
Liam yang pada akhirnya merangkul punggung Indah, berangsur mundur. Ia sengaja membiarkan Fello keluar dari lift atau malah kembali menggunakan lift. Namun yang ada, wanita itu terus menunda di setiap lift tersebut akan menutup. Fello seolah sengaja menunggu mereka sedangkan Liam tak mungkin membiarkan Indah melewati tangga darurat meski itu bersamanya. Liam yakin Indah sudah sangat lelah walau istrinya itu bukan tipikal manja apalagi sampai mengeluh kemudian melampiaskannya dengan tindakan kasar layaknya apa yang selama ini Fello lakukan kepadanya.
Indah yang memilih diam bingung karena meski Liam tampak tak sudi menatap Fello, Fello tak hentinya menatap Liam.
“Mau sampai kapan kalian di situ?” ucap Fello.
“Kalau memang mau pakai lift, pakai dulu.” Indah angkat suara masih berucap sopan bahkan sampai tersenyum hangat.
“Aku tidak memintamu untuk bicara!” sergah Fello sadis.
Indah langsung diam setelah sebelumnya memang terkejut. Ia langsung senam jantung karena tidak terbiasa berkomunikasi dengan wanita kasar bin pemarah sekelas Fello.
“Jangan pernah bicara dengannya karena dia sakit jiwa!” ujar Liam berbicara tepat di sebelah telinga Indah.
Setelah langsung menatap sang suami dan itu karena refleks atas kabar yang baru pria itu sampaikan, Indah menatap prihatin Fello. Namun, ia juga tidak menyangkal informasi dari sang suami. Sebab melihat Fello yang selalu emosional, menegaskan mental sekaligus kejiwaan wanita itu memang bermasalah.
Lantaran Fello mendadak menjadi penunggu lift padahal Liam dan Indah sudah menunggu lama, Indah mengajak Liam untuk turut masuk. Liam pun masuk sambil terus merangkul punggung Indah sementara tangannya yang satu lagi menenteng tas. Seperti yang mereka duga, kali ini Fello tak kembali menahan lift-nya. Fello sungguh menunggu mereka. Kini, mereka berada di dalam lift yang sama. Yang mana Fello selalu memperhatikan kebersamaan Liam dan Indah. Indah merasa tatapan Fello kepadanya cenderung iri. Tatapan orang pemarah yang sangat ingin memisahkan Indah dan Liam.
“Aku siap dimadu,” ucap Fello.
Indah langsung terbelalak menatap Fello yang ada di depan mereka. Sebab Liam membuat mereka tak berdiri berjejer, melainkan menghadap Fello. Liam seolah sengaja untuk menghindari semacam serangan fisik dari Fello.
“Aku akan berubah,” lanjut Liam.
Namun sampai detik ini, Liam tetap cuek. Malahan, Indah yang menjadi gelisah.
Sabar, Ndah. Sabar. Liam enggak mungkin bohong. Karena sebanyak apa pun wanita yang mengejar Liam, separah apa pun mereka memikat Liam, cinta Liam hanya buat kamu, batin Indah menyemangati dirinya sendiri.
“Liam, aku serius. Tolong, jangan bikin aku marah, terlebih kamu sangat tahu keadaanku!” tegas Fello lagi. Tanpa terlebih dahulu menatap deretan tombol di sebelahnya, Liam menekan tombol di sana dan membuat lift terbuka. Indah yang menjadi penonton baik, makin jantungan karena kedua orang yang bersamanya, sama kerasnya. Iya, Liam yang selama bersamanya selalu hangat, juga akan menjadi keras kepala bahkan dingin jika sudah berurusan dengan Fello.
Terpikir oleh Indah, kenapa Liam yang hanya bawahan Fello, begitu berani kepada wanita itu? Atau mungkin karena suaminya itu sudah sangat muak? Indah berpikir begitu karena ia juga menghubungkan kenyataan sekarang dengan ucapan nyonya Nani tak lama setelah Indah dan Liam ijab kabul. Saat itu, nyonya Nani yang menitipkan Liam kepadanya sambil berderai air mata mengatakan, bahwa selama ini, Liam sudah sangat menderita. Benarkah alasan selama ini Liam menderita juga masih Fello?
Indah yang sibuk merenung dan memang berpikir sangat keras, mendadak terkejut setelah sebelumnya sampai tersandung. Ia dapati, Liam yang sudah jongkok di hadapannya.
“Ayo naik ke punggungku, ... aku gendong karena aku tahu kamu udah capek banget,” ucap Liam sambil melongok sekaligus menatap Indah. Istri cantiknya itu tak hanya terkejut, tapi juga kebingungan.
“Kita lewat tangga darurat daripada pakai lift bareng dia tapi lama-lama emosi,” lanjut Liam. Di belakangnya dan tak kurang dari setengah jengkal karena lutut Indah saja sampai menyentuh punggungnya, Indah menatap heran Fello.
“Kamu yakin? Aku berat, lho. Nanti kamu capek. Kita sama-sama jalan saja.” Indah meyakinkan.
“Kamu pakai heels.” Liam tak kalah mengingatkan.
“Ya enggak apa-apa. Biasanya juga gini. Atau kalau enggak, aku bisa lepas alas kaki daripada aku menyakiti kamu—” Kali ini Indah tak lagi bisa mengelak karena Liam yang mendadak berdiri malah membopongnya.
