
Saat suara langkah kaki berlari mendekat dengan suara lantang memanggil nama gadis kecil yang tengah di gandeng oleh Amber, Aara menoleh seketika.
"Mommy!" seru Aara senang. Ia melepas genggaman tangan Amber dan berlari ke arah Claire.
"Sayang, maafkan Mommy," bisik Claire sambil memeluk sang putri.
"Mommy datang," ucap Aara. Wajah sedih serta genangan air mata yang hampir tumpah itu kini berubah menjadi senyum ceria dan kebahagiaan. Aara memeluk Claire dengan erat, melepas segala kerinduan yang lama menumpuk dalam dadanya.
Melihat pemandangan di depannya, Amber kini bisa bernapas lega. Hampir saja ia merasa kecewa dan putus asa. Ia takut akan membuat Aara kembali terluka, namun nyatanya Claire tidak mengingkari janjinya.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menemui kami, Nona Claire," ujar Amber.
"Tidak, Amber. Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau sudah bersabar menunggu dan bersedia mengantar Aara datang," jawab Claire. Wanita itu mengangkat Aara dan menggendong gadis kecil itu.
"Ini memang tugasku, Nona."
Claire tersenyum, ia meletakkan Aara di atas pangkuannya dan duduk.
"Kalian pasti sudah lama menunggu, maafkan aku, Amber. Maafkan Mommy, Sayang," ujar Claire.
"Tidak apa, Nona. Yang terpenting, sekarang kau di sini."
"Iya, Mommy." Aara kembali memeluk Claire.
"Aku pikir kau tidak akan datang. Aku sudah menelepon berulang kali dan mengirim banyak pesan. Kau tidak menjawab telepon atau membalas pesanku sama sekali," ungkap Amber.
"Ponselku tertinggal di studio, aku buru-buru dan lupa membawanya. Sekarang sekretaris ku sedang mengambilnya," jawab Claire.
Wanita itu mengambil paper bag yang tadi ia bawa. Ia mengeluarkan sebuah boneka berbentuk kuda poni dan memberikannya pada Aara.
"Taraaaaaa! Mommy punya hadiah!" seru Amber.
"Wow, boneka!" teriak Aara senang.
"Kau suka?"
"Suka, Mommy," jawab Aara sambil memeluk bonekanya. "Aara juga punya hadiah untuk Mommy," lanjutnya.
"Itu, itu hadiah untuk Mommy!" seru Aara sambil menunjuk buket bunga yang dibawa oleh Amber. Hampir saja, buket ini akan menjadi hadiah yang sia-sia jika sampai Claire mengingkari janjinya.
"Aara bilang kau suka bunga berwarna putih. Jadi kami memilih bunga ini," terang Amber.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih, Amber." Claire tersenyum haru. Ia tidak menyangka jika putri kecilnya bahkan mengetahui warna bunga favoritnya.
Aara menceritakan pada Claire tentang kesehariannya. Gadis kecil itu juga bercerita tentang kegiatan sekolah dan teman-temannya.
Claire mendengarkan dengan antusias. Wanita itu sangat senang melihat putrinya tumbuh dengan baik dan cantik. Hanya saja perasaan bersalah masih terus menghantuinya. Ia yang membawa Aara datang ke dunia ini, namun ia sendiri tidak bisa menjaga dan mengurus anak itu dengan tangannya.
"Setiap hari, Mama Amber mengantar Aara sekolah. Jadi, Aara sudah tidak diolok-olok teman-teman lagi," ucap Aara.
"Mama Amber?" tanya Claire sambil mengernyitkan dahi. Ia melempar pandangan pada wanita yang duduk di depannya.
"Jangan salah paham, Nona. Itu hanya sebuah panggilan, aku dan Tuan Maverick tidak punya hubungan apapun," jelas Amber sebelum Claire bertanya.
Namun reaksi tak terduga datang dari wanita yang berprofesi sebagai model ternama itu. Claire tertawa kecil sambil menggelengkan kepala pelan.
"Amber, Amber. Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku hanya terkejut, tapi tidak ingin menanyakan hubunganmu dengan mantan suamiku," ujar Claire.
"Tapi ...."
"Apapun hubungan kalian, itu sudah bukan urusanku lagi. Tapi tentang kau dan Aara, aku berhak tahu segalanya. Lagi pula, tidak ada salahnya jika kau dan Arion memiliki hubungan khusus, kalian tampak cocok," seloroh Claire.
"Jangan mengada-ngada, Nona. Mana bisa seperti itu. Setelah melepas wanita sempurna sepertimu, mana mungkin dia memungut barang bekas sepertiku," ujar Amber.
"Tidak ada yang salah dengan statusmu sebagai janda. Aku juga janda, Amber. Dan kita bukan barang bekas."
Amber terbelalak lebar. Dari mana Claire tahu bahwa ia seorang janda?
"Jangan terkejut, aku sudah menelusuri asal usulnya, Amber. Maafkan aku, tapi aku harus tahu semua tentang wanita yang dipercaya oleh Arion sebagai pengasuh anakku. Karena aku tidak mau Aara diasuh oleh orang yang salah," jelas Claire. Ia bisa membaca keterkejutan Amber.
"Tidak apa." Amber mengangguk dan tersenyum. Ia memahami kekhawatiran Claire.
...🖤🖤🖤...