
Sebuah kejutan serta pesta meriah dan mewah yang telah Arion siapkan nyatanya tidak sia-sia. Ia tahu Amber menerima cintanya malam ini bukan karena kejutan yang ada di depan matanya, melainkan ketulusan hatinya.
Setelah sebuah cincin berlian bertengger di jari manisnya, Amber, Arion, serta Aara, menikmati makan malam mereka dengan penuh rasa bahagia.
"Selamat, Amber." Sebuah ucapan tulus terdengar dari mulut wanita berparas cantik di hadapannya. Claire mengulurkan tangan lalu tersenyum dengan anggun.
"Terima kasih, Nona Claire." Amber tersenyum.
"Berhenti memanggilku 'Nona', kau akan menjadi ibu dari anakku. Kau bisa memanggilku kakak, anggap aku saudarimu," terang Claire. Wanita itu mendekati Amber dan memeluknya.
"Berjanjilah, kau akan mencintai Aara seperti kau mencintai Arion. Aku mempercayaimu," bisik Claire. Ia sungguh berharap bahwa Aara akan mendapatkan kehidupan yang sempurna bersama Amber, karena Claire sadar diri bahwa ia tidak akan bisa memberikan kehidupan seperti itu pada putrinya.
"Terima kasih, Kak. Aku berjanji," jawab Amber. Bahkan tanpa permintaan dari Claire, ia sudah benar-benar menyayangi dan mencintai Aara layaknya anaknya sendiri. Jika bukan karena ketulusan dan kesabarannya, tidak mungkin Arion bisa bertekuk lutut padanya.
Claire tersenyum lega, ia menatap Arion dan tersenyum.
"Selamat, Arion. Aku harap ini adalah pilihan terbaikmu yang akan membuatmu benar-benar bahagia," ujar Claire.
"Tentu saja, ini pilihanku."
"Ngomong-ngomong, kapan pesta pernikahannya di gelar? Sepertinya anak dan ayah itu sudah tidak sabar," ujar Claire menggoda Amber.
"Secepatnya undangan akan datang padamu," sela Arion. Amber menggeleng pelan sambil tersenyum.
Claire merasa lega dan mengusap pundak Amber serta menatap Arion. Ia paham bagaimana ia dan Arion pernah menjalani rumah tangga hambar mereka tanpa rasa cinta sedikitpun. Semua mereka lakukan demi keluarga mereka masing-masing, demi obsesi orang tua mereka masing-masing.
Namun kini, Claire senang melihat Arion menemukan wanita yang benar-benar bisa membuatnya bahagia. Terlebih, wanita itu sangat disayangi oleh Aara. Itu artinya, Arion masih memprioritaskan Aara sebelum pilihannya.
Dengan kecantikan serta kesempurnaan penampilan yang Amber miliki, tidak satupun dari mereka bisa mengira jika Amber hanyalah seorang janda yang awalnya bekerja sebagai pengajar tari balet sekaligus pengasuh anak Arion.
Penampilan Amber bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya, bahkan wanita itu tidak kalah cantik dan anggun dari mantan istri Arion yang juga menjadi pusat perhatian di pesta ini.
"Ini Mama, ini Mommy," ucap Aara sambil menggandeng Amber dan Claire dan tangan kanan kirinya.
"Kau bahagia, Sayang?" tanya Claire.
"Hmm." Aara mengangguk. "Sekarang, Aara punya dua ibu. besok Aara mau kasih tahu teman-teman Aara," lanjutnya.
Amber tersenyum, ia menggenggam tangan Aara dengan erat. Sementara Claire, ia merasa bersalah sekaligus terharu. Ia adalah ibu kandung Aara, ia adalah orang yang membawa Aara ke dunia ini, namun ia merasa tidak mampu memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya pada gadis kecil itu.
Setelah pesta hampir usai. satu persatu teman dan sahabat Arion meninggalkan tempat. Begitu pula dengan Claire. Setelah sebagian besar orang telah pergi, Arion bergegas mengajak Aara dan Amber untuk pulang.
"Kau sangat percaya diri dengan mengundang banyak orang malam ini," ucap Amber saat mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Ia menatap Arion dengan senyum mengembang indah. Sementara Aara sudah terlelap di pangkuannya.
"Aku percaya diri karena yakin bahwa kau tidak akan menolakku," jawab Arion.
Saat mobil hampir meninggalkan tempat, Arion melihat sebuah mobil merah yang memasuki gerbang restoran. Arion sangat tahu siapa pemilik mobil tersebut.
"Tuan." Sang sopir berniat memberitahu, namun Arion segera menyelanya.
"Langsung pulang!" perintah Arion.
...🖤🖤🖤...