Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
48 : Roda Kehidupan yang Terus Berputar


Seiring bergulirnya waktu, rumah impian yang Liam bangun akhirnya nyaris rampung. Di halamannya yang luas dan sudah sampai ditanami rumput hias dan tampak sangat hijau, Arla dan Agiel tengah berlarian. Arla yang membawa boneka barbie warna ungu, segera menghentikan lari girangnya ketika sang adik mengeluh karena kesulitan menuntun sepeda roda tiganya.


“Naik sepedanya di jalan, jangan di taman. Itu di lantai dak, tapi jangan sampai keluar dari gerbang, takutnya ada orang jahat!” ucap Arla. Di usianya yang sudah empat tahun lebih, ia makin banyak berbicara. Arla makin pandai mengekspresikan perasaannya termasuk itu semacam ekspresi marah layaknya tadi.


Di rumah impian Liam yang belum sepenuhnya selesai dibangun khususnya penyelesaian akhir di bagian luar rumah, keluarga kecil Liam memang sudah mulai tinggal. Terhitung sejak dua minggu lalu, rumah berlantai tiga itu ditempati setelah sebelumnya juga sampai diadakan syukuran.


Tertatih Arla mendorong sepeda roda tiga milik Agiel, membantu sang adik sekaligus kembarannya belajar bersepeda. Kemudian, sambil terus mendekap boneka barbie-nya, Arla juga tetap masih membantu Agiel mendorong sepedanya. Agiel sudah kembali menunggangi sepedanya kemudian menggoesnya dengan tidak bersemangat karena sudah lebih dulu lelah dan itu juga membuatnya sangat bosan. Acara bersepeda yang awalnya Agiel pikir mengasyikan malah menjadi hal yang membosankan di tengah suasana pagi ini yang juga tak kalah membosankan gara-gara mendung.


Agiel benci mendung. Karena jika mendung, identik dengan gerimis atau parahnya hujan. Sementara sejauh ini, gerimis dan hujan membuat Agiel tidak bisa main dengan leluasa.


“Naik motor memang lebih enak daripada naik sepeda, naik sepeda kayak gini wajib gowes dan enggak sampai-sampai juga” keluh Agiel.


“Ya sudah gowes cepetan biar cepat sampai!” ucap Arla sampai mengejan saking semangatnya dalam mendorong Agiel.


Dari balkon lantai atas, Indah yang kembali hamil dan kini kehamilannya sudah mendekati HPL, menatap damai kebersamaan anak kembarnya. Ini mengenai Arla, yang walaupun galak tapi tetap perhatian apalagi pada Agiel dan papah mamahnya. Termasuk kepada calon adik yang masih di perut, Arla juga sangat sayang. Ketimbang Agiel yang cuek dan gayanya dingin mirip Tuan Muda, Arla jauh lebih bisa diandalkan. Arla tak segan mengingatkan sekaligus membantu Indah menyiapkan su-su hamil maupun vitamin hamilnya.


“Dolongnya jangan kencang-kencang ... Aaaaaaaaa!” jerit Agiel di depan sana.


Namun, Arla tak kuasa menyudahi larinya. Ia tak bisa buri-bue“Agiel, sori!” jerit Arla tak kalah syok dari Agiel. Kini, ia sudah bisa menyudahi larinya, tapi ia gagal menghentikan Agiel maupun sepeda beroda tiga warna biru langitnya.


Indah langsung panik, buru-buru ia pergi dari sana lantaran di depan sana, Agiel menabrak gerbang rumah.


“Sayang, aku cocok pakai dasi yang mana?” tanya Liam yang kali ini memakai kemeja lengan panjang warna biru telor bebek beraksen garis putih kotak-kotak. Ia ada di lantai bawah sembari mengedarkan tatapannya ke sekitar lantaran suasana rumahnya yang masih minim barang, sangat sepi. Namun di lantai atas sana, ia mendapati sang istri yang tengah ia cari, tengah melangkah buru-buru bahkan perlahan menjadi berlari.


“Yang, pelan-pelan, jangan lari, perut kamu!” seru Liam langsung panik.


Bagi Indah, adanya Liam di lantai bawah sana menjadi angin segar tersendiri untuk sesegera mungkin keluar menolong Agiel. Segera ia berucap, “S-sayang, Agiel jatuh! Agiel jatuh dari sepeda nabrak gerbang! Kamu tolong ke depan dulu, ya! Ya ampun, jantungku sesakit ini gara-gara lihat Agiel nabrak gerbang!” Indah sampai ngos-ngosan. Tertatih ia melangkah menuruni anak tangga sambil berpegangan pada pegangan tangga. Sementara di bawah sana, sang suami langsung lari setelah sebelumnya membuang asal dua hanger berisi aneka pilihan dasi, alasan yang juga membuat Liam mencarinya.


“Oh, no! Itu orang jahat, Giel! Kita harus laporin ke Papah!”


“Lutut kamu luka, sini Kakak gendong! Ayo, cepat naik ke punggung Kakak, Giel!” Arla makin heboh dan memang karena telanjur khawatir pada keadaan sang adik.


