Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
39 : Akta Perceraian


“Wah ... kamu Indah yang sempat jadi sekretaris pak Liam, kan?” ucap seorang wanita cantik yang kebetulan mampir ke rumah makan milik orang tua Indah.


Wanita cantik yang masih berpakaian rapi khas ketika sedang di kantor itu tidak datang sendiri. Ia datang bersama sepasang paruh baya dan memanggilnya Kakak.


Indah yang kebetulan duduk di kursi sebelah kasir, langsung tersenyum canggung. Tak menyangka akan ada karyawan Amour Hotel yang datang ke rumah makan milik orang tuanya.


Tertatih, Indah yang jalannya belum lancar mendekat. Ia memang tidak begitu akrab dengan si wanita, tapi bukan berarti dia abai atau malah hanya sekadar senyum. Sengaja ia yang memang sedang bantu-bantu di sana, memperlakukan si wanita dengan spesial. Ia membawa nampan berikut tiga buku menu, ke ketiganya yang kebetulan duduk tak jauh dari meja kasir.


“Keluar dari Amour, kami kerja di sini?” tanya si Wanita bernama Kartika tersebut.


Indah yang sampai duduk di sana, berangsur menggeleng, menjelaskan bahwa itu merupakan rumah makan orang tuanya, sementara alasannya di sana memang sedang ikut bantu-bantu.


“Terus, kamu sendiri mau ke mana? Ada acara di sekitar sini, apa gimana?” tanya Indah dan sebisa mungkin bersikap hangat apalagi pelanggan memang harus ia perlakukan layaknya raja. Tentunya, ia juga akan mulai memperkenalkan penginapan sekaligus restonya. Sebab sebagai istri sekaligus rekan terbaik Liam, semacam membantu usaha suaminya sudah menjadi kewajibannya.


Kartika tak langsung menjawab dan malah tersipu. “Mau prewedding di sekitar sini.”


“Wahhh, selamat, ya! Jangan lupa undangannya!” ucap Indah antusias. Kesempatan itu pula yang ia gunakan untuk mempromosikan penginapannya walau jika dari segi persiapan, baru akan selesai sekitar dua bulan lagi. Mana tahu rezeki, ada yang tertarik. Andaipun bukan Kartika, bisa jadi wanita itu akan merekomendasikannya kepada pihak lain.


Indah berani bersaing karena penginapan dan juga restonya sengaja ia dan Liam rancang sebaik mungkin. Tak hanya konsep kedaerahan. Sebab di sana juga bisa menjadi konsep internasional disesuaikan dengan permintaan.


Kartika dan sepasang paruh baya yang wanita itu kenalkan kepada Indah sebagai orang tuanya, berangsur keluar. Mereka kompak melongok ke sebelah yang memang masih dalam tahap pembangunan akhir. Liam sengaja mengerahkan banyak pekerja demi bisa segera beroperasi, menyambut sekaligus memanjakan para pelanggan mereka.


“Ke belakangnya ada sungai dan curug. Air sungainya semata jernih banget. Aman buat jalan kaki. Jadi, sekitar curug ke anak sungainya ini beneran romantis. Cocok buat acara nikahan, lamaran, atau anniversary!” jelas Indah.


“Sweet banget, Ndah?” ucap Kartika yang langsung baper.


Indah makin bersemangat mempromosikan usaha barunya dan memang makin membuat Kartika antusias ketika ia menyebutkan itu milik Liam.


“Ini kan sebagiannya ada penginapan. Ini masih bisa menampung satu keluarga pengantin,” jelas Indah lagi. Tertatih ia melangkah memasuki area usahanya.


“Pakai sini saja, ini tiga bulan lagi beres, kan?” ucap ibu Ida, mamahnya Kartika.


“Tadi, Teh Indah bilang, ada curug kan? Nah, nanti Kakak sama suami, loncat dari curug, biar lebih romantis!” ucap pak Rozy, yang tak lain papahnya Kartika. Ucapannya barusan sukses melahirkan gelak tawa dalam kebersamaan mereka.


