Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
19 : Trauma Akibat Kecelakaan Riko


 “Aku rebus air dulu buat kamu mandi biar tubuh kamu lebih rileks,” ucap Indah yang buru-buru meninggalkan Liam. Ia melakukannya lantaran ia sadar, cairan hangat yang menyertai rasa panas di kedua matanya nyaris berlinang. Ia sungguh tak kuasa menahan kesedihan apalagi tangisnya jika situasi sudah seperti sekarang.


Indah teringat Riko, yang meregang nyawa di hujan seperti sekarang setelah pria itu menyelamatkannya. Mantan calon suaminya itu menjadi korban pengemudi mobil ugal-ugalan yang sampai sekarang belum ia ketahu kelanjutan nasibnya. Karena jika bisa, Indah ingin membawa kasus Riko ke ranah hukum.


“Ndah ... Sayang, ....” Liam bingung, apalagi teguran yang ia lakukan tetap Indah abaikan. Bergegas ia menyusul sembari mulai melepas jasnya termasuk mengeluarkan ujung kemeja lengan panjangnya dari ikat pinggang.


Liam melangkah cepat menuju kamar Indah yang keberadaannya tidak begitu jauh dari dapur. Kamar Indah ada di ruang ujung rumah sederhana keberadaannya. Indah sudah masuk kamar, kemudian tak lama kemudian wanita itu sudah langsung keluar menyisakan kantong bekal di tangan kirinya.


Tanpa terlebih dahulu bertanya, Liam sengaja menghadang Indah. Namun, wanita itu sibuk menghindar sambil terus menunduk. Liam sengaja menggunakan kedua tangannya untuk meraih kedua sisi wajah Indah. Kedua mata Indah sudah basah dan wanita itu tampak jelas sedang bersedih.


“Masih gara-gara suasana seperti sekarang? Sebenarnya kamu kenapa? Ayo cerita,” lirih Liam.


“Jujur aku trauma. Aku tahu, aku enggak seharusnya bahas, tapi ....” Indah tidak berani menatap atau setidaknya membalas tatapan Liam.


“Trauma dengan suasana seperti sekarang? Apa yang membuatmu trauma? Ada kejadian yang sangat menyakitkan gara-gara ini?” Mengatakannya, yang langsung menguasai pikiran Liam adalah Riko dan kecelakaan Fello. Benar saja, di cerita selanjutnya, Indah sungguh membahasnya. Malahan, Indah meminta bantuan Liam untuk mengusut kasus tersebut.


“Kejadiannya sudah lama, masa iya enggak ada kejelasan, padahal biasanya kalau kecelakaan semacam itu selalu melibatkan polisi? Apalagi semacam jasa raharja, biasanya sampai kasih santunan,” ucap Liam berusaha netral meski tentu saja, kenyataannya yang telah mengetahui kebenaran kasusnya terbilang salah jika berkomentar demikian.


Alasan Liam bersikap netral lantaran pria itu hanya mencari aman. Sebab selama Fello belum mau diceraikan, Liam merasa statusnya akan menjadi bom waktu untuk hubungannya dan Indah.


Indah mengakhiri tatapan penuh harapnya kepada Liam. Ia berangsur menunduk dalam bersama rasa kecewa yang ia rasakan.


“Sayang, jangan sedih gitu dong. Logikanya, kalau pihak Riko saja menerima, bisa jadi sudah ada penyelesaian secara kekeluargaan antara pelaku dan keluarga korban. Enggak mungkin enggak ada kesepakatan. Urus jasa raharja saja ribet harus ada pengantar dari pihak desa, kecamatan, termasuk kabupaten.”


“Posisinya kan kamu juga enggak tahu semuanya. Maksudnya, kamu enggak tahu keseluruhan kasusnya. Karena meski status kamu saat itu merupakan calon istri almarhum, pasti tetap ada privasi dari keluarga mengenai kasus ini karena nyatanya kamu sampai enggak tahu hasil akhir dari kasusnya.” Menatap lekat-lekat kedua mata Indah yang sudah kembali menatapnya, Liam berkata, “Kamu pasti tahu maksud aku. Aku enggak bermaksud meminta kamu untuk berburuk sangka. Namun pada kenyataannya memang begini. Kasus itu bukan enggak ada kelanjutannya, melainkan kamu saja yang enggak tahu. Kalau kamu enggak percaya dan kamu punya keberanian bertanya, kamu bisa memastikannya ke orang tua Riko, besok juga. Namun menurutku, orang tua Riko pasti sudah dapat semacam uang ganti rugi atau uang santunan berjumlah besar. Apalagi tadi kamu bilang sendiri, yang menabrak Riko, orang kaya?”


