Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
42 : Manisnya Hubungan Indah dan Liam


Indah tengah melihat-lihat suasana restonya yang terbilang ramai pengunjung. Di jembatan gantung juga dihiasi beberapa pengunjung yang sedang melihat keindahan pemandangan dari sana. Tak jarang, mereka juga akan berswafoto menggunakan ponsel yang mereka bawa.


Rasanya sebahagia ini, puas banget lihat mereka menyukai resto dan penginapan milik mas Liam. Rasanya semua pengorbanan beneran terbayar, batin Indah yang memegangi perut besarnya sambil mengamati suasana sekitar. Dua minggu lagi merupakan HPL-nya, tapi sejauh ini, bayi kembarnya masih sangat aktif. Senyum di wajah Indah terus berlanjut apalagi ketika pandangannya memergoki sang suami menjadi salah satu penghuni di jembatan gantung. Liam yang kali ini memakai kemeja lengan panjang slim fit warna abu-abu, jelas sedang menggo-danya. Pria itu mencondongkan tubuh kepadanya sambil berpegangan pada tali jembatan.


“Yang, kamu enggak mau ke sini? Panas-panas begini, di sini anginnya spoi-spoi. Seger banget,” ucap Liam yang mengakhiri ucapannya sambil mengacak asal kepalanya.


“Suamiku enggak jelas banget!” ujar Indah tertawa geli dan memang menertawakan Liam.


“Aku sudah pesan rujak dan es kelapa hijau! Waw! Bayi kembarku pasti seneng banget!” Kali ini Liam memamerkan sepiring penuh berisi rujak iris yang baru saja ia terima dari pekerjanya.


Tak hanya Liam yang menahan senyum. Karena pria muda yang merupakan pegawai pengantar rujak juga sibuk tersenyum. Pemuda itu tahu sang bos tengah meng-goda Indah.


“Sayang! Kamu tahu kan, aku sudah enggak bisa naik ke situ. Takut keban-ting, dan takutnya kalau aku di sana, yang lain juga enggak bisa lewat!” omel Indah yang kini juga sudah bisa berbicara normal. “Kelakuanmu!” lanjut Indah lantaran suaminya malah tertawa. Namun ketika Liam tersedak, ia menjadi khawatir.


“Sini turun!” pinta Indah.


“Ke tenda, ya. Aku sudah minta orang buat bangun tenda karena kamu memang sudah enggak mungkin ke sini,” ucap Liam yang masih batuk-batuk.


Indah langsung melongok ke halaman depan restonya. Benar saja, di sana sudah ada tenda warna biru yang baru saja selesai dibangun. Senyum indah kembali hadir di wajahnya yang sudah sangat berisi seiring dua karyawan yang membungkuk hormat kepadanya, memberinya kode untuk masuk ke dalam tenda yang sudah disediakan. Tampak ada meja bundar tidak begitu besar, di tengah-tengah tenda bagian dalam.


Seiring langit yang menjadi mendung, Indah berangsur mendekat. Sesekali ia juga menoleh ke sebelah kanannya. Karena di sana, Liam yang melangkah sejajar dengannya juga kerap meliriknya sambil mengumbar senyum. Mereka mirip pasangan baru yang sedang manis-manisnya berpacaran.


Indah yang lebih dulu sampai di dekat tenda tak lantas langsung masuk. Ia menunggu Liam yang tengah turun. Ia menunggu di depan pintu masuk tenda dan masih dijaga oleh seorang pekerja wanita muda. Ketika akhirnya Liam sampai, Indah langsung meraih sepiring rujaknya, meski ia juga langsung menerima sedotan yang Liam suguhkan untuk meminum segelas es kelapa hijau.


“Panas gini, mendadak mendung, yang ada sumuk. Harus makin rutin minum kelapa hijau biar si kembar bersih,” ucap Indah di sela jeda minumnya.


“Pabriknya saja bersih, hasilnya pasti bersih,” ucap Liam lembut sekaligus mengingatkan. Namun sang istri langsung menahan tawanya.


