Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
7 : Jadilah Wanitaku


Waktu sudah makin larut, dan nyonya Nani pun sudah siuman meski wanita tua itu belum boleh keluar dari ruang ICU. Namun, sepinya kabar dari Liam membuat Indah belum baik-baik saja.


Indah masih menunggu kabar dari Liam karena dari siang tadi, Liam yang pergi dengan sangat emosional, belum juga memberinya kabar. Pesan yang Indah kirimkan pun belum mendapat balasan. Karena jangankan dibalas, dibaca saja, pesan yang Indah kirim ke Liam belum ada tanda-tanda. Membuat Indah ragu untuk kembali mengirimi pesan. Tak semata takut mengganggu, tetapi juga karena Indah sadar, mereka memang asing. Selain mereka yang memang atasan dan bawahan. Indah sadar diri.


“Mbak Indah,” ucap suster Surti hati-hati sembari keluar dari ruang ICU nyonya Nani.


Indah yang masih duduk menunggu di tempat duduk tunggu di sana, menatap suster Surti. Wanita yang masih memakai seragam khusus semacam APBD warna hijau tua itu berjalan menghampirinya. Di lorong kebersamaan mereka, suasana benar-benar sepi karena memang hanya ada mereka berdua. Terlebih, selain di sana merupakan keberadaan ruang ICU, kini sudah nyaris pukul sebelas malam.


“Kenapa, Sus?” tanya Indah dengan suara lirih karena memang hanya suara begitu yang bisa ia hasilkan. Ia sudah berdiri bahkan menghampiri suster dari nyonya Nani itu.


“Ibu tanya kabar Mas Liam. Mbak Indah diminta hubungi Mas Liam. Tolong banget yah, Mbak.” Suster Surti benar-benar memohon.


Tentu saja Indah tak mungkin menolak. Hingga sekitar empat puluh menit kemudian, ia sudah berada di salah satu club malam. Sebab telepon yang ia lakukan kepada Liam, malah diangkat oleh seorang pria selaku petugas dari club malam. Pria tersebut mengabarkan kepada Indah bahwa Liam selaku pemilik ponsel, sudah mabuk parah nyaris teler.


“Aku enggak mabuk, Ndah. Aku masih bisa mengenali kamu, dan aku tahu di mana aku menyimpan uangku. Uangku juga banyak di bank meski memang enggak sebanyak uang Fello.”


Liam tak hentinya mengoceh di tengah kenyataan pria itu yang juga tak mau diam. Membuat Indah yang tengah melakukan pembayaran untuk semua minuman yang Liam minum, kewalahan. Indah membayarnya menggunakan uang tabungannya yang langsung terkuras habis. Tak semata karena minuman yang Liam habiskan berharga fantastis, tapi juga Indah yang tak mungkin memakai kartu kredit Liam lantaran ia tak tahu PIN-nya. Hanya uang tunai milik Liam yang Indah pakai dan itu pun karena uang tabungan Indah masih kurang untuk membayarnya.


Namun baru saja, Liam mendekap erat tubuh Indah dari belakang. Pria itu merintih kesakitan. Suaranya sangat jelas karena Liam membenamkan kepalanya di pundak kanan Indah. Hingga aroma alkohol yan tercium begitu kuat dari mulut Liam, menyeruak dan sukses membuat perut Indah sangat mual.


“Terima kasih banyak,” lirih Indah setelah mendapat nota atas transaksi pembayarannya. Ia menyimpan nota tersebut ke dalam tasnya kemudian bersiap memapah Liam yang malah tertidur sambil memeluknya.


Susah payah Indah memapah tubuh Liam yang tentu saja dua kali lipat lebih besar darinya dan tentu saja lebih tinggi darinya. Tak mungkin membawa pria itu ke rumah sakit dan mengantarnya pada nyonya Nani, Indah tak memiliki pilihan lain selain membawa bosnya itu ke hotel. Kebetulan, Indah yang bisa menyetir, sengaja mengemudikan mobil Liam yang memang ada di tempat parkir. Satu hal yang Indah syukuri. Di tengah kenyataan Liam yang mabuk parah, dompet dan kunci mobil Liam masih aman. Juga, wanita-wanita yang sempat mengerumuni bahkan mencummbu Liam yang juga langsung mau bubar.


