
“Yang, ... kamu sudah pastiin, Fello beneran sudah pergi bahkan pindah ke Ausi, seperti yang dia katakan?” tanya Indah.
“Kalaupun dia punya niat jahat, semuanya balik lagi ke dia kok. Aku sih sudah enggak takut, sudah terlalu kebal.” Liam dengan santainya membereskan pekerjaan di laptopnya. Padahal di sekitarnya, sang istri sudah pembukaan lima. Namun seperti kehamilan sebelumnya, kelahiran kali ini juga kembali Indah jalani dengan sangat tenang.
Bagi Liam, Indah memang satu di antara sekian manusia khususnya wanita langka. Wanita yang selalu siap sekaligus bertanggung jawab dalam semua yang ada dalam hidupnya. Semacam mengeluh, Indah hanya akan melakukannya jika memang yang dihadapi sudah sangat keterlaluan.
“Jangan memikirkan hal-hal yang hanya membuat suasana hati kamu tidak baik. Kamu selalu bilang gitu ke aku, kan?” ucap Liam yang kemudian menatap Indah. Walau balas menatapnya, istrinya itu masih melangkah ke sana kemari demi menambah pembukaannya.
“Kadang, orang yang selalu mengingatkan sekaligus menguatkan juga butuh dikuatkan, Yang,” ucap Indah yang memunggungi Liam lantaran rute langkahnya memang meninggalkan suami itu.
Mendengar itu, Liam langsung mesem kemudian menoleh, menatap kepergian Indah.
“Aku mau ngobrol sama anak-anak dong,” pinta Indah yang melangkah mendekati Liam.
Arla dan Agiel belum genap enam tahun, keduanya memang tidak diizinkan ikut serta di rumah sakit. Karenanya, keduanya dititipkan kepada oma dan opa mereka. Di kediaman orang tua Indah, nyonya Nani turut serta mengasuh keduanya. Dan berbeda dengan kelihatan Arla-Agiel, persalinan kali ini benar-benar sudah Indah maupun Liam siapkan. Mereka memesan kamar VIP di salah satu rumah sakit ibu dan anak elite. Ruang rawat yang mereka pakai saja berfasilitas mewah. Tentunya kontrak ketika mereka melahirkan Arla dan Agiel yang hanya di rumah bidan.
“Bentar,” ucap Liam menyanggupi. Kali ini, ia memilih meninggalkan pekerjaannya kemudian mendekati Indah yang menjadi fokus perhatiannya.
“Yang sekarang, lebih sakit dari yang pas Agiel sama Arla loh, Yang,” lirih Indah sambil meraih tangan kiri Liam yang tak memegang ponsel.
Liam langsung menyikapi Indah dengan serius. “Kamu mau makan apa?” tawarnya lantaran di setiap hamil, Indah menjadi pemakan yang sangat baik.
Indah menahan sakit sambil menahan tawa. Ia mendekap erat tangan kiri Liam. “Yang ini enggak mau disogok pakai makanan, Yang!”
Liam masih serius karena memang terlanjur khawatir. “Terus, mempannya disogok pakai apa?”
Indah merengek nyaris menangis seiring dekapannya kepada Liam yang makin erat.
“Ya maunya apa, sudah ngomong saja,” lanjut Liam lembut disusul tangan kananya yang kemudian mengelus-elus perut Indah. Ia tak jadi menelepon sang mamah untuk menghubungi Arla dan Agiel. Ia memilih fokus pada persalinan Indah Anak ke tiga mereka berjenis kelamin laki-laki, tapi baru saja, Indah berdalih rasa dan sensasi pembukaannya jauh lebih menyakitkan dari Indah melahirkan Arla dan Agiel.
“Sudah-sudah, sini ....” Liam mendekap punggung Indah. Tanpa keluhan lain, istrinya itu balas memeluknya, mencengkeram bahu kirinya erat seiring isak yang terdengar lirih. Hanya sebatas itu tanpa keluhan lagi tanpa adanya raungan kesakitan layak persalinan pada kebanyakan.
“Panggilin dokternya dong. Kayaknya memang sudah mau keluar. Lihat, keringat aku saja sampai begini, kan? Banjir,” pinta Indah.