Fello yang masih ada di dalam lift merasa dihakimi. Wanita itu menjadi celingukkan sambil sesekali menelan ludah. Sebab sampai kini, ia masih berpenampilan seksi. Kalau bukan semacam rok pendek, ia yang memakai rok panjang pun rok panjang tersebut akan memiliki belahan hingga paha. Juga, jika bukan bagian dada yang terbuka, pakaiannya pasti akan memiliki bolong di pinggang atau malah punggung nyaris ke pinggang. Sementara Indah, kali ini wanita itu memakai kulot putih dipadukan dengan jas berwarna senada.
“Sayang, aku berat. Kalau gitu, sini tasnya aku yang bawa,” lirih Indah sesaat setelah Liam akhirnya melangkah.
“Enggak apa-apa. Sudah, santai saja. Sejak menikah, dua puluh empat jam waktu yang kamu punya benar-benar nyaris tersita, kan? Pagi sampai malam kerja, belum kalau aku sampai bangunin kamu.” Seperti niatnya, Liam sungguh lewat tangga darurat.
Fello dan semua ambisinya, sebelumnya memang tidak pernah gagal. Sebelumnya Fello bisa melakukan semuanya, termasuk hal-hal sulit bahkan bagi orang lain mustahil. Sebelumnya Fello juga selalu bisa memiliki semua yang wanita itu inginkan termasuk itu dalam urusan asmara. Buktinya, Fello pernah dengan sangat mudah memiliki Liam. Pria itu sempat begitu tunduk kepadanya. Namun, kini semuanya berubah. Kepergian Liam membuat Fello sadar, tanpa pria itu, dunianya hampa. Hidupnya mendadak hambar apalagi dengan begitu mudahnya, Liam telah menemukan kebahagiaan.
Ketika Fello berderai air mata dan membiarkan pintu liftnya tertutup, Indah yang masih dibopong Liam, berangsur mengalungkan kedua tangannya di tengkuk suaminya itu. Kemudian, Indah juga bersandar nyaman di dada bidang Liam.
“I love you!” bisik Indah sambil tersenyum dan sudah memejamkan kedua matanya.
Mendengar itu, Liam yang terus melangkah melewati setiap anak tangga yang harus dilewati, langsung tersipu. Mungkin seperti ini, jalan hidup yang harus aku lalui. Tidak mudah bahkan berat, tapi melewatinya bersamamu membuatku merasa baik-baik saja, batinnya.
***
-Sayang, aku bahagia banget. Apa pun yang terjadi, aku merasa sangat beruntung. Kamu selalu memperlakukannya dengan sangat spesial. Aku sampai sulit buat mengungkapkan kebahagiaanku karena kamu. Walau hubungan kita sempat diwarnai kebencian dariku, bagiku memilikimu dan menjadi istrimu merupakan keberuntungan terindah. Bersamamu ibarat takdir terindah. Maaf jika aku masih akan menambah beban hidup kamu. Namun, semua yang aku lakukan dan mungkin akan membuat kamu kesal, semua itu semata aku sangat menyayangi kamu-
Istrimu yang merasa sangat beruntung dan akan selalu mencintai kamu, Indah.
Pagi-pagi setelah alarm di ponselnya bunyi, mendapat pesan cantik yang tertulis di secarik kertas dan diletakan di sebelah wajahnya, membuat Liam mengawali paginya dengan senyum bahagia.
“Yang ...?” panggil Liam. Namun di kamarnya yang ada di apartemen sang mamah benar-benar sepi. Termasuk ketika ia yang hanya memakai boxer hitam dan kaus lengan pendek polos warna putih, memastikannya di kamar mandi.
Istriku yang cantik dan sangat rajin pasti sedang masak di dapur, pikir Liam. Segera ia memastikan dan pergi ke dapur. Benar saja, di depan wastafel sana, istrinya tampak tengah mencuci tangan.
Tanpa pikir panjang, Liam yang mempercepat langkahnya hingga membuat sang istri sampai menoleh kemudian memberikan senyum terbaik kepadanya, langsung memeluk erat wanitanya itu.
“Kenapa enggak bangunin aku? Aku kan bisa bantu-bantu semacam cuci sayur atau cuci gerabah asal dikasih arahan, hasilnya pasti lumayan,” ucap Liam. Ia yang masih mendekap erat tubuh Indah dari belakang, juga mengabsen wajah maupun leher sang istri dengan ciumaan gemas.
“Ehhhm!!”
Liam tahu, barusan dehaman siapa. Itu mamahnya yang ternyata ada di seberang meja konter dapur dan memang tidak terlihat jika hanya dari pintu masuk. Nyonya Nani yang duduk di kursi roda tanpa kawalan sang suster. Wanita itu langsung menggeleng tak habis pikir dengan ulah sang putra.
Bukannya merasa malu layaknya apa yang nyonya Nani lihat dari gerak-gerik Indah, Liam malah tertawa.
“Serius, Mah. Aku enggak tahu kalau di situ ada Mamah. Lagian tumben banget, sepagi ini Mamah sudah bangun, tanpa Suster lagi!” protes Liam di sela tawanya.
“Kamu ya. Kebetulan mamah haus dan mamah ketemu Indah yang mau ke dapur. Ya sudah, sekalian nemenin Indah masak karena Mamah yakin, kamu masih terdampar di pulau kapuk!” ujar nyonya Nani.
Indah hanya menahan senyumnya, selain ia yang jujur saja merasa malu ketika keperok layaknya tadi.