Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Ungkapan Perasaan


Saat melihat mobil Arion mendekat, Amber berusaha bersikap tenang. Ia tidak lari atau menghindar, wanita itu masih duduk di tempatnya.


Arion berjalan perlahan, mendekati teras tempat wanita yang merebut hatinya duduk sendirian.


"Amber," sapa Arion lirih.


"Aku sudah mengatakan pada sopir bahwa aku tidak bisa datang karena ada urusan mendadak. Maafkan aku," ucap Amber sebelum Arion mengajukan pertanyaan.


"Boleh aku duduk?" tanya Arion sambil melirik kursi kosong di dekat Amber. Wanita itu terdiam sesaat, lalu mengangguk ragu.


Arion tersenyum simpul, ia pun duduk di samping Amber sambil menatap wanita itu.


"Aku tahu kau marah dan kesal padaku, maafkan aku," ujar Arion. Amber bergeming, ia tidak memberi tanggapan sedikitpun.


"Aku akui, pertama kali aku menyukaimu hanya sebatas nafsu. Kau menarik dalam hal penampilan dan aku menyukainya. Namun, aku membawamu ke rumahku bukan karena alasan itu, tapi karena putriku, Aara."


"Dari banyaknya orang yang datang untuk melamar pekerjaan sebagai seorang pengasuh, hanya kau yang Aara mau."


"Aku gelisah karena harus sering bertemu denganmu, karena tanpa sadar, kau selalu membuat gairahku menggebu. Maafkan aku, karena itulah sifat asliku. Aku tidak akan menutupinya darimu."


"Tapi perlahan, setelah aku mengenalmu dan menyadari betapa baiknya kau merawat Aara dan mengasuh anakku, rasa suka itu perlahan berubah. Aku mulai menyukaimu dengan hatiku, hanya saja aku tidak tahu bagaimana caraku mengungkapkannya."


"Sejak dulu, aku tidak pernah jatuh cinta. Aku dan Claire menikah atas dasar perjodohan. Kami menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang-orang pada umunya, hanya saja tidak ada rasa yang tumbuh di antara kami."


"Jika kau menanyakan perasaanku yang sesungguhnya, aku masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan. Tapi intinya, aku tidak ingin kehilanganmu."


Penjelasan Arion yang cukup panjang membuat Amber berpikir. Ia sadar jika sejak awal Arion memang hanya tertarik pada dirinya karena dorongan hasrat, namun ia tidak percaya jika Arion bisa menyukainya dalam arti lain.


"Apakah penjelasanku sudah cukup membuatmu mengerti?" tanya Arion. Karena Amber sama sekali tidak menanggapi semua perkataannya.


"Jika kau tidak pernah merasakan jatuh cinta, lalu bagaimana caramu mengartikan perasaanmu padaku?" Amber bersuara, ia balik bertanya.


Amber menoleh, menatap Arion dalam.


"Aku tidak siap dan tidak akan pernah siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Aku bahagia dengan hidupku saat ini," terang Amber.


"Aku bisa memahami trauma dan kesulitan yang pernah kau alami. Tapi bisakah kau memberiku kesempatan? Aku akan berusaha menunjukkan perasaanku dan menyembuhkan lukamu."


"Tidak semudah itu!" seru Amber.


"Aku tahu, tapi kita tidak akan pernah tahu sebelum kita mencobanya."


"Aku tidak mau bermain api, karena aku pernah terbakar hingga tidak menyisakan apapun dalam hatiku," tolak Amber. Wanita itu berdiri dari kursi dan bergeser.


"Jika kau sudah selesai, silahkan pergi. Aku masih ada keperluan," ucap wanita itu.


"Amber, aku mohon. Maafkan aku." Arion bangkit dan meraih tangan Amber.


"Aku sudah memaafkanmu. Tapi untuk apa yang kau inginkan, aku tidak bisa."


"Amber ...."


"Pergilah."


"Beri aku kesempatan, aku akan membuktikan bahwa aku adalah laki-laki yang layak mendapatkanmu. Aku akan berusaha menyampaikan perasaanku dengan lebih baik," bujuk Arion.


Amber menghela napas panjang. Ia tidak menghiraukan Arion dan berjalan memasuki rumahnya.


"Baik, baik. Aku akan berhenti memaksamu. Tapi maukah kau tetap bersedia datang ke rumahku? Lakukan ini demi Aara!"


...🖤🖤🖤...