
“Selamat ulang tahun, Liam sayang!” ucap Fello sambil mengulurkan tegas tangan kanannya yang masih memakai cincin pernikahannya dan Liam. Cincin berlian berhias batu permata agak besar warna merah delima tersebut masih tersemat cantik di jari manis tangan kanan Fello.
Indah menatap tak percaya wajah suaminya. Kedua tangannya masih menahan pundak Liam.
Mendapati tanggapan berlebihan dari Indah yang tampak sangat terkejut, menegaskan wanita itu tak tahu-menahu, Fello merasa sangat menang. Ia tersenyum puas.
“A-aku ....” Indah mendadak tidak bisa berkata-kata karena ia sungguh lupa dan kemang belum tahu ulang tahun Liam.
“Sepertinya aku memang orang pertama yang mengucapkannya kepadamu karena dari kemarin, aku sudah mengucapkannya!” sergah Fello bangga.
“Aku tidak pernah menjadikan hari ulang tahunku sebagai perlombaan memberikan ucapan apalagi perhatian. Sebab di luar hari ulang tahun pun, sekarang aku sudah tidak pernah kekurangan perhatian apalagi kasih sayang,” ucap Liam.
Ibu Fello semangat empat lima banget, dan suamiku selalu berusaha menjadikanku yang spesial. Lagian, kenapa juga ibu Fello terus mengejar Liam, padahal jelas selain Liam sudah sibuk menolak, ibu Fello juga tahu aku ini istri Liam? batin Indah yang lama-lama menjadi kesal juga kepada Fello. Di depannya, Fello langsung memasang wajah lantaran balasan Liam.
Tanpa peduli pada Fello dan sungguh murni wujud dari rasa sayangnya kepada Liam, Indah membingkai kedua sisi wajah Liam, membuat suaminya itu menatapnya. “Aku beneran baru tahu kalau hari ini ulang tahun kamu. Pantas dari kemarin aku pengin banget masakin kamu misoa sup. Soalnya di keluargaku sudah terbiasa wajib makan mi, soun, atau semacamnya di setiap ada yang ulang tahun.”
“Itu yang dinamakan kekuatan hati,” ucap Liam yang menjadi tersenyum hangat. Di hadapannya, Indah langsung mengangguk-angguk. Yang membuatnya bahagia, Indah tak segan menciumnya meski di saja ada Fello.
“Selamat ulang tahun Mas Liam, ... selamat ulang tahun suamiku, ... Selamat ulang tahun Sayangku. Selamat ulang tahun calon papah dari anak-anakku. Selamat tahun CEO-ku. Bos terbaikku!” Indah terus bertutur lembut dan kali ini sambil mendekap kepala Liam menggunakan kedua tangan. Selain itu, bibirnya juga masih menempel di kening Liam yang terus menengadah hanya untuk menatapnya. Senyum bahagia terpancar nyata dari wajah Liam. Kedua mata biru itu mulai basah.
Fello benar-benar muak dengan kebersamaan sekarang.
“Kamu mau hadiah apa?” tanya Liam yang sudah balas mendekap punggung Indah.
Indah terkesiap dan perlahan menahan tawanya. “Mas yang ulang tahun, masa iya aku yang malah dikasih hadiah?”
“Karena kamu yang udah bikin aku bahagia, makanya aku ingin kasih kamu hadiah. Semau kamu!” balas Liam yang tentu saja makin membuat seorang Fello muak.
Fello berdeham, tapi kedua sejoli di hadapannya menanggapinya dengan sangat biasa. Keduanya terkesan tak peduli kepadanya layaknya ia yang terus sibuk menjadi bagian dari keduanya tanpa peduli apakah mereka mau atau tidak.
“Nanti malam kamu wajib datang karena kamu yang punya acara. Perusahaan khususnya aku, sengaja menyiapkan pesta spesial untuk merayakan ulang tahun kamu yang ke tiga puluh satu.” Fello mendengkus dan melirik sinis Indah.
“Kalaupun aku ke sana, aku hanya bisa sebentar karena aku ingin menghabiskan hari bersejarahku ini dengan caraku. Selebihnya, biarkan karyawan lain bersenang-senang di sana. Lihat, betapa banyak pekerjaan yang harus aku urus. Kabar baiknya, dari tumpukan dokumen ini, aku menemukan dua lembar jebakan!” tegas Liam masih bertutur lirih, menatap Fello penuh ketegasan.
Fello berkaca-kaca menatap Liam. “Aku benar-benar kesepian!”
“Tikus got sepertiku tidak cocok untuk wanita berada seperti kamu, Ibu Fello. Tentunya, tolong hargai istriku!” tegas Liam.
Balasan Liam kepada Fello barusan dan terdengar sangat menyakitkan, membuat Indah makin yakin, Fello merupakan wanita yang telah membuat Liam sangat menderita. Indah refleks mendekap Liam, membuat kedua tangannya terkalung di leher suaminya itu yang perlahan dijauhi oleh Fello.
Fello pergi dengan air mata yang berlinang. Tak lama setelah itu, Indah sengaja menyuguhkan kopi buatannya kepada sang suami.
