah ini sudah menit ke berapa Hendri bergerak di atas tubuhku, dan masih juga belum ada tanda-tanda dia bakal mengakhiri permainan panas ini.
Dan aku yang telah hilang akal hanya mampu mengerang menikmati setiap aksi gilanya
"Hendri.... Hen...." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku selebihnya aku telah bergumam tak jelas
Dan Hendri yang mendengar Linda menyebut namanya dengan merem melek kian bersemangat memacu kecepatan
Hingga suara kokok ayam dari kejauhan terdengar lamat-lamat oleh telingaku, tapi permainan panas kami masih terus berlanjut dan seakan tiada henti
Baik aku atau Hendri sudah tidak sadar dengan posisi kami sebelumnya, yang ada dalam otak kami adalah kami melakukan hubungan ini sah sebagai suami istri bukan hubungan terlarang antara ipar
Jeritan tertahan yang keluar dari mulut Hendri dan ******* kasarnya pada bibirku mengakhiri permainan panjang kami di ronde kedua ini
Kembali Hendri melakukan seperti yang tadi dia lakukan padaku, menarik kepalaku, mencium keningku dengan dalam dengan nafas tersengal dan memelukku erat hingga akhirnya kami kembali nyenyak dalam keadaan polos yang hanya ditutupi selimut