
Keterpurukan seorang Fello membuat wanita itu makin kepo pada hubungan Liam dan Indah. Fello mendadak menjadi penguntit, mengawasi setiap kebersamaan yang Indah maupun Liam jalani. Fello sampai berpenampilan biasa, memakai lengan panjang dan juga bawahan panjang, serta menutupi kepalanya menggunakan jilbab instan. Selain itu, jika tidak memakai masker, Fello tak segan memakai cadar. Tentunya, demi mendukung penyamarannya, Fello juga meninggalkan kemewahannya bahkan itu sekadar parfum.
Dua hari setelah menyebar kabar kehamilan, Liam dan Indah yang masih tinggal di kediaman orang tua Indah, pergi meninggalkan kesibukan pembangunan di sebelah rumah orang tua Indah. Keduanya menunggangi mobil sedan hitam milik Liam dan langsung dikendalikan oleh Liam. Mobil yang Fello ke tahu bukan mobil kesayangan Liam. Sebab yang ia tahu, demi memulai usaha baru, Liam rela menjual mobil sport besar kesayangannya. mobil sport yang sebenarnya juga sudah langsung Fello beli.
Fello yang awalnya menjadi pembeli di rumah makan orang tua Indah, buru-buru membuntuti. Kali ini wanita itu kembali memanfaatkan motor matic putihnya agar lebih leluasa dalam mengikuti.
“Cinta membuatku segila ini. Bahkan aku yang awalnya tidak bisa naik motor, hanya butuh hitungan menit untuk bisa melakukannya,” batin Fello yang tetap menjaga jarak dari mobil Liam.
Setelah dua puluh menit mengarungi perjalanan, ternyata Liam dan Indah mengunjungi sebuah rumah sakit. Sempat berpikir keduanya ke sana untuk memeriksakan keadaan Liam yang sibuk flu, nyatanya pemeriksaan yang keduanya datangi merupakan pemeriksaan kehamilan.
“Nanti kamu juga sekalian periksa, ya,” ucap Indah lembut sambil membenarkan masker Liam.
Sejak Fello langsung menjadi pengintai keduanya, terhitung sejak dua hari lalu, Liam memang selalu memakai masker. Masker yang akan Indah ganti setiap setengah hari sekali, yang mana wanita itu juga sampai menempel stiker aroma terapi di maskernya. Layaknya kini, Indah baru saja menambah satu stiker aroma terapi di masker Liam.
Liam menggeleng kemudian membenarkan sebagian poni Indah yang menutupi mata sebelah kanan setelah lolos dari jepit yang menjepit. Malahan kini, Liam sampai membenarkan jepitannya.
Bersama Indah, hidup Liam memang menjadi sederhana. Namun, pria itu tampak sangat bahagia. Fello mengakuinya, walau wanita bercadar hitam itu juga sibuk menolaknya. Sebab, Fello hanya akan menerima kenyataan, jika Liam kembali bersamanya. Apalagi Fello yakin, ketimbang Indah, dirinya jauh lebih bisa membuat Liam bahagia.
Mungkin efek sebelumnya sudah melakukan pendaftaran, Liam dan Indah tak sampai menunggu lama. Keduanya tampak antusias sekaligus gugup. Senyum bahagia terus terurai dari wajah keduanya. Paling mencolok, Liam yang terus terjaga di sisi Indah. Jika bukan menggandeng, Liam tak segan merangkul Indah.
“Liam, kamu manndul. Kamu mandul jadi bisa dipastikan itu bukan anakmu!” tegas Fello ketika Liam dan Indah yang belum lama keluar dari ruang pemeriksaan, melewati pertigaan Fello terjaga.
Fello yang masih memakai gamis syar'i lengkap dengan cadar hitam, duduk di bangku tunggu persis sebelah Liam dan Indah berhenti melangkah. Liam langsung membimbing Indah untuk kembali melangkah dan memang sengaja menjaga jarak dari wanita berpenampilan syar'i tersebut. Karena meski berpenampilan tertutup, suara tadi sudah langsung membuat mereka mengenalnya sebagai suara Fello. Khususnya Liam, pria itu sangat hafal suara Fello karena biar bagaimanapun, mereka pernah bersama-sama terbilang lama.
“Fello, kamu ....” Indah yang sudah langsung maju, juga langsung mengomel. Emosi Indah tersulut. Karena selain Fello yang mengubah total penampilannya, penampilan baru Fello benar-benar sulit dikenali andai wanita itu tak bersuara, ucapan Fello yang menegaskan Liam mandul dan wanita itu meragukan janin Indah yang dicurigai benih laki-laki lain, berkali lipat lebih menyakitkan dari luka sebelumnya.