Indah mengangguk-angguk. “Ini aku sudah pengin pipis. Kayaknya emang udah pembukaan sempurna. Udah diem juga Arlend-nya.” Indah menatap khawatir perutnya. Seperti kedua kakaknya, walau masih janin, mereka memang sudah memiliki nama dan anak kali ini, mereka beri nama Arlend.
Liam mengangguk-angguk paham. Namun sebelum ia meninggalkan Indah, ia sengaja mengantar istrinya itu ke kamar mandi karena kontraksi yang Indah alami, mulai membuat istrinya itu kebelet pipis sekaligus semacamnya.
Ketika Liam kembali bersama seorang suster, Indah sudah nyaris melahirkan. Di sekitar Indah sudah banjir ketuban dan tanpa menunggu dokter, hanya bantuan suster yang Liam bawa, Indah melahirkan, setelah sebelumnya Liam membopong ke tempat melahirkan secara khusus dan keberadaannya ada di sebelah ranjang rawat yang sempat Indah tempati.
“Ini beneran mirip aku,” ucap Liam menahan tawa bahagianya seiring ia yang mengemban anak ketiganya dan memang berjenis kelamin laki-laki. Ia membawanya pada Indah yang akan langsung memberi Arlend ASI untuk pertama kalinya.
“Kita sebahagia ini. Kita punya semuanya. Kita bahkan bisa memiliki anak dengan sangat mudah. Kita juga selalu bisa membangun usaha maupun memiliki yang kita mau dengan sangat mudah. Jadi memang enggak seharusnya kita memikirkan orang lain melebihi kita memikirkan diri kita,” ucap Liam. Ia menatap Indah penuh kedamaian. Karena semuanya memang baik-baik saja, sementara bersama Indah membuatnya memiliki semua bahagia maupun angannya.
“Tadi mamah bilang, Arlend bukan tipikal yang bisa disogok pakai makanan apa minuman. Jadi, Arlend maunya apa?” tanya Liam yang kali ini sengaja menggoda sang istri. Lihatlah, Indah menjadi tersipu dan tampak malu-malu mengatakan kemauannya.
“Makan dulu, ya. Ini aku minta papah buat bawa makanan kesukaan kamu. Mamah sudah heboh masakin banyak makanan buat kamu,” bujuk Liam yang kemudian memberikan ponselnya kepada Indah.
“Sudah kamu mau apa, pilih saja. Sekarang kan semua serba online. Yang penting jangan sampai beli suami online saja,” ucap Liam sengaja meng-goda sang istri dan usahanya sungguh sukses. Sambil terus memberi Arlend ASI, Indah tampak memilih menggunakan ponselnya.
“Beli apa sih, Yang?” tanya Liam penasaran.
Indah langsung tersipu. “Kamu tinggal bayar saja.”
“Bukan suami online beneran, kan?” sergah Liam masih sibuk menggoda.
Indah buru-buru menggeleng. “Enggak, ih. Aku cuma mau, kita menginap di resto kita. Keluar dari rumah sakit, langsung nginep gitu kayak pas kakak-kakaknya,” yakinnya. Namun, Liam malah langsung kebingungan dan buru-buru mengambil alih ponselnya.
“Ih serius. Masa iya kamu cuma minta ini? Nginep di resto sendiri? Beneran hanya ini? Bentar-bentar ... aku perhiasan sama tas, ya? Bentar aku pengin kamu pakai cincin berlian yang pakai batu mutiara merah apa ungu. Nah, ini kamu pilih yang mana?”
Liam benar-benar marah jika kali ini, Indah tetap tidak mau menghadiahi diri dengan barang-barang mewah pilihannya.
“Menghadiahi diri itu penting, biar kita tetap waras,” ucap Liam dan kali ini, Indah mengangguk-angguk patuh. Tak lupa, mereka juga langsung melakukan telepon video dengan kedua anaknya. Keduanya kegirangan dan tak sabar bertemu dengan sang adik.
Sebahagia itu mereka hingga tak ada lagi yang harus diceritakan. Andaipun akan ada cerita anak-anak, nanti aku kabarkan lewat grup atau insta-gram, ya. Kita bertemu di novel selanjutnya. Terima kasih banyak karena sudah mengikuti kisah ini sampai akhir.