Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
10 : Lamaran Dari Keluarga Liam


“Ndah, ... ada tamu buat kamu. Dia bilang, dia temanmu.”


Suara papah Indah, terdengar lembut, mengabarkan kedatangan seseorang yang mengaku sebagai teman. Indah yang tengah duduk di pinggir tempat tidur sembari memegangi sebuah bingkai foto berisikan foto wajahnya dan wajah seorang lelaki yang kompak tersenyum ke arah kamera langsung terusik.


Tamu, ... temanku? Siapa? Pikirnya yang beranjak dari sana kemudian meletakan bingkai foto berwarna putih keemasannya di nakas sebelah tempat tidur tempat ia sempat termenung.


Tak disangka, yang datang justru Liam. Pria itu tak datang sendiri. Pria itu membawa rombongan, termasuk nyonya Nani yang duduk di kursi roda dan selalu ditemani suster Surti. Di ruang keluarga, mereka yang jumlahnya lebih dari enam orang, duduk.


Dua hari melarikan diri, pada akhirnya Liam tetap menemukannya. Pria itu bahkan membawa rombongan, seolah acara sakral memang sengaja pria itu lakukan.


“Ndah, duduk,” lirih ibu Dwiningsih, dan tak lain mamah Indah. Wanita itu tersenyum, menepuk sofa di sebelahnya dan membimbing sang putri untuk duduk di sana, di sebelahnya yang satu sofa bersama sang suami.


Senyum hangat dari sang mamah maupun sang papah yang kompak menatap sekaligus memperlakukannya penuh kelembutan bertabur kebahagiaan, keadaan itu sudah langsung membuat Indah menarik kesimpulan, Liam yang tengah diam-diam ia amati dan pria itu juga terus menatap lurus kepadanya walau Liam juga tampak fokus pada kebersamaan di sana, telah berhasil merengkuh hati kedua orang tua Indah.


Aku enggak mau menikah, batin Indah. Terlepas dari apa pun yang telah terjadi antara dirinya dan Liam di malam itu, di tiga malam yang lalu, Indah sungguh tetap tidak mau menikah. Terlebih, cara Liam yang melakukannya secara paksa dan pria itu melakukannya di luar pernikahan, telanjur membuat Indah kecewa. Tak peduli mau dianggap kolot maupun kampungan, itulah prinsip Indah.


 


“Kedatangan saya kemari dan sampai membawa keluarga besar karena saya--” Liam mengatakan niat baiknya dengan lancar meski sesekali, ia juga menjedanya lantaran kedua orang tua Indah kerap batuk parah dan saling bersautan. Liam yakin, orang tua Indah tidak baik-baik saja. Ditambah kenyataan Indah yang begitu cekatan mengurus, memberi obat semprot khusus bagi mereka yang menderita asma.


Pak Imran selaku papah Indah, menyerahkan segala keputusan untuk Indah. Kesempatan yang langsung Indah gunakan untuk melakukan penolakan. Namun, nyonya Nani meyakinkannya, bahwa Liam mampu membahagiakan Indah.


“Liam laki-laki yang sangat tanggung jawab. Saya bisa menjamin, Liam tipikal yang akan sangat menyayangi terlebih pada mereka yang dia cintai. Menikah dan jadilah istrinya, kamu pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia,” yakin nyonya Nani.


Liam yang duduk di sebelah sang mamah langsung tersenyum haru. Ia merengkuh eh tangan sang mamah, kemudian menggenggamnya mengunakan kedua tangan.


Jujur, peran nyonya Nani dan juga interaksi baik Liam dengan wanita itu menjadi ketertarikan tersendiri bagi Indah.


“Kamu boleh saja kecewa kepadaku, tapi bukan berarti aku seburuk yang kamu kira.” Liam menatap Indah penuh keseriusan. Mereka hanya dipisahkan oleh meja kayu yang permukaannya berlapis kaca. “Seperti yang pernah aku katakan, ... Aku sungguh sudah mengetahui semuanya termasuk masa lalu kamu yang pernah nyaris menikah.” Liam masih menatap Indah penuh keseriusan. Membuat mereka yang ada di sana seolah tengah menonton drama romantis atas ulah romantis Liam kepada Indah.