Liam menerima kopinya, ia meminumnya, tapi mengembalikannya kepada Indah untuk mencoba kopi tersebut.
Setelah mencoba kopinya, Indah makin bingung. “Pas, kan?”
Liam yang menjadi menahan tawanya berkata, “Iya ... pas!”
Indah langsung mengembuskan napas lega kemudian tersenyum. “Ya sudah, ayo semangat kerjanya biar cepat beres.”
“Kamu beneran mau kasih hadiah ke aku?” tanya Liam. Indah yang masih di samping belakangnya langsung mengangguk.
“Kamu mau minta apa?” tanya Indah.
Menahan senyum, Liam yang pura-pura berpikir pun berkata, “Bermalam di tenda, ... di sekitar puncak.”
“Semacam, camping ...?” Indah memastikan, dan sang suami langsung mengangguk-angguk.
“Ya iya, masa iya di tempat terbuka asal gelar tenda?” ucap Liam yang kemudian menahan tawanya. “Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?”
Indah tak hanya menahan tawanya karena ia juga menjadi tersipu. “Ya sudah, sekarang kamu semangat. Kalau yang semacam camping, di dekat warung juga ada. Enak tempatnya.”
“Kamu pernah ke sana?” sergah Liam panik.
“Hanya bermalam biasa dan itu bareng teman, bukan bermalam sensasi beda seperti yang kamu maksud. Lagian ngapain juga kamu amnesia, padahal jelas-jelas, kamu yang pertama. Kamu sendiri yang berterima kasih karena kamu menjadi orang yang memiliki keperawananku!” Kali ini Indah mengomel tapi terdakwanya hanya sibuk menahan tawa, memasang wajah tak berdosa.
***
Malamnya, di tempat karaoke yang dimaksud, Indah yang satu mobil dengan Liam karena mereka pulang paling terakhir dari karyawan lain, langsung bergabung dengan karyawan lainnya. Sementara Liam si pemilik pesta, segera menghampiri orang-orang penting dan kebanyakan merupakan pria tua. Di kebersamaan yang Liam datangi, yang muda hanya Liam dan juga Fello selaku satu-satunya wanita di sana.
Walau tampak lemah, sebenarnya Indah wanita yang pintar sekaligus cerdik. Karena sekadar melalui lirikan saja, kini Indah bisa melihat bahwa di depan kebersamaan yang berisi petinggi penting di perusahaan ia bernaung, Fello yang gaya berpakaiannya masih mirip dengannya, berusaha memeluk Liam. Wanita itu terus menempel kepada Liam walau Liam menolak. Tampaknya, Fello memang sudah mabuk. Orang-orang di depan sana juga tampak membiarkan Fello berulah. Termasuk karyawan di sekitar Indah, mereka yang juga tak segan menenggak alkoholl meski di meja mereka tak sebanyak di meja kebersamaan para petinggi perusahaan, tak kalah bersenang-senang.
Asap rokok yang makin pekat karena hampir semua yang di sana merokok tanpa terkecuali para karyawati termasuk itu Fello, mulai membuat Indah tidak nyaman. Indah mulai batuk-batuk terlebih aroma menusuk dari setiap alkohool di sana juga sudah menyiksa pernapasan Indah yang tidak terbiasa.
Degup kencang suara musik ditambah suara sumbang dari mereka yang sedang berkaraoke di bawah pengaruh alkoholl makin membuat suasana kacau bagi Indah. Terlebih kini, seorang laki-laki sebaya Liam dan awalnya sedang teriak-teriak melantunkan salah satu lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi bernama Tulus, menghampiri Indah kemudian menariknya ke tengah-tengah kerumunan.
Liam yang baru bisa duduk sambil terus menyingkirkan Fello agar menjauh darinya, sengaja menoleh ke belakang. Di sofa tak jauh dari lorong masuk tempat ia meninggalkan Indah untuk duduk. Namun, di sana hanya ada tas Indah tanpa pemiliknya. Hati Liam sudah langsung bergejolak lantaran kedua matanya justru memergoki sang istri bersama laki-laki lain. Indah sudah berusaha melepaskan cekalan tangan si pria tapi Liam sadar, tenaga Indah tak seberapa.
Setelah tatapan Indah yang tampak sangat frustrasi bertemu dengan tatapan Liam, Liam tak memiliki pilihan lain selain mendorong paksa Fello hingga Fello terjatuh menimpa pak Wijaya. Orang-orang di sekitar sana yang belum mengetahui hubungan Fello dan Liam, langsung tercengang sekaligus syok. Karena biasanya, Liam sangat lembut kepada Fello. Namun sejak kedatangannya, Liam sudah sibuk menolak Fello. Malahan kini, Liam menghampiri sang sekretaris, Indah Gayatri yang sedang disandera oleh karyawan di belakang sana.
Semuanya langsung bertanya-tanya, kenapa seorang Liam yang dikenal sangat romantis sekaligus hanya mencintai Fello, malah lebih peduli kepada sekretaris barunya yang memang masih menjadi buah bibir karena kecantikannya?