
Menjadi orang tua baru, itulah kesibukan Liam dan Indah sekarang. Keduanya berbagi tugas lantaran sampai detik ini, mereka masih tinggal di kediaman orang tua Indah. Namun dalam waktu dekat, Liam akan membeli tanah untuk rumah baru mereka.
Awalnya, Liam ingin fokus membangun restonya, tapi karena beberapa klien berbondong-bondong bergabung dan tak segan menanam saham dalam jumlah fantastis, Liam tak lagi pusing sendiri dalam mengelola keuangannya. Jadi, meski Liam mulai membangun rumah pribadi, keuangan resto tetap terkendali. Resto tetap menjalani pembangunan karena pekarangan rumah orang tua Indah yang sempat diberikan pada Liam dan Indah secara cuma-cuma, telah mereka bayar.
Pagi ini, ada tiga bayi yang Indah temukan karena Liam yang diminta menjemur anak-anak mereka malah ikut tidur mirip Arla dan Agiel. Indah langsung menggeleng tak habis pikir, dan langsung membuat sang suami terkejut ketika ia mengambil Arla dari dekapan pria itu.
“Sayang, kirain siapa ...,” ucap Liam yang memang terlihat jelas terkejut.
Indah kembali menggeleng tak habis pikir. “Sekarang lagi rawan pencu-likan, Pah. Hati-hati.” Ia mengemban Arla penuh sayang.
Kini, balas Liam yang menggeleng tak habis pikir. “Gerbang rumah saja dikunci, masa iya ada yang nekat panjat, sudah siang bolong gini dan papah sama mamah pun ada di rumah makan.” Ia menimang Agiel, si paling hobi tidur yang sangat mirip dengannya jika sedang mager.
“Eh, yang namanya ma-ling sama cu-lik, jangankan manjat, terbang saja mereka jalani asal ada hasil!” Indah makin cerewet. Satu hal yang memang berubah dari rumah orang tuanya. Karena selain di gerbang tinggi lebih dari dua meter, depan rumah juga sampai diatap menjadi garasi mobil Liam. Kini saja, mereka berjemur di depan mobil.
Liam menahan tawanya kemudian sengaja agak mengangkat Agiel. “Giel, kamu jangan bobo terus. Itu Mamah lagi ceramah. Paham banget. Oalah Papah lupa, gitu-gitu kan Mamah juga mantan cu-lik. Cu-lik hatinya Papah! Sampai sekarang saja Papah betah, enggak mau dikembaliin walau jelas-jelas, Papah dicu-lik sama mamah kamu!”
Indah berangsur duduk di sebelah Liam. Di kursi kayu panjang yang memang akan menjadi tempat menjemur bayi atau malah kasur.
“Kamu enggak siap-siap ngantor?” tanya Indah yang memang baru beres mandi sekaligus makan. Ia yang hari ini mengikat tinggi rambut panjangnya dalam cepolan rapi juga sudah menghasilkan dua kantong ASIP. Jadi, selagi ada yang membantunya menjaga anak layaknya sekarang, ia sengaja bersiap-siap karena sang mamah mertua saja tak segan membantunya memasak. Namun mulai besok, yang akan bantu-bantu di rumah sudah kembali aktif hingga mereka tak akan serepot sekarang.
“Gampang, ... Kantornya saja ada di sebelah. Berangkat gini saja bukan masalah,” balas Liam.
“Yakin, seorang Liam berani tampil apa adanya cuma pakai kaus sama sarung gini?” Indah menertawakan suaminya. “Kak, lihat kelakuan Papah kamu!”
Liam yang sempat salah tingkah berangsur membenamkan wajahnya di tengkuk Indah. “Asli aku ngantuk banget!”
“Kan Bapak yang pengin punya anak! Punya anak kecil dan langsung dikasih dua ya begini, sering ronda, apalagi kalau habis imunisasi. Ini sih baru imunisasi pertama dan enggak sampai demam. Coba bekasnya kemarin jadi enggak di lengan. Tuh punya Kakak langsung jadi, ada kayak macam bentolannya. Coba punya Adek jadi enggak, cek Pah.”
“Jadi itu, tapi kayaknya lebih cepet punya Kakak. Punya Adek belum segede punya Kakak. Apa jangan-jangan, kemarin nih anak tetap tidur ya, pas disuntik, makanya obatnya adem diem di bekasnya,” ucap Liam sambil memperhatikan bekas imunisasinya.