“Sayang, mau hujan. Aku mau tantang kamu buat bareng aku di tenda sampai besok, mau?” tantang Indah.


“Jangankan di dalam tenda, hujan-hujanan banyak petir juga hayo, asal itu buat kamu!” balas Liam yang kemudian meminta karyawati di sebelahnya mengambilkan satu bantal dan satu selimut.


Pipi putih Indah langsung menjadi merah merona. “Bahagianya ...,” ucapnya sambil menahan senyum, membiarkan sang suami menuntunnya masuk pada tenda.


“Selain rujak, kamu mau makan apa lagi?” tanya Liam sambil duduk di sebelah Indah. Ia turut menyantap rujaknya lagi.


“Sediakan saja yang banyak karena selera makanku sedang bagus-bagusnya. Tapi tetap sih, wajib makan empat sehat lima sempurna, biar aku sama si kembar juga sehat,” ucap Indah tak sadar terus diperhatikan Liam.


Liam tak kuasa menyudahi senyumnya hanya karena kesibukannya memperhatikan Indah yang tengah lahap memakan rujak potong. Wanitanya itu baru saja melongok ke luar lantaran ada gemuruh yang terdengar. Kemudian, ia sengaja meraih segelas es air kelapa hijau lantaran Indah tampak akan minum. Ia sengaja mempermudah Indah.


“Sayang, sepertinya beneran mau hujan!” ucap Indah sesaat setelah selesai minum.


“Ya enggak apa-apa. Kita beneran di sini. Enggak usah mandi enggak apa-apa lagian dingin banget!” balas Liam yang langsung memeluk erat Indah dari samping. Indah yang kembali lanjut makan rujak langsung memejamkan mata sambil tersenyum geli.


“Sebelum lahiran, kamu mau ke mana? Mau jalan, apa mau makan apa, apa mau beli apa?” tanya Liam. Baru saja, karyawati yang ia utus mengambilkan bantal dan selimut, datang. Setelah menerima dan tak lupa mengucapkan terima kasih, ia juga memberikan catatan makanan dan minuman yang ia pesan.


“Ini kita lagi jadi tamu di resto kita sendiri jadi mau makan apa minum apa yang tetap bayar!” sergah Liam sembari menahan tawanya.


Tak hanya Indah yang ikut tertawa karena karyawatinya pun iya.


“Keong ...?” Liam mengernyit heran.


“Iya, keong!” balas Indah bersemangat karena ia memang sangat ingin makan sate keong.


“Yang di sawah sama kali sebelah itu kan, Yang?” balas Liam memastikan.


“Iya, Yang. Bener yang itu ....”


“Ya sudah, nanti aku utus prajurit-prajurit buat cari di kali sama sawah biar hari ini juga kamu bisa makan. Bentar,” ucap Liam meninggalkan Indah yang sibuk menahan tawa.


“Prajurit siapa, sih?” tahan Indah.


Liam yang sudah ada di depan tenda sengaja balik badan hanya untuk menatap Indah. “Anak-anak. Tadi mereka lagi main di sawah cari ikan. Sekalian mau aku minta cariin keeong.”


“Minta cariin tutut juga, nanti kita tinggal bayar. Sudah sana cepat mumpung belum hujan!” sergah Indah makin bersemangat.


“Tu-tut?” Liam yang memang tidak tahu karena dari kecil, baru saat bersama Indah dirinya mengenal hal-hal yang menjadi bagian dari kehidupan rakyat biasa, menjadi kebingungan.


Indah langsung mengangguk-angguk bersemangat. “Iya, tu-tut! Bilang saja, mereka dijamin tahu.”


“Oke ... oke!” Liam sungguh pergi lewat jembatan gantung tali di sebelah tenda. Pria itu terus melangkah cepat menuju resto bagian belakang. Sayang, kita beruntung banget lho, punya papah Liam. Lihat, semuanya langsung papah Liam lakukan kalau buat kita, batin Indah yang mengajak kedua anak kembarnya berkomunikasi di tengah kesibukannya menikmati es air kelapa hijau melalui sedotan.


