Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
18 : Kehancuran Fello


“Liam, ... ulangi sekali lagi. Katakan kepadaku bahwa kamu hanya sedang mempermainkanku. Kamu sengaja membuatku marah karena kamu—”


Suara bergetar Fello terhenti lantaran Liam malah meninggalkannya. Fello bingung sebingung-bingungnya sebab dunianya yang berporos pada Liam, sungguh tidak baik-baik saja. Pria itu keluar dari ruang kerja, tapi ia tetap tidak melakukan perubahan berarti. Fello tetap diam di tempat yang sama, tak ubahnya perubahan yang terjadi pada hubungan mereka. Karena ketika Liam mengaku sudah menikah lagi, ia yang selalu berkuasa malah tidak bisa apa-apa.


Kini, tatapan Fello tertuju pada bekal Liam. Ia menatap bekal tersebut dengan mata bergetar sekaligus basah, di tengah napasnya yang memburu, menahan amarah. Bekal yang Liam katakan wujud dari cinta sang istri, wanita lain yang tentu bukan Fello. Liam, sungguhkah pria itu benar-benar sudah menikah lagi? Atas dasar apa dan kenapa sangat cepat karena Liam bahkan belum genap satu minggu menjatuhkan talak kepada Fello?


“Jadi, wanita macam apa yang dikata Liam jauh lebih baik dariku? Wanita seperti apa yang bisa mengalahkanku, menyingkirkan aku dari kehidupan Liam?!” lirih Fello benar-benar geram. Gigi-giginya yang saling bertautan menciptakan gemeretak, sedangkan kedua tangannya yang mengepal, juga sampai gemetaran. Ia sungguh tidak terima dan sampai kapan pun tidak rela jika apa yang Liam katakan, mengenai pria itu yang menikah lagi, benar adanya.


Pengakuan sekaligus kabar yang Fello terima dari Liam, sukses memorak-porandakan kehidupan wanita itu. Di lain sisi, Fello yakin tak ada yang lebih baik darinya. Namun di sisi lainnya lagi, Liam sudah tidak peduli kepadanya. Pria itu benar-benar memiliki dunia baru yang tak lagi menjadikannya sebagai bagiannya. Talak dan perceraian yang Liam jatuhkan bukan gertakan semata. Liam benar-benar sudah meninggalkannya, bahkan sekalipun mereka sedang bersama, pria itu menganggapnya asing. Ia bukan lagi yang terpenting.


Malamnya, Fello membuktikan semua ketakutannya. Ketakutan yang menegaskan bahwa dirinya memang kalah. Karena setelah setengah hari ini mengawasi Liam secara langsung, Fello yang juga sampai mengemudi sendiri mengikuti kepulangan Liam, justru ditampar dengan kenyataan Liam yang memang pulang ke tempat lain. Tempat yang jujur saja bagi Fello tidak asing.


Indah Gayatri, nama itu langsung menguasai kehidupan seorang Fello. Fello tahu rumah tersebut merupakan rumah orang tua Indah karena di depannya pun merupakan rumah makan berkonsep lesehan milik orang tua Indah. Sedangkan dulu, sekitar satu tahun yang lalu, Fello mengalami kecelakaan di tikungan belakang sana. Lebih tepatnya, Fello yang saat itu menyetir sendiri di tengah suasana hujan layaknya kini, kehilangan keseimbangan kemudinya lantaran Fello mengemudi dengan sangat emosional.


Kala itu, Fello nyaris menabrak Indah yang tengah melangkah di pinggir jalan tak jauh dari sekitar warung. Namun sebelum Indah benar-benar tertabrak, seorang laki-laki dan tak lain Riko calon suami Indah, datang menyelamatkan Indah. Tragedi itu pula yang membuat Riko malah meregang nyawa. Karena keputusan pria itu mendorong Indah untuk kembali ke pelataran rumah makan, malah membuat dirinya yang tertabrak mobil Fello.


Fello masih ingat, saat itu mobilnya sampai tersangkut di pepohonan besar di belakang sana. Saking kencangnya laju mobil yang ia kendalikan, bagian depan mobil sampai meledak. Beruntung tak butuh waktu lama, orang-orang yang ada di sekitar lokasi kecelakaan langsung bahu-membahu mengeluarkan Fello dari mobil. Tentu Fello juga tidak lupa bahwa karena kecelakaan tersebut juga, dirinya keguguran. Saat itu, Liam sampai menangis karena terlalu mengkhawatirkannya terlebih anak pertama mereka juga sampai pergi lebih cepat. Malaikat tak berdosa yang sangat Liam nantikan itu pergi sebelum merasakan indahnya kehidupan.


Kini, perasaan Fello sungguh campur aduk. Ia menghentikan laju mobilnya tak jauh dari tikungan ia mengalami kecelakaan. Di depan sana, di sebelah rumah makan keluarga Indah, seseorang memakai payung datang menghampiri mobil Liam yang sudah berhenti. Orang tersebut yang memakai piama lengan panjang warna merah hati, Fello yakini seorang perempuan. Orang tersebut berangsur mundur ketika pintu kemudi tempatnya menunggu, perlahan dibuka dari dalam.


