Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Murka Dayana


Amber bisa melihat wajah Arion berubah menjadi lebih tegang sejak meninggalkan restoran. Amber tidak tahu siapa pemilik mobil berwarna merah yang tiba di restoran saat pesta sudah usai, namun kini Amber melihat mobil merah tersebut berjalan mengikuti mobil yang sedang mereka tumpangi.


"Kau terlihat cemas," ungkap Amber dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja." Arion tersenyum dan menggenggam tangan Amber.


Arion paham, ibunya akan murka karena diam-diam ia telah resmi melamar Amber di hadapan banyak orang. Bukan salahnya jika menyembunyikan pesta lamaran ini dari Dayana, karena jika wanita paruh baya itu sampai mengetahuinya, Arion yakin pesta akan berubah menjadi malapetaka.


Saat mobil telah memasuki gerbang rumah, Arion turun dengan cepat dan meminta penjaga untuk menutup gerbang dan tidak membiarkan siapapun masuk bahkan jika itu adik dan ibunya.


Amber semakin khawatir, ia curiga jika Arion menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ada apa?" tanya Amber penasaran saat Arion berlari kembali padanya.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Ayo masuk!" ajak Arion. Ia menggendong Aara dan membawanya ke kamar. Sementara Amber berjalan di sampingnya.


Setelah meletakkan Aara di atas tempat tidur, Arion meminta Amber duduk di sofa bersamanya.


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Amber to the point.


"Maafkan aku, tapi ini adalah pilihan terbaiknya. Kau melihatku cemas? Ya, aku cemas karena sekarang ibu dan adikku pasti berada di luar gerbang rumah sambil mengamuk. Tapi yang pasti, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."


"Lalu, sekarang bagaimana?"


"Kau hanya perlu beristirahat, aku akan mengurus mereka."


"Tapi ...."


"Percayalah, semua akan baik-baik saja," ujar Arion meyakinkan. Ia paham Amber pasti merasa jika keberadaannya semakin terancam jika sudah berhubungan dengan Dayana.


Amber menarik napas panjang, berusaha meredakan rasa khawatirnya. Bagaimanapun, Dayana adalah ibu Arion.


Caroline terus membunyikan klakson mobilnya hingga terdengar ke dalam rumah. Amber semakin gelisah, namun ia tidak takut jika harus menghadapi mereka.


"Buka gerbangnya! Saya bilang buka!" teriak Dayana pada dua penjaga yang berdiri menghadang mereka di luar gerbang.


"Maafkan saya, Nyonya. Ini perintah Tuan!" jawab salah seorang penjaga.


"Saya tidak peduli, buka!" bentaknya. Sementara Caroline, tidak henti-hentinya membunyikan klakson mobil.


"Nona, saya mohon hentikan. Nona membuat keributan, ini akan mengganggu tetangga yang lain," tegur salah seorang penjaga dengan perasaan takut.


"Aku tidak peduli. Buka atau aku akan menabraknya!" seru Caroline tidak kalah marah.


Kedua penjaga kebingungan, ibu dan anak ini bagaikan dua singa liar yang tengah kelaparan. Mereka memangsa siapa saja dan apa saja yang ada di hadapan mereka.


"Aku akan ikut bersamamu menemui mereka," ucap Amber.


"Tidak, tetaplah di sini. Aku mohon, Sayang," bujuk Arion. Ia meraih tubuh Amber dan memeluknya. "Aku tidak mau mereka menyakitimu, tetaplah di sini."


Melihat bagaimana kekhawatiran Arion, akhirnya Amber mengalah dan memilih untuk menuruti perkataan laki-laki itu.


"Pergilah," ucap Amber. Suara klakson mobil benar-benar tidak berhenti, dan Amber khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.


Arion pun tersenyum meninggalkan Amber. Laki-laki itu berlari menuruni anak tangga dengan cepat sebelum ibu dan adiknya menghancurkan gerbang rumahnya.


Saat tiba di depan gerbang, Amber memberi memanggil penjaga yang berada di luar dan memintanya untuk membuka gerbang.


"Arion!" suara keras dan lantang dari wanita paruh baya yang telah melahirkan Arion tiga puluh tahun silam terdengar seperti raungan singa yang siap menerkam.


...🖤🖤🖤 ...