Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Ditinggal Lagi


Setelah dokter pergi aku menatap takut-takut kearah Hendri dan tiga anak buahnya


Lalu aku turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi


Di dalam kamar mandi aku bercermin dan melihat pantulan wajahku yang terlihat agak biru keunguan terlebih di bagian kening dan rahangku


Hendri hanya menatap kepergianku tanpa berkomentar, dan aku tak menghiraukan tatapannya


Aku membasuh mukaku lalu mengambil sabun khusus wajah dan mengusapkan pelan ke wajahku. Lalu aku menghembus kuat hidungku agar sisa darah yang menggumpal keluar semua


Setelah itu aku keluar dari dalam kamar mandi, dan memasang wajah masam pada Hendri dan anak buahnya


"Apa dia sudah makan?"


Ketiga anak buah Hendri menggeleng, kulihat Hendri menempelkan hp ke telinganya


"Bawa makanan ke kamar saya!"


Lalu Hendri berjalan mendekat ke arahku, aku yang duduk menarik kakiku menjauh darinya yang duduk di dekat kakiku


"Masih sakit?"


Aku diam tak menjawab, lalu Hendri menoleh ke arahku yang menunduk menghindari tatapan tajamnya


"Aku tanya masih sakit tidak??!" bentaknya


Aku menarik nafas panjang mendengar bentakannya lalu memandangnya dengan cemberut


"Luka ini tak sebanding dengan rasa khawatir aku terhadap keselamatan ketiga anakku"


Hendri melengos mendengar jawabanku dan kulihat jika wajahnya kembali dingin


"Apa alasan kamu ingin kabur dariku?"


Aku tak menjawab, melainkan menarik nafas panjang


"Jawab Lin, aku benci apabila pertanyaan ku tidak dijawab"


Aku yang masih takut dengan perlakuan kasarnya haya menundukkan kepala


"Aku rindu dengan ketiga anakku" jawabku lirih


Hendri masih dengan wajah datarnya hanya melirik ke arahku


Dari arah pintu terdengar ketukan dan dua orang pelayan masuk dengan mendorong meja troli


"Kalian ambil satu meja, dan makanlah di sana!" ucap Hendri pada ketiga anak buahnya yang segera berjalan menarik satu meja troli


Sedangkan satu pelayan lagi mendorong troli kearah kami


Hendri masih dengan wajah tanpa ekspresi mengeluarkan dompetnya dan memberikan tip pada pelayan yang segera berlalu setelah tugasnya selesai


"Cepat makan, lalu tidur, dan jangan pernah berpikir untuk kabur lagi dari sini"


Aku menurut dan segera mengambil satu piring untukku, dan mulai menyuapkan nasi kedalam mulutku dengan pelan


Hendri bergeming dan tak menoleh sedikitpun ke arahku. Dan dia segera beranjak dari duduknya ketika hpnya berdering


"Bagaimana jam berapa penerbangan selanjutnya?"


"Dua jam lagi bos"


"Oke, saya on the way sekarang"


Lalu Hendri berjalan masuk kedalam kamar mandi dan keluar dengan wajah basah


Dapat kulihat rambut gondrongnya sedikit berantakan, dan dia mengelap wajahnya dengan handuk yang ada di pinggir kursi


Tanpa berkata apapun, Hendri langsung mendekati ketiga anak buahnya yang sedang makan


"Kalian jaga wanita itu. Jika sekali lagi dia mencoba kabur kalian segera telepon saya"


Ketiga anak buah Hendri mengangguk


"Kalian bawa makanan kalian keluar, biarkan dia sendiri, jangan ada yang coba-coba berani mendekatinya jika masih sayang dengan nyawa kalian"


Lagi ketiga anak buahnya itu mengangguk. Dan aku yang sedang makan hanya melirik sesekali


Setelah itu Hendri dan ketiga anak buahnya keluar. Dan kudengar jika pintu dikunci dari luar


Aku menarik nafas panjang ketika Hendri dan ketiga anak buah tak ada di dalam kamar ini.


Dengan segera aku mendorong meja troli menjauh dariku dan langsung menangis sejadi-jadinya di dalam bekapan bantal


...----------------...


Marko berdiri ketika dilihatnya Hendri berjalan kearahnya


"Ready?"


Marko mengangguk, lalu keduanya masuk kedalam waiting room menunggu pengumuman penerbangan mereka yang hanya tinggal beberapa menit lagi


Dan benar saja, tak lama kemudian pengumuman penerbangan menuju kota B akan segera take off, seluruh penumpang diperintahkan bersiap


Dengan santai Hendri berjalan masuk kedalam landasan disusul Marko di belakangnya.


Setelah mendapatkan kursi berdasarkan nomor tiket, keduanya duduk


Dan akhirnya dua jam berikutnya mereka berdua sudah sampai di bandara kota B, dan sama seperti tiga hari yang lalu supir pribadi Hendri telah menunggu di luar bandara


Sama seperti Marko, supir pribadi Hendri juga tak berani bertanya


Sampai di villa Hendri segera masuk dan langsung menuju meja makan. Asisten rumah tangga segera dengan sigap menyiapkan makanan untuk Hendri


Marko yang masuk kedalam villa hanya menoleh sekilas kearah bosnya yang makan dengan lahap.


