
Dering alarm dari ponsel milik Indah yang ada di nakas, mengusik sang pemilik. Indah langsung bergegas, menarik tubuhnya secara pelan dari dekapan Liam. Wanita cantik itu berhasil mematikan dering alarm di ponselnya hingga suasana kamar mereka kembali senyap. Di tengah suasana kamar yang juga temaram, kedua mata Indah mengerjap. Ia nyaris kembali menarik diri dari dekapan Liam dan siap melakukan rutinitas paginya yaitu menyiapkan sarapan sekaligus bekal, tapi kedua tangan Liam dengan begitu ringan menariknya kembali ke dekapan. Malahan, kali ini Liam mendekapnya tiga kali lipat lebih erat dari sebelumnya. Indah sampai kesakitan karenanya.
“Sayang, sudah pagi. Alarmku sudah bunyi, aku mau siapin sarapan sama bekal buat kita.” Indah bertutur lirih, memberi Liam pengertian. Di belakangnya dan tengah ia tatap, kedua mata Liam tetap terpejam. Namun bisa ia pastikan, Liam masih sadar karena sampai kini saja, suaminya itu masih memeluknya sangat erat.
“Hari ini jadwal kita ke rumah sakit buat cek pita suara kamu, terus tinjau lokasi,” ucap Liam dengan kedua mata tetap terpejam.
Indah yang masih menatap Liam berangsur mengerjap. Ia mengernyit tak paham. “Mau tinjau lokasi bagaimana?”
Liam menghela napas dalam kemudian membenamkan wajahnya di leher Indah. “Aku mau cari tanah buat bikin semacam penginapan.”
“Proyek baru? Mas bilang sudah keluar dari perusahaan?”
“Ini buat pribadi. Aku mau mulai semuanya dari nol,” ucap Liam.
Seperti yang Liam katakan, di pagi menuju siang mereka, mereka sudah ada di ruang pemeriksaan. Ternyata sebelumnya, Liam sudah mengatur jadwalnya hingga mereka tak harus mengantre lama seperti pasien lain.
Indah menjalani pemeriksaan intensif dengan sederet pemeriksaan medis yang wanita itu yakini biayanya tidak murah. Namun demi membuat Liam tenang dan berhenti mengkhawatirkan keadaan pita suaranya, Indah menjalani semua pemeriksaan.
Pada kenyataannya, pita suara Indah memang rusakk. Namun memang masih bisa diobati, meski benar-benar harus sabar karena prosesnya memang panjang.
Pulang dari rumah sakit, mereka ke apartemen dulu. Liam memboyong nyonya Nani berikut sang suster. Mereka pergi ke rumah Indah dan makan siang di sana. Tak sekadar karena nyonya Nani ingin mencoba semua menu di sana, tapi juga memang sengaja bersilaturahmi.
Orang tua Indah turut duduk bersama rombongan Liam.
“Pah, di sekitar sini, ada yang jual tanah, enggak?” tanya Indah membuka obrolan serius dalam kebersamaan mereka.
Mereka yang awalnya tengah menikmati wedang rempah dalam wadah gelas khusus terbuat dari tanah liat dan awalnya dilengkapi dengan tutup, langsung terdiam serius.
Liam berdeham kemudian menutup gelas rempahnya. Sang papah mertua yang juga duduk di hadapannya, sudah menatapnya dengan serius.
“Memangnya mau buat apa, Iam? Butuh yang berapa luas?” tanya papah Indah.
“Mau buat penginapan, Pah.”
“Oh, penginapan ....”
“Iya, Pah. Aku mau bangun penginapan apalagi kalau aku lihat, posisi di sini cukup strategis. Dekat dengan tempat wisata dan di sekitar sini pun ada beberapa spot populer. Terus, kalau boleh tahu, di belakang rumah Papah, ada semacam tanggul, apa sungai, apa malah sumber mata air, enggak? Soalnya kalau aku perhatikan dari airnya yang dingin dan sangat jernih, kesannya memang mata air asli. Kemarin pas aku coba minum juga enggak bikin flu apa pilek.”
“Kemarin memang ada yang mau jual tanah tapi ada bangunannya juga. Bangunannya itu berupa rumah minimalis semi permanen, tapi tanahnya luas. Nanti setelah beres makan, kita lihat lokasinya. Itu, di sebelah persis. Di belakang kan memang ada sungai dan airnya jernih, banyak bebatuannya juga. Sepertinya memang cocok kalau buat memperbagus view penginapan.”