“Ah kata siapa? Mungkin efek Kakak terlalu aktif dan memang enggak mau diem juga tangannya. Lain sama Adek yang santuy dengan kemagerannya. Nah kan, dipakein kacamata kalau Adek tetep bertahan di peradaban, kalau Kakaknya sudah ke mana-mana. Makanya kalau jaga anak apalagi jaga Kakak, wajib hati-hati, Pah. Enggak diambil orang, malah menjatuhkan diri tuh ... tuh lihat kelakuan anak kamu, Pah!” Indah heboh sendiri. Ia terpingkal-pingkal diikuti juga oleh Liam lantaran ketika putri Keong mereka tidak bisa diam bahkan bisa turun dari pangkuan, sang putra keong malah hanya diam dan terus saja tidur seheboh apa pun suasana di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian, setelah sampai memandikan anak-anak mereka dan itu mereka lakukan bersama walau Liam cenderung hanya membantu, mereka kompak pergi ke resto mereka untuk bekerja. Layaknya kembar pada kebanyakan, anak-anak mereka juga mereka dandani serba kembar. Hanya warna saja yang berbeda karena gelang saha, mereka sudah kembaran. Jadi semenjak ada si kembar, di ruang kerja Liam juga sampai dihiasi boks bayi karena walau lebih cenderung fokus menjadi IRT, Indah tetap menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi Liam.
Setelah anak-anak tidur dan mereka tidurkan di boks bayi, Liam dan Indah kembali fokus dengan pekerjaan. Mereka duduk berhadapan menjadikan meja yang sama untuk bekerja. Tanpa direncanakan, Liam yang tak sengaja menatap sang istri malah diam-diam mengamati wanita itu. Indah sudah kembali memiliki berat badan idealnya walau wanita itu baru satu bulan melahirkan. Mungkin karena mengurus dua bayi sekaligus dan itu memang Liam akui sangat melelahkan. Liam yang tak harus memberi ASI saja jadi kurang tidur, apalagi Indah yang harus memberi ASI?
Terkadang, Liam yang tidak tega, sengaja tidak membangunkan Indah walau anak-anak khususnya Arla terbangun. Liam akan menyiapkan ASIP, mengurus bayinya sendiri. Liam bisa mengurus dua sekaligus lantaran untuk Agiel, bayi itu tak perlu dibopong apalagi ditimang sayang-sayang layaknya Arla. Karena Agiel memang sesantuy itu. Asal mulutnya disumpal dot dan perut Agiel kenyang, bayi laki-laki yang wajahnya mirip Indah itu akan anteng. Lain dengan Arla yang sungguh sangat manja dan wajib diperlakukan layaknya tuan putri.
“Jadi, Sayang ... ini konsep rumah pohonnya berjejer-jejer gitu, ya? Jadi ini di belakang rumah beneran hanya rumah pohon, paling nanti di setiap sekeliling rumahnya dikasih taman apa bangku gitu, ya? Nah ini belakang rumah nanti dibenteng kan, biar rumah kita enggak kelihatan. Nanti ditutup pakai pepohonan atau tumbuhan yang menggantung itu mirip yang taman di sebelah garasi yang bunganya ungu,” ucap Indah.
“Nanti tanya ke tukang kebunnya. Setahuku, ada beberapa bunga yang memang bikin nyamuk enggak betah. Lavender, contohnya. Tukang kebun kan lebih tahu, nanti tanya saja ke mereka. Soalnya kalau konsepnya kayak yang aku jelasin tadi, kita kayak menyulap tempat biasa menjadi suasana hutan yang sejuk loh. Kayak di taman anggrek sebelah contohnya. Di sana view-nya bagus banget, kan?” balas Indah.
“Bentar, coba lihat dulu.” Liam sengaja pergi memastikan dari balkon ruang kerjanya yang memang ada di lantai atas sebelah penginapan.
Indah menyusul. “Kalau enggak ada konsep taman kecil di masing-masing sekitar rumah pohonnya, kurang sejuk, Sayang. Panas. Jadi, nuansa alamnya masih kurang.”