Agiel yang kedua lututnya memang terluka, langsung menurut mengikuti tuntunan sang kakak. Terpincang-pincang ia melangkah kemudian merangkul punggung Arla.


“Oh, no ... jangan cekik aku, aku enggak bisa napas, Giel! Pegangannya biasa aja!” protes Arla. Namun, ketika akhirnya ia melihat sang papah berlari ke arahnya, ia langsung lari, padahal Agiel belum sempat kembali mendekap punggungnya, hingga yang ada, Tuan Muda irit ekspresi itu malah terbanting mendekap lantai.


“Oh em jiiii, Gieeel!” Arla makin berisik.


Segera Liam mengambil alih. Bagi anak-anaknya, kehadiran seorang Fello jauh lebih mengerikan dari kehadiran hantu maupun zombie. Lihatlah, Agiel sampai babak belur. Dagu dan hidungnya luka parah sampai lecet sekaligus memar. Liam menenangkan sang putra walau Tuan Muda tampannya itu tak sampai menangis atau pun sekadar merengek, mengeluhkan rasa sakit akibat luka-lukanya. Jantung Agiel ia dapati berdetak sangat kencang. Begitu pun dengan jantung Arla yang berdetak tak kalah kencang. Kini, Arla yang biasanya pemberani sampai mendekap sebelah kakinya sangat erat menggunakan kedua tangan.


Fello berkaca-kaca menatap Liam. “Lucu sekali mereka. Rame banget, ya? Sempurna banget hidup kamu,” ucapnya lembut.


Kepanikan di pagi ini mendadak menjadi diwarnai kebimbangan khususnya bagi Liam. Fello yang awalnya sangat keras, bahkan kabar terakhir wanita itu menjadi penghuni RSJ, kini malah bersikap sangat lembut.


“Kakak, ... Agiel, main sepedanya pelan-pelan. Sini Mamah obati dulu luka-lukanya,” seru Indah lembut sembari membawa P3K.


Tatapan sekaligus fokus perhatian seorang Fello, langsung tertuju pada sumber suara wanita yang terdengar lembut sarat kasih sayang tadi. Tentu itu Indah Gayatri, wanita cantik yang tetap tampil mempesona walau tanpa rias bahkan meski wanita itu sedang hamil besar.


“Beneran lagi isi lagi? Hoki banget yah, kamu. Punya keluarga bahagia, istri cantik dan setia, anak-anak juga lucu pinter, cantik, ganteng, begini,” ucap Fello. Ia yang memakai jas sekaligus topi hitam, mengintip kebersamaan keluarga kecil Liam, melalui sela gerbang di hadapannya.


Di mata Liam termasuk Indah yang baru saja sampai di sebelahnya, penampilan Fello khas orang yang tengah berduka. Bahkan sarung tangan yang Fello kenakan masih berwarna hitam. Indah menatap ngeri Liam atas kehadiran seorang Fello di depan mereka. Jarak mereka tak kurang dari dua meter, juga sebuah gerbang yang masih tergembok karena mereka memang belum memiliki satpam. Rencananya, dua hari lagi satpam pesanan mereka baru akan datang dan bertugas dengan semestinya.


“Kalian jangan setakut itu. Aku ke sini hanya ingin berpamitan. Aku, ... aku juga minta maaf. Maafkan semua kesalahan dan juga dosaku kepada kalian, ya. Hari ini, aku akan pergi bersama papah. Rencananya, kami akan stay di sana karena hotel pun, sudah bukan kami yang menguasai. Oke, inilah yang dinamakan bahwa roda kehidupan selalu akan berputar. Semuanya akan ada masanya, tapi sejauh ini, pensiun dari ODGJ dan keluar dari RSJ beneran sudah luar biasa.” Kali ini, Fello tersenyum santai menatap wajah-wajah di hadapannya. Wajah yang sungguh good looking, termasuk wajah Agiel yang babak belur akibat insiden panik tadi.


Fello benar-benar pergi. Kedatangannya yang sempat membuat Liam sekeluarga panik apalagi si kembar, benar-benar hanya untuk pamit. Membuat si Kembar mendadak berisik, kenapa Fello yang keduanya kenal sebagai penjahat malah hanya berkata tidak jelas dan memang belum bisa membuat kedua bocah itu mengerti?


“Sudah ... sudah. Aduh sini, itu lukanya diobati dulu, Giel. Ayo Pah, bawa ke dalam cuci bersih dulu itu,” ucap Indah sengaja mengalihkan perhatian. Ia tak mau mereka apalagi anak-anaknya terlalu larut pada kasus Fello. Meski jujur, Indah masih ragu kepada wanita itu. Namun yang Indah tahu, Amour Hotel memang sudah berpindah kekuasaan. Kini bukan pak Wijaya lagi yang menjadi pemimpin tertinggi. Saham tertinggi di hotel yang sempat sangat jaya di masanya itu juga tak lagi dimiliki pak Wijaya maupun Fello. Mungkin karena itu juga, Fello dan pak Wijaya sampai pindah. Tentunya, ada sebab lain yang membuat keduanya mantap mengambil keputusan besar tersebut.