Mendengar balasan sang papah mertua, Liam seolah mendapatkan angin segar. Pria itu tersenyum hangat kemudian mengangguk. Sementara yang terjadi dengan tangannya ialah meraih tangan kiri Indah yang awalnya ada di pangkuan.
Indah langsung mengurai senyum bahagianya kemudian menatap Liam yang memang duduk di sebelah kirinya. Sementara di sebelah kanannya, nyonya Nani yang cenderung menjadi penyimak baik sejak awal mereka di sana, ia pergoki tak kalah bahagia. Senyum hangat terukir dari bibir tipis wanita itu yang tetap bertahan di kursi roda walau yang lain duduk lesehan termasuk itu suster Surti yang menjaga sekaligus mengurus.
Setelah makan siang mereka selesai dihiasi obrolan serius mengenai tanah dan juga rencana pembangunan penginapan. Acara peninjauan lokasi hanya diikuti oleh Liam dan Indah. Bersama papah Indah, mereka belusukan ke pekarangan sebelah kediaman sekaligus rumah makan milik orang tua Indah.
Lokasi yang dimaksud, dalam keadaan tak terawat dipenuhi rumput liarr tinggi. Saking sayangnya kepada Indah, di beberapa kesempatan, Liam refleks membopong Indah. Sang papah mertua menjadi kerap menahan tawanya, sementara kenyataan tersebut sukses membuat Indah kikuk. Sampailah mereka di bagian pekarangan belakang. Di sana ada tanggul dan keberadaannya ada di seberang sungai yang airnya benar-benar jernih.
“Bagus, banget!” lirih Liam sambil menahan senyumnya. Ia merasa sangat puas, yakin rencananya akan sukses jika ia berhasil membeli tanah tersebut.
“Sungai ini dari curug di sebelah. Daripada di sini, di sana lebih segar dan suhu udaranya memang sangat dingin,” cerita Indah.
“Curug yang ada air terjunnya?” ujar Liam sangat penasaran.
Indah mengangguk-angguk. “Iya. Yuk ke sana. Mau jalan kaki lewat sungai ini mumpung sedang surut juga enggak apa-apa. Enggak ada satu kilo meter, kok. Sekalian jalan-jalan,” ajaknya yang memang ingin sekalian jalan-jalan bersama Liam.
Liam mengangguk-angguk senang. Tentu saja ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Kesempatan yang bisa mengeratkan hubungannya dan Indah.
“Iam, kamu cocok enggak sama lokasinya? Kalau memang cocok, nanti Papah coba tanya-tanya. Dan kalau memang lokasinya masih kurang luas, nanti pakai pekarangan Papah saja. Itu kan masih lumayan,” ucap papahnya Indah.
Namun jujur saja, Liam masih trauma jika harus menerima bantuan secara cuma-cuma dari sang mertua. Takut mengulang drama yang sama karena jujur saja, Liam kapok memiliki mertua royal tapi ternyata memiliki maksud lain.
“Bisa diatur nanti, Pah. Lokasinya sih memang cocok, aku mau Pah. Nanti tolong tanyakan, ya.” Liam tersenyum hangat.
Setelah kembali melihat-lihat sekitar sana, Liam dan Indah sungguh menjalankan rencana mereka. Mereka berpisah dengan papah Indah yang akan langsung pulang. Sementara Indah dan Liam terus menelusuri anak sungai yang airnya sangat jernih dan hanya semata kaki mereka.
“Kamu enggak pernah bilang kalau di belakang rumah kamu, seindah ini?” ucap Liam yang masih menggandeng sebelah tangan Indah. Ia masih mengamati sekitar yang jujur saja sangat memanjakannya. Apalagi, udara sekitar sana juga masih bersih, minim polusi. Dan saking jernihnya air sungai yang tengah mereka lalui, ikan-ikan kecil di sana yang memang berlalu lalang, terlihat sangat jelas.
“Memangnya di mata kamu, masih ada yang lebih indah, dari aku?” tanya Indah pura-pura marah. Ia menatap Liam, dan suaminya itu langsung terdiam sebelum akhirnya, tatapan mereka bertemu. Liam menahan senyumnya, pria itu mendekap kepala dan punggungnya sangat gemas.
Liam terus saja tersenyum dan terkadang menahan tawanya. Senyum yang makin lama makin lepas dan sampai menular kepada Indah.