
Di balik selimutnya, Fello tak hentinya berderai air mata atas kesibukannya memandangi status WA Liam. Ada kue ulang tahun berhias lilin merah angka 31. Di kue ulang tahun cokelat tersebut tertulis, “Selamat Ulang Tahun Suamiku Sayang.” Namun tentu saja, itu bukan darinya. Tentu saja itu dari Indah Gayatri, wanita yang menjadi kesayangan Liam.
Semua kenyataan tersebut dikuatkan dengan status WA Liam yang selanjutnya. Status WA yang juga sudah berulang kali Fello lihat ulang. Itu foto kebersamaan Liam dengan sang mamah maupun Indah. Ketiganya memamerkan kebahagiaan di depan kue ulang tahun berhias lilin merah angka 31. Namun khusus untuk wajah Indah, Liam menutupinya menggunakan stiker hati. Liam seolah masih berusaha menutupi jati diri Indah.
Rasanya sesakit ini, ya Tuhan. Rasanya ingin balas dendam, menghancurkan mereka sehancur-hancurnya, batin Fello. Tangan kirinya yang tidak memegang ponsel, meremas dadanya sangat kuat. Andai Liam lalai dan menikahi Indah tanpa terlebih dulu melayangkan surat gugatan perceraian, sudah aku ikat mereka menggunakan pasal perselingkuhan!
Fello benar-benar tak menyangka, tanpa Liam, dirinya tak ubahnya burung yang kehilangan kedua sayapnya. Karena pada kenyataannya, Liam memang seberpengaruh itu. Liam pemilik sebagian kehidupan bahkan nyawanya. Karena seberapa pun Fello cemburu sekaligus kesal melihat kemesraan pria itu dengan Indah, pada kenyataannya ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Padahal, Fello memiliki semuanya. Fello memiliki banyak uang, kedudukan, bahkan fisik dan kecantikannya yang terus dipermak juga membuatnya berpenampilan di atas rata-rata. Namun, semua itu sungguh tidak mampu membuat Liam kembali padanya apalagi tunduk seperti sebelumnya.
Pak Wijaya yang baru datang, menatap ranjang mewah Fello dengan gamang. Putri semata wayangnya masih menutup rapat tubuhnya menggunakan selimut. Isak pilu terdengar jelas dari sana, membuat hatinya seolah diremas dengan kejji. Rasanya sungguh menyakitkan, sangat kesal dan memang tidak terima, hanya karena seorang Liam yang selama ini ia anggap tak lebih dari boneka perah, kehidupan putrinya hancur.
Mereka sungguh memiliki semuanya, dan bahkan pak Wijaya sudah sampai menyodorkan beberapa calon pengganti Liam. Tak main-main, calon Fello jauh berkualitas dari Liam. Semuanya memiliki wajah dan fisik rupawan. Namun yang Fello mau hanya Liam.
“Fello sayang, ... Papah mohon jangan begini. Karena andai kamu begini bahkan malah lebih parah, yang ada Liam merasa menang. Yang ada Liam jadi besar kepala dan bisa dengan bangga menginjak kita.” Pak Wijaya meyakinkan. Ia berdiri di depan kepala Fello yang masih tertutup rapat oleh selimut.
“Hancurkan mereka, Pah! Hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Buat Liam menangis darah. Pastikan dia memohon kepada kita. Buat Liam sehancur-hancurnya agar wanita bisu itu juga tahu rasa!” tegas Fello tersedu-sedu dari balik selimutnya.
Pak Wijaya meringis bingung kemudian menghela napas dalam. “Waktu kita terlalu berharga untuk berurusan dengan orang semacam mereka.”
“Please, Pah. Aku mohon, ... singkirkan mereka!”
Pak Wijaya tak kuasa menolak, tapi ia sengaja berkata, “Pikirkan lagi. Takutnya setelah Papah benar-benar menyingkirkan Liam, kamu justru menyesal bahkan menyalahkan Papah.”
Kali ini Fello tidak menjawab. Di balik selimutnya, wanita itu masih terisak pedih.
“Hari ini, Liam dan sekretarisnya tidak berangkat. Namun sepertinya, mereka memang mantap mengundurkan diri dari kantor,” lanjut pak Wijaya.
Terpikir oleh Fello, apakah Liam dan Indah sedang berbulan madu? Keduanya berani bersenang-senang di atas kehancurannya?