“Ini di mana?” lirih Liam ketika akhirnya mereka sampai di hotel dan Indah pun selesai melakukan pemesanan kamar. Lantaran Liam sudah seperti setengah sadar, Indah sengaja memesan air putih panas, lemon tea, dan juga teh manis ke kamar yang Indah pesankan untuk Liam.


Liam mencoba melepaskan diri dari Indah, tapi yang ada pria itu limbung hingga Indah buru-buru kembali memapahnya.


“Saya antar Bapak ke kamar!” lirih Indah.


Liam mengamati sekitar dan juga menengadah. “Ini bukan rumahku ... bukan rumah Fello juga.”


“Aku enggak mabuk, Ndah. Aku sadar, ... rasanya sesakit ini.” Liam bertutur lirih di tengah kenyataannya yang memeluk erat Indah. Dalam keadaan seperti sekarang, ia sungguh tak perlu memiliki alasan hanya untuk memeluk wanita itu. Mendadak ia merasa beruntung karena di saat terpuruk layaknya sekarang, ia bersama Indah yang sampai mengurusnya.


Indah memang mengompres wajah Liam menggunakan air hangat. Termasuk kedua tangan dan bahkan kaki Liam. Dalam diamnya, Indah yakin, ada masalah pelik yang tidak mungkin Liam bagi kepada orang lain hingga pria itu menjadi sangat hancur layaknya sekarang. Namun sepanjang kebersamaan mereka, Liam sudah menyebut nama Fello sebanyak dua kali.


“Nikah yuk, Ndah?”


Ucapan Liam barusan langsung mematahkan langkah Indah. Indah yang membawa baskom bekasnya mengompres Liam langsung membeku. Terdengar pria itu yang mendessah dan sangat menyakitkan. Indah sengaja abai karena yakin apa yang baru saja Liam katakan, masih bagian dari pengaruh alkohol yang pria itu konsumsi.


Melalui lirikannya, Indah mendapati Liam yang berangsur duduk. Liam menggunakan kedua tangannya untuk menekap wajah. Ketika Indah kembali, wanita itu menyuguhkan segelas air putih panas yang kini sudah tinggal hangat-hangat kuku.


Liam tak langsung menerima dan malah menatap dalam kedua mata Indah. “Aku butuh istri, yang bisa menghargai aku.”


Indah mengangguk-angguk. “Iya, Pak Liam minum dulu karena alkohol yang Pak Liam minum, sudah melukai tenggorokan Pak Liam.”


“Aku bukan bermaksud kurang ajar, Ndah. Aku serius. Jadilah wanitaku!” ucap Liam masih meyakinkan.


Sampai detik ini, Indah sama sekali tidak merasa takut kepada Liam walau Indah sadar, pria itu sedang mabuk. Liam sedang dalam pengaruh alkohol yang bisa saja membuat pria itu bertindak di luar kendali, meski dari beberapa saat lalu, Liam juga terkesan tidak sepenuhnya mabuk.


“Minum dulu,” lirih Indah masih menatap sendu kedua mata Liam. Indah merasa sangat kasihan kepada Liam karena dirinya juga pernah ada di posisi seperti Liam. Dirinya pernah menangis tiada henti, merasa sangat hancur dan juga merasa sendiri meski ia tak sampai melampiaskannya pada alkohol.


Demi menghargai Indah, Liam menerima air minum pemberian wanita cantik di hadapannya, meski yang ada, tangannya yang gemetaran dan mungkin efek alkohol yang ia konsumsi, kesulitan memegang gelasnya. Indah sampai membantunya. Wanita itu membantunya minum dengan sangat hati-hati.


Liam menghabiskan air minumnya, dan pria itu menahan sebelah pergelangan Indah ketika wanita itu akan pergi meninggalkannya membawa gelas yang isinya sudah Liam tuntaskan.


“Jadilah wanitaku. Menikahlah denganku, agar kamu tidak menganggapku kurang ajar,” pinta Liam.


Sekali lagi Indah terdiam. Membuatnya mulai menimang rasa, kenapa Liam kembali melakukannya? Atau mungkin sudah menjadi kebiasaan Liam di setiap pria itu mabuk? Atau malah Liam hanya sedang butuh pelampiasan? Namun baru saja, Liam bangkit kemudian mendekapnya dari belakang. Sungguh Liam melakukannya. Pria itu mengendus kuat kepala Indah kemudian turun ke leher Indah hingga wanita cantik itu mendadak senam jantung sekaligus panas dingin.