
Arion berjalan menuju kamarnya untuk mengambil jaket, sementara Amber sudah lebih dulu keluar dari rumah.
Tanpa mempedulikan Arion, Amber segera memanggil sopir yang biasa mengantarnya dan masuk ke dalam mobil. Namun saat mesin mobil baru saja dinyalakan, Arion tiba-tiba membuka pintu belakang mobil yang di tempati oleh Amber.
"Keluar!" pinta Arion.
"Tapi ...."
"Sudah aku bilang, aku yang akan mengantarmu," tegas Arion lagi. Ia memegang sebelah tangan Amber dan memintanya untuk keluar.
Sopir yang sudah duduk siap di balik kursi kemudi, mendadak merasa aneh dan heran. Hubungan Arion dan Amber tidak tampak seperti majikan dan pengasuh biasa. Namun sopir tersebut tidak ingin banyak tahu, karena ia masih membutuhkan pekerjaan yang sudah ia tekuni selama bertahun-tahun.
"Ayo masuk," ucap Arion. Ia melepaskan genggaman tangannya setelah membuka pintu mobil miliknya. Ia meminta Amber duduk di samping kursi kemudi.
"Kenapa kau memaksaku?" tanya Amber.
"Karena kau tidak menurut," jawab singkat Arion. Ia mengayunkan dagu, memberi isyarat agar Amber segera masuk.
Tidak lagi bisa membantah, Amber akhirnya melakukan apa yang Arion inginkan.
Setelah Amber berada di dalam mobilnya, Arion segera menyusul dan duduk di kursi kemudi.
"Maafkan aku," gumam Arion. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Hmm."
"Kau marah?" tanya laki-laki itu sambil melirik wajah Amber. Wajah cantik itu semakin terlihat mempesona saat sedang kesal, Arion sangat menyukainya.
"Tidak!"
"Kau semakin cantik dan menggoda saat matamu melirik kesal padaku. Terlebih, bibirmu semakin seksi saat kau menahannya untuk mengumpat padaku," jelas Arion dengan senyum merekah di wajahnya.
Nampaknya, kekesalan dan kemarahan Amber tidak menjadi masalah bagi Arion. Justru laki-laki itu merasa jika wanita itu sangat menggemaskan dan menjadi penghibur hatinya.
"Jika tujuanmu mengantarku hanya untuk menggodaku, lebih baik turunkan aku di sini."
"Tanpa ku goda, kau sudah sangat menggoda, Nona Amber."
Saat mobil telah tiba di depan halaman rumah Amber, Arion mencegah wanita itu turun dengan menahan lengannya.
"Terima kasih sudah membuat Aara senang hari ini. Dia pasti tidur dengan nyenyak setelah bertemu ibunya," ucap Arion. "Hadiah apa yang kau inginkan?" tanyanya.
"Aku tidak menginginkan apapun. Sudah tugasku untuk mengantarnya menemui Nona Claire."
"Kau tidak menginginkan hadiah?"
"Tidak."
"Bagaimana denganku? Bagaimana jika aku menghadiahkan diriku padamu," tawar Arion. Amber mengernyitkan dahi, ia tidak bisa memahami perkataan laki-laki itu.
"Aku tidak mengerti, biarkan aku pergi!" seru Amber.
"Bagaimana jika aku memberikan diriku padamu?" tanya Arion. "Aku milikmu malam ini," lanjutnya.
Amber menyipit, menatap laki-laki itu dalam-dalam. Apa Arion sudah tidak waras?
"Bukankah itu keinginanmu? Karena itu jelas bukan keinginanku," ucap Amber.
Arion menarik cepat lengan Amber dan meraih tengkuk lehernya. Laki-laki itu tanpa permisi mengecup bibir Amber dan menyesapnya.
Amber memberontak, mendong Arion agar bibir mereka bisa terlepas. Namun tenaga Amber nampaknya tidak sebanding dengan usaha Arion.
Laki-laki perkasa itu tidak membiarkan Amber lolos darinya. Ia terus mengecup dan menyesap bibir merah muda wanita di dekatnya.
"Berhenti, tolong berhenti," pinta Amber di sela-sela desakan gairah yang membuatnya semakin panas. Amber tidak mau, jika dirinya mengambil langkah terlalu cepat hingga menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
"Aku menginginkanmu," bisik Arion. Tangan laki-laki itu bergerilya, merangsang setiap sisi sensitif di tubuh Amber.
"Lepas!" teriak Amber sambil mendorong Arion kuat-kuat. "Berhenti menjadikan aku pelampiasan nafsumu!" serunya tajam.
"Kalau begitu, menikahlah denganku!" tegas Arion.
...🖤🖤🖤 ...