Walau Liam sudah langsung menyimpannya di balik punggung, Indah tetap berkata, “Kalau kamu memang mencintai Liam, harusnya kamu enggak begini. Kamu bahkan hanya sibuk merendahkan Liam, memangnya merendahkan juga bagian dari cinta?”
“Aku tahu kamu kesepian. Aku juga tahu bahwa sebenarnya kamu merasa sangat hancur gara-gara hubungan kami,” lanjut Indah yang kemudian juga berkata, “Namun bukan berarti, kamu berusaha merusak apalagi menghancurkan hubungan kami!”
“Tau apa kamu tentang kami?” balas Fello tak bersemangat dan masih bertahan duduk. “Hanya kamu bisa hamil, padahal itu bukan berarti anak Liam ....”
“CUKUP!” Liam sengaja memotong ucapan Fello. “Jangan terlalu sibuk menilai orang lain jika kamu saja tidak paham dengan apa yang ada dalam diri kamu!”
“Cukup kuatkan dirimu karena kami akan makin bahagia dan selalu begitu. Cukup terima dan berdamailah dengan kenyataan. Terlebih kami paham, kebahagiaan kami akan selalu menjadi kelemahan kamu!” lanjut Liam.
Indah yang kali ini menyimak baik menjadi khawatir, jangan-jangan, Fello memang sudah kurang waras. Fello bahkan tak segan mengubah penampilan menjadi sangat berbeda layaknya sekarang.
“Percayalah Liam, itu bukan anak kamu karena kamu memang manduul! Masa kamu lupa, pas ....” Fello terdiam tak bersemangat karena lagi-lagi, Liam membawa Indah pergi. “Ini sudah satu bulan seperti waktu yang aku berikan kepadamu, Liam! Cepat kembali kepadaku karena wanita bisu itu saja Sudan hamil.” Fello terus berlari berusaha mengejar Liam dan Indah, tapi di lobi ia malah ditahan oleh satpam yang sebelumnya Liam hampiri. Fello yakin, satpam tersebut sengaja Liam tugasi untuk menahannya.
Menatap sedih kepergian mobil Liam yang meninggalkan tempat parkir di depan sana, pikiran Fello makin tidak tenang. Di benaknya kini mendadak terputar ucapan tegas Indah. Ucapan lantaran wanita itu beranggapan, bahwa cinta yang selama ini Fello yakini malah hanya.
“Harusnya setelah wanita itu hamil, harusnya Liam juga berhenti bersamanya! Harusnya Indah yang membuang Liam agar Liam sakit hati dan melupakan Indah!” pikir Fello mantap. Ia masih ditahan satpam yang Liam tugaskan untuk mengamankannya.
Suasana tidak nyaman, menyelimuti kebersamaan Indah dan Liam. Tentunya masih gara-gara Fello. Namun karena Liam yang memakai jaket hangat bersin, Indah langsung terusik.
“S-sayang, kita belum periksa kesehatan kamu,” sergah Indah sambil menatap Liam penuh gelisah.
“Enggak apa-apa. Tapi nanti tolong kerokin punggung aku, merinding enggak jelas gini. Meriang, pusing, mual juga. Kayaknya memang benar kata mamah, kamu yang hamil, tapi aku yang mengidam!” ucap Liam benar-benar pasrah, tapi malah membuat seorang Indah sibuk menahan tawanya.
“Baby-nya sayang banget ke Papah. Makanya dibagi rata. Mamah yang hamil, Papah yang ngidam!” ucap Indah bersemangat dan masih menggunakan kedua tangannya untuk mendekap mulut.
“Enggak apa-apa. Tiap tahun begini, aku juga oke-oke saja. Biar bisa bikin kesebelasan sekalian. Kesebelasan buat mewarisi bisnis papahnya!” Liam tersenyum semringah menatap Indah walau sampai detik ini, ia masih memakai masker. Dan seperti biasa, kali ini sang istri juga mengaminkan harapan sekaligus doa-doanya.
“Konon, semujarap-mujarapnya sebuah doa, doa seorang istri buat suaminya selalu menjadi tiket golden rezeki di sebuah rumah tangga.” Setelah berkata demikian, Liam kembali minta didoakan oleh Indah untuk segala kelancaran hubungan sekaligus usaha mereka.
“Setelah ini, aku harap Fello mengerti. Cintanya padaku tak lebih dari obsesi. Semoga dia juga segera mendapatkan penggantiku agar dia berhenti mengganggu hubunganku dan Indah,” batin Liam.