Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
13 : Bukan Pernikahan yang Pertama


Fello : Liam, papah beneran marah kalau kamu tetap enggak pulang. Papah bakalan sita rumah orang tua kamu karena biar bagaimanapun, dulu saat orang tua kamu bangkrut, papah aku yang tebus rumah itu.


Fello : Liam, ayo balas pesanku, jangan hanya dibaca.


Membaca pesan tersebut, Liam yang sudah memakai beskap putih, langsung mengendus malas. Kali ini, Liam mengetik balasan untuk Fello.


Liam : Ambil semuanya, aku tidak butuh.


Fello : Kamu yakin? Aku tahu rumah itu sangat berarti buat kamu. Banyak kenanganmu dengan almarhum papah kamu. Rumah itu sangat berharga buat kamu dan mamah kamu.


Fello : Liam, balas! Memangnya kamu enggak kangen aku?


Liam : Aku sudah mengosongkan rumah itu karena aku tahu, kamu dan papah kamu akan mengungkitnya. Jangan menghubungiku lagi karena kita sudah tidak punya urusan. Kamu cukup tanda tangani surat cerai dariku.


Fello : Tidak akan! Aku pastikan, kita tidak akan cerai!


“Kamu berhak bahagia,” ucap nyonya Nani yang memang baru datang. Ia mengendalikan kursi roda elektriknya seorang diri. Alasannya berucap seperti itu karena ia tahu, hanya ada satu kemungkinan jika sang putra sampai segelisah sekaligus seemosional sekarang. Nyonya Nani yakin, Liam begitu karena sedang berkirim pesan dengan Fello.


Fello : Kenapa kamu begitu ingin bercerai dariku? Karena kamu ingin buru-buru punya anak? Ingat Liam, alasan kita susah punya anak juga karena kamu. Dokter bilang kamu bermasalah. Kamu mengalami gejala mandul, makanya baru tahun ini, aku bisa hamil. Jangan lupa itu karena pada kenyataannya, semua kesalahan ada di diri kamu!


Membaca pesan Fello kali ini, Liam langsung menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir.


Liam : Di matamu, aku serendah itu, tapi kenapa sampai sekarang, kamu tetap tidak mau dicerai?


Fello : Karena aku tulus mencintaimu! Aku ingin kamu sadar, aku begitu sempurna untukmu yang sangat biasa!


“Liam, ... sudah. Biarkan, ... sekarang kita fokus ke Indah saja. Mamah yakin Indah jauh lebih akan membuatmu bahagia ketimbang wanita gila itu!” nyonya Nani sengaja mendekati sang putra. Ia mengambil ponsel Liam kemudian mematikan gawai canggih tersebut. Lalu, kedua tangannya membingkai wajah sang putra yang kali ini tampak sangat tampan.


“Ini memang bukan yang pertama, tapi Mamah lihat, kamu sangat bersemangat!” nyonya Nani menahan senyumnya. Berkaca-kaca ia menatap sang putra.


“Dia sangat cantik dan wajahnya selalu membuat yang memandang tenang,” ucap nyonya Nani dan sukses membuat Liam tersipu.


“Mah ....” Hati Liam menangis hanya karena pembahasan yang akan ia mulai. Kedua matanya mulai terasa panas dan perlahan basah. “Sebenarnya ....”


“Kenapa kamu mendadak sesedih itu? Jangan sampai kamu terkena racun Fello meski wanita itu sangat berbisa. Harusnya kamu tidak sampai terpengaruh olehnya karena kamu sudah paham dia seperti apa!” tegur nyonya Nani meyakinkan. Ia menggenggam kedua tangan Liam di pangkuannya. Kali ini putranya benar-benar menangis sambil mengangguk-angguk. Liam tampak sangat hancur, tapi pria itu berusaha tegar.


“Aku ingin punya anak!” ucap Liam yang memasang senyum terbaiknya untuk sang mamah, meski air matanya terus saja berlinang. Di hadapannya, sang mamah yang ikut tersenyum juga menjadi ikut berderai air mata.


“Aku pasti bisa punya anak!” lanjut Liam. Lima tahun berumah tangga dengan Fello dan Fello baru bisa hamil di tahun ke lima pernikahan mereka, tapi selama itu, dokter yang mereka datangi mengatakan Liam juga menjadi alasan utama kenapa Fello tak kunjung hamil. Gejala mandul, itulah yang sang dokter katakan layaknya apa yang beberapa saat lalu Fello ingatkan melalui pesan.