“Iya, Sayang. Ini aku lagi pikirin buat benteng di belakang rumah kita, itu lebih bagusnya kalau dikasih kolam ikan, ya? Kolam ikannya kecil aja, biar buat nambah view. Jadikan nuansa alamnya juga lebih ngena. Kalaupun ada nyamuk di kolam pasti langsung dimakan ikan, kan?” balas Liam dan langsung mendapat persetujuan Indah.
Pada kenyataannya, Liam dan Indah memang secocok itu. Mereka selalu nyambung. Andaipun sampai beda pemikiran, mereka tetap bisa mendapatkan solusi untuk menangani perbedaannya.
Seiring bergulirnya waktu, akhirnya satu persatu bangunan mulai dibangun. Liam dan Indah menjadi saksi, betapa proses sebuah perjalanan sangat Indah. Proses yang membuat mereka jauh lebih menghargai setiap apa yang ada dalam hidup mereka. Juga, proses yang membuat mereka makin tahu diri hingga mereka tak lupa bersyukur. Apalagi, melihat anak-anak yang akhirnya tumbuh dan sampai bisa berlarian di tengah kesuksesan usaha mereka, menjadi kebahagiaan luar biasa untuk mereka khususnya Liam.
Liam pernah sukses tapi itu karena Liam menggerakkan pekerjaan milik orang, milik Fello dan pak Wijaya. Jadi, seberapa pun berhasil Liam dalam mengelola segala sesuatunya, semua itu tetap tidak akan diakui apalagi dilihat pihak Fello dan pak Wijaya karena pada kenyataannya, kedua orang itu hanya memperlakukan Liam sebagai boneka bahkan mungkin sapi perah.
Sayang, ini sungguh milik kalian. Kalian memiliki semua ini dan kelak, kalian juga yang akan melanjutkan, batin Liam sampai berkaca-kaca. Namun, ia buru-buru mengakhiri rasa nelangsanya lantaran tak mau merusak kebahagiaan Indah dan anak-anak mereka.
Usia Agiel dan Arla sudah hampir dua tahun. Sementara resto mereka juga sudah makin penuh oleh wahana sekaligus pengunjung. Termasuk itu penginapan rumah pohon yang juga mulai beroperasi. Karena kini saja, Arla yang tampaknya tomboy, nekat turun ke kolam ikan.
“Ini kan punya Arla. Papah bilang, semua ini punya kita!” ucap Arla ketika Agiel bahkan Indah mengingatkannya.
Di usia dua tahun, Agiel apalagi Arla juga sudah banyak bicara. Mungkin karena keduanya tumbuh di lingkungan ramai yang dihiasi banyak pembicaraan karena setiap klien apalagi karyawan mereka yang turut membantu mengasuh, akan sibuk mengajak keduanya tertawa.
“Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Kalau Kakak mau main ikan, sudah main saja. Nanti kalau kurang, kita ke sungai apa curug di belakang!” balas Liam yang kemudian menawari Agiel juga. “Agiel enggak mau ikut?”
“No ....” Agiel bersedekap sambil geleng-geleng, sungguh ekspresi khas bos besar. Diam-diam, Indah dan Liam yang bertatapan, kompak menahan tawa mereka atas ulah-ulah unik dari anak mereka.
“No ... Kaka ... No!” Agiel sibuk menghindar ketika Arla menjailinya. Namun, gayanya sangat cool mirip sikap Liam.
Indah sampai terbahak, mengatakan bahwa walau wajah Agiel mirip dengannya, tapi sikap Agiel benar-benar versi Liam KW!
“Nanti kalau kalian sudah tiga tahun, Papah kasih kalian adik!” ucap Liam di sela tawanya dan benar-benar bersemangat.
Indah hanya menggeleng tak habis pikir di tengah tawanya. Namun, Indah sendiri sudah siap kembali hamil, apalagi jika melihat usaha suaminya yang membutuhkan banyak orang penting dari pihak dalam.
“Besok, Agiel jadi CEO, Kakak jadi CEO juga. Adik-adik pun iya. Ada yang pegang pusat, ada yang pegang cabang juga. Kalian sama-sama jadi orang sukses yang juga merasakan indahnya proses, ya.” Indah mengelus penuh sayang kepala Agiel yang kini ia gendong. Lain dengan Arla yang sudah menjadi urusan Liam lantaran putri mereka itu sibuk dan terlalu asyik main dengan ikan kecil di kolam.