
Arion dan Amber pun terdiam beberapa saat. Keduanya tenggelam dalam pikiran yang sama.
Sejenak, Arion melirik Amber. Melirik wanita cantik yang telah merebut hatinya setelah sekian lama. Namun sikap Amber yang terus berusaha membentengi diri dan menjaga jarak, membuat Arion khawatir jika perasaannya hanya akan membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
"Amber," ucap Arion serak. Sungguh hal yang sulit, namun ia ingin bicara.
"Ya?" Amber menoleh.
"Entah bagaimana aku menjelaskannya, tapi tidak hanya Aara yang takut jika kehilanganmu, aku pun akan merasakan hal yang sama," ungkap Arion tulus. Ia benar-benar jujur pada dirinya dan pada Amber. Ia tidak ingin lagi membohongi perasaannya, jika yang ia rasakan kini bukan hanya kehausan akan gairah, melainkan sesuatu yang lebih serius.
Amber tidak merespon, wanita itu diam karena tidak bisa memberikan jawaban.
"Aku memahamimu, aku sadar akan segala hal-hal buruk yang telah menimpamu. Tapi bisakah kau memberiku kesempatan? Sedikit saja, aku tidak akan mengecewakanmu," bujuk Arion.
"Bagaimana jika hasilnya tidak baik?" Amber balik bertanya. Wanita itu benar-benar ragi, ia benar-benar takut menjalin hubungan dengan siapapun.
"Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mau mencobanya."
Amber menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Rasa sakit dan trauma masih membekas dalam meskipun ia telah berusaha keras mengubur masa lalu menakutkan itu.
Namun, beberapa waktu terakhir ia bisa merasakan ketulusan Arion dan perubahan sikap laki-laki itu. Hanya saja, rasa takut masih membayanginya.
"Aku takut," lirih Amber. Ia menunduk, memandang bekas sayatan pisau kecil yang pernah menggores lengannya. Itu adalah secuil masa lalu yang masih bisa ia lihat.
Arion meraih tangan Amber, menggenggamnya erat.
"Aku mohon, percayalah padaku," ucapnya.
"Aku hanya ingin kau memberiku kesempatan, dan membuka hatimu perlahan. Jangan terlalu membentengi diri, biarkan aku masuk," pinta Arion sungguh-sungguh.
"Amber ...." Nada suara Arion terdengar lirih, ia ingin memohon dan mengiba. Bahkan jika perlu, ia tidak keberatan untuk mengemis cinta pada wanita di hadapannya.
Sejauh ini Arion telah melanglang buana dalam mengenal banyak wanita cantik dan seksi. namun tidak satupun dari mereka bisa menarik perhatiannya atau merebut hatinya.
Bahkan wanita yang pernah menemaninya di atas ranjang selama lima tahun pun hanya bisa memiliki raganya, namun tidak dengan hatinya. Keberadaan Amber membuat Arion bisa memandang dunia dengan cara berbeda.
"Aku mencintaimu, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan Aara, bahkan jika laki-laki yang memiliki hatimu bukanlah aku," lanjut Arion.
"Tolong jangan mengatakan hal yang tidak perlu." Akhirnya Amber bersuara.
Arion tersenyum tipis. Kini ia paham, Amber tidak menolaknya. wanita itu hanya belum siap menerimanya.
"Bagaimana jika nanti malam kita pergi makan bersama di luar? Sudah lama aku tidak mengajak Aara pergi makan," ujar Arion.
"Kalian bisa pergi bersama."
"Bagaimana bisa Aara pergi tanpamu? Dia pasti lebih memilih makan di rumah asalkan bersamamu."
"Hmm." Amber hanya menghembuskan napas panjang.
"Kau mau?" tanya Arion sekali lagi.
"Mama!" teriak Aara dari kejauhan sambil membawa setumpuk donat di atas nampan. Amber melambaikan tangannya pada gadis kecil itu.
"Baiklah." Amber mengangguk, setuju pada ajakan makan malam Arion.
...🖤🖤🖤...