Malamnya di tengah hujan yang tengah mengguyur kehidupan, Liam dan Indah tengah menikmati sate pesanan Indah. Dari empat piring penuh berisi sate, di sana ada satu piring sate keong pesanan Indah. Liam yang sudah lebih dulu mencoba sebelum sang istri memakan, masih mengunyah enggan satu sate keong di dalam mulutnya.


“Sayang, rasanya masih aneh. Lidahku beneran enggak mau kenalan sama rasanya,” ucap Liam.


“Berarti lidah kamu sombong, enggak mau kenalan sama sate keong yang seenak ini!” ucap Indah sambil menahan tawanya.


Liam yang juga menahan tawa, refleks mencubit gemas sebelah pipi Indah. “Berarti misi hari ini, aku berhasil lagi, ya? Sate keong, besok tinggal masak tutut karena tututnya masih wajib direndam air biar bersih?”


Sambil terus mengunyah sate keong di dalam mulutnya, Indah tersenyum, menyodorkan kedua jempol tangannya kepada sang suami. “Pinjem jempol orang-orang juga buat kamu.”


Jika dipikir-pikir, Liam tidak pernah berpikir hidupnya akan senaik-turun sekarang. Terkadang Liam sampai tak percaya, kebahagiaan yang dulu ia bayangkan akan ia dapatkan bersama Fello, menjadi CEO Amour Hotel dan kerap keliling dunia untuk kepentingan bisnis maupun liburan, malah menjadi hal yang di luar perkiraan. Liam menemukan kebahagiaan lain. Kebahagiaan dari kesibukan bahkan dunia asing, tapi selalu membuatnya bahagia bahkan nyaman. Bersama wanita cantik di sebelahnya yang juga menjadi sumber kebahagiaan sekaligus semangatnya. Wanita cantik bernama Indah Gayatri yang telah menjadi dunianya.


“Sayang, sudah ada berapa yang ikut kemah hujan-hujanan?” tanya Indah kemudian sambil melongok dari sebelah Liam selaku keberadaan pintu tenda.


“Baru empat, tapi hasilnya lumayan dan diperkirakan masih bisa tambah karena sekarang baru pukul ....” Liam memastikan waktu di arloji hitam yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. “Delapan.”


“Tapi aku sudah ngantuk banget,” rengek Indah yang memang sudah menyelimuti tubuhnya dengan selimut hangat.


“Kamu kekenyangan, makannya gampang ngantuk. Ya sudah, sekarang kamu tidur. Nanti kalau ada yang seru, aku bangunin,” balas Liam yang terus tersenyum. Ia menuntun Indah untuk tidur di pangkuannya dan sebelumnya sudah sampai ia taruh bantal.


“Sayang, kalau dipikir-pikir, kita selalu jadi endors dari produk-produk kita, ya?” ucap Indah yang mulai memejamkan kedua matanya. Rasanya sangat nyaman bisa tidur di pangkuan Liam dan selalu dijaga oleh suaminya itu.


Liam yang menahan tawanya membenarkan anggapan Indah. “Daripada bayar orang, mending biayanya buat yang lain. Memangnya kamu enggak mau punya rumah pribadi juga? Gini-gini, aku juga lagi kumpulin modal buat beli tanah biar kita bisa bangun rumah pribadi juga.” Liam menatap Indah yang kembali membuka matanya. Tatapan penuh sayang khas orang yang sangat mencintai.


Bohoong kalau Fello enggak nyesel setelah dia melepas suami sebaik Liam. Apalagi aku yakin, saat kepada Fello, Liam juga semanis sekarang. Fello saja yang kebangetan. Bayangkan lima tahun, dan seorang Liam yang gigih dan sangat sabar sampai memilih menyerah, batin Indah. Iya, Indah yakin, di balik kebahagiaan mereka, di balik kesuksesan Liam, ada mantan dan itu Fello yang merasa sangat terluka.