“Nanti semuanya bisa diatur, ya. Nanti aku kasih nomor hape aku,” ucap Indah. Mereka kembali ke rumah makan orang tuanya.


“Eh, omong-omong, pak Liam ke mana?” tanya Kartika kepo.


“Yang kata Kakak ganteng banget itu bukan, sih? CEO di Amour hotel itu, kan?” sergah ibu Ida.


Indah yang duduk di hadapan keluarga bahagia itu langsung tersipu. Sekuat itu memang pesona suaminya, membuatnya refleks mengelus perutnya yang sudah dihiasi bulatan mungil.


“Oh iya, kaki kamu kenapa? Aku perhatikan kaki kamu bermasalah? Itu bukan karena ibu Fello, kan? Soalnya satu minggu lalu, ibu Fello datang teriak-teriak mirip orang kesurupan gitu. Dia nyari-nyari kamu. Duh, baru kepikiran. Semoga sih itu bukan karena ibu Fello, ya.” Kartika serius khawatir.


“Kamu baru kerja sebentar, sih. Makanya kamu belum tahi kelakuan ibu Fello. Ke Pak Liam saja, ibu Fello semena-mena banget. Tapi kabarnya, ya. Ini sih kabarnya, ... kabarnya mereka sudah bercerai. Pak Liam yang menceraikan ibu Fello dan kayaknya sih, efek enggak tahan tiap hari ditindas. Ibaratnya, berarti tiap hari pak Liam diKDRT, kan?” Kartika terus nyerocos, tapi ia melakukannya dengan berbisik-bisik sambil mencondongkan wajahnya ke wajah Indah yang juga menyimak dengan serius.


“Eh, pak Liam ada cerita apa-apa enggak? Kalian kan masih satu kerjaan, terus itu ibu Fello juga enggak ke sini, ngamuk-ngamuk kayak pas di Amour? Aku khawatir itu kaki kamu jangan-jangan karena dia. Dia kan cemburuan banget. Lihat kamu satu ruangan sama pak Liam saja, bisa digeprek kamu!”


Indah tidak berniat menceritakan status hubungannya dengan Liam. Ia hanya berbicara soal pekerjaan saja karena memang masih ingin jadi istri rahasia seorang Liam. Indah merasa, waktunya belum tepat. Ia masih akan menunggu waktu yang tepat.


Ketika akhirnya Liam datang pun, Indah sengaja memberi kode agar pria yang memang sudah menjadi suaminya itu, tak mengungkap hubungan mereka. Liam memang telanjur duduk lesehan di sebelah Indah, tapi pria itu langsung menjaga sikapnya. Walau sesekali sembari mengobrol, Liam akan mengelus perut Indah. Kehamilan Indah sudah masuk bulan ke empat. Kabarnya, sebentar lagi janin di sana akan mulai berinteraksi dengan intens. Semacam pergerakan janin, Liam akan segera merasakannya dan pria itu sungguh tidak sabar.


“Serius, pak Liam tetap keren walau sudah enggak di Amour!” puji Kartika benar-benar gugup lantaran sampai satu meja dengan Liam. Ia duduk persis di hadapan Liam.


Bukannya cemburu, Indah malah menahan tawanya. Mau cemburu gimana, sih? Suamiku memang sekeren dan setampan itu. Yang penting kan suamiku enggak balas, atau sekadar PHP. Dan tentunya, yang penting wanitanya juga enggak kegatelan karena aku enggak punya bedak gatel. Adanya bubuk cabe sama lada, batin Indah. Ia meraih sebelah tangan Liam yang masih mengelus-elus perutnya. Tak lama kemudian, mereka bertatapan.


“Ndah, kamu enggak gugup duduk sebelahan gitu? Lha, Pak Liam sudah ada rencana buat cari istri lagi, belum? Duh gimana yah, Pak. Aku sudah mau prewedding gini. Tapi kalau Pak Liam serius, bisa diurus sih!” ucap Kartika sampai sesak napas saking gugupnya. Ia sampai dijewer oleh pak Rozy.