Di tempat yang berbeda, di tempat yang sama dengan status WA video Liam, kedua sejoli itu sungguh sedang bersenang-senang. Bersama pengunjung lain dan kebanyakan merupakan anak kecil yang tengah berenang, Indah dan Liam yang terus bergandengan, tak segan berdiri di bawah air terjun dan otomatis membuat mereka kuyup. Mengandalkan bocah-bocah di sana, Liam dan Indah kompak mengabadikan momen kebersamaan mereka menggunakan bidik kamera ponsel. Baik yang berupa foto, maupun video.
Bersama Indah, Liam tak hanya merasa bahagia. Karena bersama Indah, pria itu merasa hidup, menjadi manusia sepenuhnya.
Gemetaran menahan dingin, Indah dan Liam memutuskan untuk pulang. Indah mengantongi ponsel Liam yang sedari tadi dipakai untuk mengabadikan kebersamaan mereka, oleh anak-anak di sana. Oh, iya ... kali ini, mereka yang kembali lewat anak sungai, tak hanya pulang berdua. Sebab tujuh bocah laki-laki tanggung yang sempat membantu mereka, juga turut serta. Liam mengajak makan ketujuhnya di rumah makan orang tua Indah. Membuat ketujuhnya begitu bersemangat, buru-buru memakai pakaian ganti yang sudah dibawa. Karena dari semuanya, memang hanya Indah dan Liam yang tidak membawa pakaian ganti hingga pengantin baru itu tetap kuyup tanpa ganti pakaian.
Beres makan dengan anak-anak setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk mandi sekaligus ganti pakaian, kabar baik kembali Liam dapatkan. Sang pemilik tanah kebetulan datang berkunjung untuk sekaligus membersihkan pekarangan yang dipenuhi rumput liarr.
“Ayo, Iam. Kita ke sana, ajak pak Iping ngobrol di rumah makan saja,” sergah papahnya Indah.
Liam sangat bersemangat dan langsung bergegas, mengikuti kepergian anak-anak yang baru saja ia tlaktir dan mengeluh kekenyangan. Arah kepergian mereka sama, tapi setelah sampai di sebelah pak Iping yang sedang membersihkan pekarangan dekat jalan, tujuan mereka tak lagi sama.
“Makasih banyak, Om tlaktirannya! Dadah!” ucap ketujuh bocah laki-laki tanggung tadi sebelum ketujuhnya kompak lari penuh keceriaan meninggalkan Liam.
Liam yang tak kalah ceria terlebih rencananya dilancarkan oleh Sang Pemilik Kehidupan, melepas kepergian ketujuhnya sambil melambaikan tangan. Liam ingat, dulu, sewaktu dirinya seusia ketujuhnya, dirinya juga sedang senang-senangnya bermain termasuk itu bertualang. Meski tentu saja, masa kecilnya tak disertai pengalaman main di sungai apalagi air terjun. Paling banter kalau tidak main air di Ancol atau kolam renang, tentu saja hanya sebatas ke pantai mahal. Karena jujur saja, sebelum keluarganya bangkrut karena sang papah menjadi korban investasi bodong, kehidupan Liam kecil juga layaknya kehidupan anak Sultan pada kebanyakan yang dipenuhi kemewahan.
Proses pembelian tanah langsung dimulai. Dibahas mengenai luas dan segala macamnya, termasuk harga. Ada penawaran, tentu saja. Harganya dibuat menjadi harga keluarga lantaran sejauh ini, keluarga Indah juga kerap membantu keluarga pak Iping. Jadi, harga tanah menjadi jauh lebih miring dari harga semestinya.
Ini buah kesabaranmu, Sayang. Syukurlah ... Andaipun Mamah harus pulang lebih awal ke pangkuan Tuhan, Mamah beneran tenang. Mamah ikhlas. Karena sekarang, kamu sudah dikelilingi orang baik, batin nyonya Nani yang memang masih ada di sana bersama sang suster. Di ruang keluarga kediaman orang tua Indah, ia turut memantau jalannya pertemuan Liam dengan pemilik tanah yang akan Liam beli. Mereka sedang membuat kesepakatan. Kesepakatan yang prosesnya benar-benar lancar. Siang tadi, Liam baru mengutarakan niatnya untuk membeli tanah, dibantu juga oleh Indah. Dan kini, hanya tinggal selangkah lagi, putranya itu mendapatkan apa yang dimau.
Dalam diamnya nyonya Nani yakin, putranya mampu sukses tanpa tangan dingin Fello dan pak Wijaya karena pada kenyataannya, darah bisnis dari alm. Papah Liam juga mengalir dalam tubuh Liam.