“Menikahlah denganku, ... lebih cepat lebih baik. Bukan sebuah dosa jika kamu menikah dengan laki-laki lain setelah dia pergi dan tak mungkin membuat kalian melanjutkan hubungan kalian.” Setelah mengatakan itu, Liam mendadak mengoreksi ucapannya. “Sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara.” Walau ia tetap menatap wajah-wajah di sana yang langsung menanggapinya dengan senyuman tersipu, fokusnya tetap pada Indah. Wanita itu masih diam dan tampak jelas tidak tertarik kepadanya termasuk lamarannya.


“Ndah ...?” panggil Liam lagi.


“Terima saja. Biar Ibu dan Ayah tenang, andai kami harus pergi sewaktu-waktu,” lirih Dwiningsih yang sengaja mengajak Indah menyiapkan minuman di dapur.


“Aku ... rasanya terlalu berat buat aku ceritakan, Bu. Namun aku sama sekali tidak mencintainya,” lirih Indah yang menunduk lesu.


Tepat di saat itu, Liam datang membawa parcel buah berukuran besar. Namun, hanya ibu Dwiningsih yang melihatnya karena kebetulan, Indah yang sedang mengaduk minuman berupa teh manis panas di setiap gelasnya, memang memunggungi keberadaan pintu. Liam menahan senyum yang nyaris menjadi tawa, memberi mamah Indah kode keras agar wanita itu tidak mengabarkan kedatangannya terlebih ia juga sudah melakukan segala sesuatunya dengan hati-hati.


“Ya sudah, Ibu ke depan dulu. Nanti minumannya sekalian kamu bawa, ya. Enggak enak kalau bikin mereka menunggu lama,” ucap ibu Dwiningsih yang membawa nampan berisi buah jeruk, salak, dan juga manggis.


Indah yang masih loyo dan sangat tidak bersemangat, mengangguk-angguk tanpa balasan berarti. Ia sama sekali tidak menyadari kedatangan Liam, meski jujur, aroma parfum pria itu dan sudah cukup ia kenal, tapi sampai tercium sangat kuat di sana, langsung membuatnya terusik.


Merinding, Indah refleks balik badan untuk memastikan. Jantungnya nyaris copot karena kecurigaannya memang benar. Liam memasang wajah tak berdosa, terus mengurai senyum di wajahnya yang tampan dan memang masih dihiasi sedikit bekas lebam.


“Please,” lirih Liam benar-benar memohon. Ia masih mendekap parcel buah yang cukup membuatnya kerepotan.


Indah yang telanjur kesal kepada Liam sejak kejadian malam itu, berangsur mendengkus kesal dan hanya melirik kilat Liam.


“Serius ini berat,” keluh Liam sambil meringis, mempermasalahkan parcel yang baginya berat.


Indah kembali melirik Liam dengan lirikan yang benar-benar kilat. Seorang Liam, CEO sekaligus bos besar di tempatnya bekerja, sampai mengangkat parcel berukuran besar tanpa bantuan dan kini sampai keberatan. Luar biasa! Batin Indah.


“Sudah taruh saja. Atau kalau enggak, bawa pulang juga enggak apa-apa!” omel Indah belum mau menatap apalagi sampai menghadap pada Liam. Namun melalui ekor lirikannya, ia mendapati Liam yang akhirnya menaruh parcelnya di meja makan yang ada di sana.


“Kamu kalau marah begini malah makin cantik,” ucap Liam yang kemudian mendekat. Ia merogoh saku celana bahan warna hitam sebelah kanannya. Ia mengeluarkan kotak merah berukuran mungil khas kotak perhiasan dari sana. Ia berhenti tepat di sebelah Indah yang terlihat jelas tak sudi berurusan dengannya bahkan sekadar meliriknya.


“Ayo nikah,” lirih Liam yang kemudian melirik sekaligus menatap Indah sementara kedua tangannya bekerja sama membuka cepuk mungil berwarna merahnya.


Ada sepasang cincin warna emas polos di sana. Cincin yang memang lebih cocok menjadi simbol pernikahan. Jadi, yang Liam lakukan melamar atau langsung menikah?


“Kita menikah sekarang,” singkat Liam penuh keseriusan, dan langsung membuat Indah sibuk cegukan, setelah sebelumnya, wanita itu yang tampak syok, juga tersedak ludahnya sendiri.