“Jadi, mereka memang menukar keadilan buat Mas Riko dengan uang?” lirih Indah menebak-nebak dan berakhir dengan tersenyum pedih. Napasnya menjadi terengah-tengah.


Liam tahu Indah sangat kecewa. Tak hanya kepada pelaku, tapi juga kepada orang tua Riko yang sudah menukar keadilan untuk Riko dengan uang.


“Kita enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun ada yang lebih penting dari semua itu. Karena daripada meributkan ini, sekarang Riko jauh lebih membutuhkan doa terbaik dari kamu.” Liam bertutur lirih penuh keyakinan. Tak kalah yakin dari tatapan yang ia lakukan.


Penjelasan Liam yang terdengar bijak sana tanpa mengedepankan cemburu, membuat Indah bersyukur. Indah merasa beruntung karena meski masih terlihat muda, Liam memiliki pemikiran luas tanpa mengedepankan ego.


“Tapi besok kalau hujan begini, kamu jangan pulang, ya?” ucap Indah.


“Loh, atas dasar apa? Mau ketemu kamu, masa iya enggak boleh pulang? Kan aku udah bilang, aku bisa sampai jerawatan kalau nahan kangen ke kamu,” sergah Liam.


“Ya sudah, besok kalau hujan gini, aku pakai helikopter biar enggak nyentuh jalan licin,” balas Liam.


“Kalau pakai heli malah lebih bahaya takutnya kesamber petir,” sergah Indah yang kali ini sampai merengek. Tangan kanannya yang tidak menenteng kantong bekal, mengguncang pelan lengan kiri Liam.


Liam yang menahan tawanya berkata, “Kalau lewat darat enggak boleh dan lewat udara juga sama saja, aku harus lewat mana karena pintu ajaib doraemon sudah dikontrak nobita.”


Bukannya terhibur dengan candaan sang suami yang jelas tengah berusaha mencairkan suasana, Indah malah ngambek dan memilih meninggalkan Liam.


“Eh, beneran ngambek. Sayaanggg ....” Liam menyusul Indah.


“Kamu, kalau istri khawatir, jangan dibikin candaan kenapa? Aku tuh beneran trauma!” ucap Indah ketika akhirnya Liam yang menyusul ke dapur, mendekapnya dari belakang. Pria itu mendekapnya sangat erat.


“Beneran kalau hujan begini, kamu enggak mau aku pulang?” lirih Liam memastikan.


“Iya, LDR-n sebentar enggak apa-apa daripada kamu kenapa-kenapa. Atau mulai besok, aku juga sudah siap kerja lagi.” Membahas pekerjaan, Indah sampai menoleh sekaligus agak balik badan hanya untuk menatap Liam. “Aku masih boleh jadi sekretaris sekaligus asisten pribadi kamu, kan?” Ia sengaja memastikan karena biar bagaimanapun, ia sudah beberapa kali mengundurkan diri.


Liam tersenyum hangat kemudian mengangguk-angguk. Bibirnya yang mengerucut kemudian mendarat di kening Indah. “Tentu.” Wanitanya itu langsung tersenyum hangat.


“Tapi aku enggak mau orang-orang tahu hubungan kita, ya?” sergah Indah.


Liam langsung kebingungan. “Kenapa begitu?”


“Mendadak jadi sekretaris sekaligus asisten pribadi kamu saja, semua karyawati seolah ingin membunuhku. Apa kabar kalau mereka juga tahu aku ini istri kamu?” jelas Indah.


Balasan jujur Indah membuat Liam menahan tawanya.


“Aku pengin profesional saja. Biar kita apalagi kamu tetap fokus bekerja dan pas pulang kerja pun kita bisa quality time dengan leluasa,” lanjut Indah.


Perbedaan Fello dan Indah memang sangat mencolok. Ketika Fello selalu mengekang Liam karena ambisi sekaligus obsesinya, tidak dengan Indah yang selalu berusaha menciptakan kenyamanan untuk Liam maupun hubungan mereka.


Liam menghela napas pelan. “Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus memikirkan tempat tinggal buat kita. Mau tinggal di rumah, apa apartemen saja? Atau kalau enggak, kita ambil apartemen di dekat apartemen mamah aku.”


“Memangnya kita enggak boleh tinggal bareng mamah kamu, ya? Memangnya mamah kamu enggak mau tinggal bareng kita? Mamah kamu sudah tua, lho. Kalau kamu sebagai anak tunggal enggak urus, siapa yang urus? Kalaupun kamu maupun aku enggak bisa jaga mamah kamu selama dua puluh empat jam karena kita juga banyak kesibukan, seenggaknya kalau kita satu tempat tinggal, pas kita pulang, kita bisa ketemu sekaligus urus mamah kamu.”


Satu kata yang mewakili perasaan Liam setelah apa yang Indah jelaskan barusan. BAHAGIA!