Hendri yang tahu jika Marko memperhatikannya menghentikan kunyahannya dan menoleh kearah Marko


"Saya lupa mengajakmu makan, ayo sini kita sama-sama makan"


Marko tersenyum sekilas dan hanya mengangguk sopan


"Saya sudah tadi bos"


"Yakin?"


Kembali Marko mengangguk dan pamit masuk kedalam kamarnya


...----------------...


Dan aku yang sepeninggal Hendri terus saja menangis sampai sekarang.


Pikiran buruk memenuhi kepalaku tentang ketiga anakku. Aku tadi tidak menanyakan dimana Hendri menyuruh anak buahnya menyekap ketiga anakku


Dadaku kembali berdenyut hebat ketika teriakan ketiga anakku terdengar kembali


Mataku yang sembab nanar memandang seluruh ruangan, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan


Aku harus bertanya dengan Hendri dimana dia menyekap anakku, iya, aku harus bertanya padanya


Dengan segera aku turun dari ranjang dan mengambil hp, menghubungi Hendri. Tapi berkali-kali aku menghubungi nomornya tak aktif


Khawatir kian memenuhi dadaku, terlebih ketika kuingat tadi dia pergi terburu


Kembali aku menangis dengan khawatir dan mencoba mendial nomor Hendri lagi


Masih saja tak aktif, dengan kesal aku melempar hp keatas ranjang. Terus berdoa dengan khawatir untuk keselamatan ketiga anakku sambil berurai air mata


Hendri yang selesai makan tengah malam langsung naik ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya setelah sebelumnya dia melepaskan pakaiannya


Hendri tertegun ketika disadarinya jika dijari telunjuknya tak ada cincin warisan dari kakek buyutnya


Segera Hendri berdiri dan berjongkok di lantai berharap jika cincin itu terjatuh di lantai, tak ada


Lalu Hendri turun, berjalan kearah meja makan, dan mencari di sana. Tapi lagi-lagi cincin tersebut tak diketemukannya juga


Hendri kembali naik keatas dan mengangkat pakaian yang diletakkannya di lantai, mencari siapa tahu ada di sana


Kekhawatiran mulai menyelimutinya. Cincin itu bukan cincin biasa, itu adalah cincin turun temurun yang diwariskan padanya oleh kakek buyutnya


Bahkan ayah dan kakek Hendri dulu saja tidak dipercaya untuk memakai cincin tersebut karena dulu kakek buyutnya tidak percaya pada kemampuan kakek dan ayahnya


Hendri ingat sekali, cincin itu diwariskan padanya ketika kakek buyutnya sakit keras


Kata kakek buyutnya cincin itu bukan sembarang cincin, cincin itu memiliki sejarah yang panjang


Kakek buyutnya harus melewati begitu banyak rintangan untuk mendapatkan cincin itu


Kata kakek buyutnya, cincin itu akan membawa keberkahan bagi yang memakainya jika dipergunakan untuk kebaikan dan akan mencelakai yang punya jika dipakai kejalan yang tak benar


Dan selama ini Hendri tak menganggap cincin itu spesial, dia hanya menganggap cincin itu cincin biasa hadiah berharga dari kakek buyutnya


Karena dari sekian banyak anak lelaki dan cucu lelaki yang dimiliki kakek buyutnya, dirinyalah yang dipilih kakek buyutnya untuk mewarisi cincin itu


Hendri kian kebingungan ketika tak juga menemukan cincin itu. Hingga akhirnya dia mengambil hp yang terletak di meja dan mengaktifkan data selularnya


Sejak di bandara hpnya dibuatnya mode pesawat dan dia lupa mengubahnya ke mode normal


Ketika mode selular aktif, begitu banyak notifikasi panggilan terabaikan dari Linda


Dengan khawatir Hendri segera mendial nomor Linda. Dia khawatir jika ketiga anak buahnya berbuat kurang ajar pada wanita itu


Dan aku yang sudah terpejam sontak membuka mata ketika hp ku berdering


Secepat kilat aku mengangkat panggilan dari Hendri


"Kenapa nelepon tadi?"


Aku menahan kesal mendengar nada suara Hendri yang masih dingin


"Aku mau bertanya dimana kau menyuruh anak buahmu menyekap ketiga anakku?"


Hendri menjauhkan hp dari telinganya dan menatap tak percaya pada layar hp


"Apa?"


"Dimana kau menyuruh anak buahmu menyekap ketiga anakku??!" teriakku


Hendri tersenyum menang mendengar suara Linda yang berteriak panik


"Tolong katakan padaku Hen, dimana??!"


Hendri tertawa menyeringai yang membuat dadaku kian bergemuruh


"Kau tak perlu tahu dimana keberadaan mereka. Karena seperti perjanjian yang telah kau tanda tangani, mereka akan aman jika kau menuruti kemauanku!"


Aku mulai terisak mendengar jawaban santai Hendri


"Aku mohon Hen jangan sakiti mereka"


Kembali kudengar Hendri tertawa sinis


"Aku bersumpah aku tidak akan kabur lagi, tapi tolong kasih tahu aku dimana mereka"


Kembali kudengar Hendri tertawa


"Mereka akan aman selagi kau bisa diajak kompromi, tapi sekali kau mencoba kabur, mereka akan mati"


Lalu Hendri memutus panggilan. Dan aku yang telah siap menjawab hanya memukul kasur dengan kesal