Selain mengingatkan bahwa Kartika sudah punya tunangan, pak Rozy juga meminta Kartika untuk minta maaf kepada Liam karena bagi pria botak tersebut, apa yang Kartika lakukan, sangat tidak sopan.


***


“Hampir seharian ini, Mas dari mana?” tanya Indah ketika akhirnya mereka sampai di dalam rumah orang tua Indah.


Kartika dan orang tuanya sudah pergi dan langsung pergi ke lokasi prewedding. Namun, mereka berjanji akan mampir dan membawa rombongan foto prewedding untuk makan malam di sana mengingat lokasinya memang tidak begitu jauh.


Liam berangsur menuntun Indah. “Kita bahas di kamar.” Ia sangat bersemangat.


Setelah sama-sama duduk di pinggir tempat tidur, Liam mengeluarkan sebuah map mika dari tas kerja warna hitam yang turut ia taruh di hadapan mereka. Map tersebut berisi akta perceraian.


“Akhirnya ... setelah drama yang berjilid-jilid. Aku juga sudah daftarin pernikahan kita. Harusnya enggak sampai satu minggu, buku nikah kita jadi,” jelas Liam. Akta itulah yang membuatnya sangat bersemangat meski nyaris seharian ini, ia sibuk sendiri dan tampaknya sudah membuat sang istri khawatir.


Indah menatap lekat akta perceraian milik Liam yang ia pegang menggunakan kedua tangan. Di lain sisi, ia sangat bahagia karena akta tersebut pula yang akan membuat hubungannya dan Liam, terang-benderang. Namun di sisi yang lain lagi, ia menjadi kasihan kepada Fello yang jika ia lihat dari cerita yang Kartika ceritakan, malah menjadi kurang waras. Indah berpikir, obsesi Fello kepada Liam, membuat wanita itu hilang akal.


Padahal andai Fello tidak posesif atau malah sibuk memperlakukan Liam bak buddak dan parahnya Fello juga sibuk mengungkit jasa-jasanya kepada Liam, harusnya Fello menjadi wanita paling bahagia. Hal yang saat ini Indah rasakan setelah ia menjadi istri Liam. Karena meski sampai saat ini mereka masih kerap merahasiakan hubungan mereka khususnya dari mereka yang menjadi bagian Amour Hotel, Liam tetap memperlakukan Indah penuh perhatian, spesial. Liam begitu tulus menyayangi Indah. Dua bulan terakhir saja, Liam yang mengurus Indah dan kini Indah sudah mulai bisa berjalan lagi, walau memang masih tertatih.


“Kenapa kamu terlihat tidak bahagia?” tanya Liam yang memang tidak menemukan kebahagiaan dari tanggapan Indah.


“Aku bingung ...,” balas Indah, yang sampai tidak bisa berkata-kata.


“Jangan pernah berpikir kamu merrebutku dari Fello karena akulah yang memilihmu. Aku yang memilih pergi dari Fello karena dia terus menyeranggku bahkan mennyeranng mamahku. Kamu jangan pernah berpikir bahwa kamu orang ketiga dalam hubungan kami. Anggapan itu sama sekali tidak benar,” jelas Liam meyakinkan. “Karena meski aku sudah langsung tertarik kepadamu di awal pertemuan kita, aku memulai hubungan kita setelah aku mengakhiri hubunganku dan Fello.”


Indah berangsur mengangguk-angguk. Tampaknya, ia memang harus mulai menyiapkan mental baja untuk menyambut saatnya nanti mereka mengabarkan hubungan mereka kepada semuanya. Sebab anggapan semacam Indah merupakan pihak ketiga dalam hubungan Liam dan Fello, pasti akan ada. Mereka pasti akan menganggap Indah sebagai pelakor karena hubungan mereka tak mungkin hanya kebetulan.