Liam keluar sambil menenteng tas kerja maupun bekalnya. Namun, si wanita yang mengendalikan payung langsung mengambil alih tas Liam maupun kantong berisi kotak bekalnya. Yang mana tak lama setelah itu, Liam mengambil alih payungnya kemudian merangkul erat pinggang sang wanita dan Fello yakini sebagai Indah.


“Sejak kapan mereka begitu? Sejak kapan mereka bersama? Sejak kapan Liam berani mengkhianatiku?!” Fello menangis meronta-ronta. Kedua tangannya menghantam kasar kemudinya dan sampai membuat klakson menimbulkan suara.


Melihat laki-laki yang sangat dicintai dan masih ia anggap sebagai suami malah bermesraan dengan wanita lain, benar-benar membuat hati sekaligus dunia seorang Fello remuk redam. Fello ingin menghentikan Liam, kemudian menyeret wanita pengganggu yang sudah dinikahi Liam diam-diam, pada titik nadir. Fello ingin membuat Liam menyaksikan kehancuran dari wanita itu sebagai peringatan sekaligus hukuman keras agar pria itu takut sekaligus tunduk kepadanya. Namun pada kenyataannya, menghadapi Indah Gayatri tak semudah itu.


Fello memiliki ketakutan khusus. Karena setelah kecelakaan itu, Fello merasa memiliki kelemahan. Ia telah membunuh Riko dan beruntung, sang papah berhasil membungkam orang tua Riko menggunakan uang sekaligus kedudukan mereka. Hanya saja, Fello takut, sewaktu-waktu dirinya kembali dituntut dan membuatnya harus mendekam di balik jeruji penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


“Memangnya kamu enggak baca WA aku?” lirih Indah.


“Kamu WA aku? Kapan? Apa pas aku nyetir?” tanya Liam yang baru saja menurunkan payungnya dan menaruhnya di teras rumah orang tua Indah.


“Belum ada satu jam sih, mungkin memang pas kamu lagi nyetir.” Indah menghentikan langkahnya, kemudian menatap sekaligus menghadap Liam penuh kekhawatiran.


“Kamu kenapa?” tanya Liam lembut. Kedua tangannya langsung membingkai wajah Indah penuh sayang.


“Pikiranku selalu kacau kalau sedang hujan, macet, dan jalanan jadi licin seperti sekarang,” ucap Indah yang menatap ngeri suasana jalanan dan seperti apa yang baru saja ia katakan.


Liam turut mengamati suasana jalan. Ia yang masih bertanya-tanya jauh di lubuk hatinya sana mulai menduga, ada yang telah telanjur membuat Indah trauma hingga wanta itu menjadi tidak baik-baik saja jika keadaannya seperti sekarang.


Menghela napas pelan, Indah berangsur menatap Liam. “Lain kali kalau hujan begini, kamu enggak usah pulang saja. Soalnya jalanan sekitar sini licin banget. Kamu sudah seharian kerja dan aku tahu, kerjaan kamu beneran menguras tenaga sekaligus menguras otak. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa,” ucapnya.


“Kalau aku enggak pulang dan otomatis enggak ketemu kamu, aku kangen. Nanti aku jerawatan.” Liam mengelus-elus gemas kedua pipi Indah yang masih ia bingkai.


“Daripada kamu kenapa-kenapa, rasanya nyeri banget bayangin kamu nyetir di jalanan penuh tanjakan dan juga sangat licin,” balas Indah yang malah membuat seorang Liam tersenyum hangat menatapnya. Malahan, pria itu sampai menaut bibirnya dengan lembut.


“Istriku perhatian banget. Gimana aku enggak tambah cinta apalagi kangen kalau istriku saja sayang banget aku?” ucap Liam lembut dan sengaja memuji Indah.


“Ya iya aku perhatian, aku sayang banget ke kamu karena aku ini istri kamu, wajar aku begini. Yang enggak wajar itu kalau aku perhatian apalagi sayang ke suami orang!” protes Indah mengomel.


Senyum di wajah Liam seketika menguap hilang tak tersisa hanya karena kata suami orang yang Indah katakan. Biar bagaimanapun, Liam sadar dirinya masih suami orang lantaran sampai sekarang, Fello masih tidak mau diceraikan.


Di Persembunyiannya, Fello yang melihat interaksi manis Liam kepada Indah, sudah makin tak katuan. Fello sesenggukan dan sampai menghantam-hantamkan keningnya pada kemudi.


“Aku harap ini hanya mimpi. Aku yakin ini hanya mimpi. Itu tidak mungkin Liam karena sejauh ini, Liam hanya menyayangiku. Liam hanya mencintai aku!” raung Fello di tengah isaknya.