Setelah kebersamaan harus cenderung menyesakkan mengikat kebersamaan Liam dan sang mamah, sampailah mereka di kediaman Indah yang sudah dihiasi dekor. Liam dan rombongan membawa tiga mobil dengan mobil Liam. Kali ini rombongan Liam memakai pakaian seragam. Para wanita yang jumlahnya tak ada sepuluh memakai kebaya, sementara laki-laki memakai batik.


Hari ini, rumah makan orang tua Indah tidak tutup, tapi menjelma menjadi prasmanan acara pernikahan dan memang disewa langsung oleh Liam. Pernikahan Indah dan Liam memang akan berlangsung sederhana. Sementara untuk tamu undangan, selain rombongan yang Liam bawa, tamu undangan lainnya hanya akan dihadiri oleh keluarga terdekat Indah maupun warga setempat lantaran pernikahan mereka juga terbilang buru-buru diadakan. Tentunya, selain Liam yang tak mau kehilangan Indah, alasan utama Liam buru-buru menikahi Indah hingga ia tidak memiliki waktu persiapan lebih lama, tak lain karena Fello masih tidak mau diceraikan. Termasuk itu mengenai hubungannya dan Fello, Liam juga belum jujur kepada Indah sekeluarga. Memang terkesan jahat, tapi niatnya, Liam akan segera menyelesaikan urusannya dengan Fello.


Hari ini pasti Indah sangat cantik, tapi ... kok dia enggak kelihatan, ya? Batin Liam yang mencari-cari keberadaan sang calon istri. Orang tua Indah dan juga keluarga yang kompak memakai kebaya maupun batik layaknya rombongan Liam, sudah menyambut di depan pintu. Namun sampai akhirnya Liam masuk rumah, Indah tetap belum kelihatan batang hidungnya.


“Sudah, tenang saja. Indah pasti masih di dalam kamar,” ucap nyonya Nani. Ia menggunakan tangan kirinya yang tidak mendekap buket bunga perpaduan mawar putih dan baby breath, untuk mengelus tangan kiri Liam.


Liam tersenyum hangat kepada sang mamah yang sampai menengadah hanya untuk menatap sekaligus memberinya dukungan. Belum apa-apa aku sudah parno, Indah kenapa-kenapa karena Fello, batin Liam sambil terus mendorong kursi roda sang mamah dengan sangat hati-hati. Ia tetap mengurus sang mamah secara langsung walau di sana ada suster Surti.


Di dalam kamarnya, Indah yang sudah memakai kebaya lengkap dengan gelung sekaligus paes ageng Solo, tengah menyimpan bingkai foto berisi foto kebersamaannya dengan almarhum Riko. Di kamarnya, ia hanya sendiri dan suasana benar-benar sepi. Saking sepinya, Indah bisa mendengar deru napas, detak jantung, bahkan isak pilunya sendiri.


Maaf, Mas. Bukan maksudku melupakanmu, tapi aku tidak mungkin terus membiarkan kenangan kita diketahui suamiku karena itu bisa melukainya. Sampai kapan pun kita akan tetap ada, meski itu hanya di masa lalu. Karena setelah aku menikah, dengan kata lain, aku milik suamiku. Aku harus mengabdi kepada suamiku seperti yang aku lakukan saat kita masih bersama. Al-fatihah untuk Mas. Doa terbaikku akan selalu bersama Mas. Dalam hatinya, Indah yang menitikkan air mata juga meminta restu kepada Riko, laki-laki yang harusnya menjadi suaminya. Namun karena kecelakaan naas tak lama sebelum hari pernikahan mereka, rencana pernikahan mereka juga hanya tinggal rencana bersama kepergian Riko yang memang langsung meregang nyawa. Sayangnya, sampai detik ini Indah juga belum tahu, siapa pelaku penabrak Riko. Andai Indah tahu pelakunya justru Fello yang sampai saat ini masih resmi berstatus sebagai istri Liam, ceritanya pasti sudah berbeda.


Ketika akhirnya Indah keluar didampingi oleh para wanita muda berseragam kebaya warna merah hati, detik itu juga dunia seorang Liam seolah berhenti berputar. Seperti yang Liam yakini, Indah Gayatri benar-benar cantik. Kecantikan wanita itu mengalahkan kecantikan bidadari, padahal semua keperluan pernikahan mereka termasuk pakaian pengantin, ia siapkan dengan serba dadakan.


Ini memang bukan pernikahan yang pertama, tapi aku begitu yakin, pernikahan ini akan membuatku merasakan kebahagiaan yang seutuhnya. Sempurna! Batin Liam yang sudah duduk di kursi ijab kabul. Ia berkaca-kaca menatap Indah walau ia juga terus tersenyum.