
Amber paham, jika dirinya hanyalah seorang janda. Namun apapun status dirinya dan bagaimanapun pekerjaannya, Amber tidak ingin siapapun memandangnya dengan rendah, termasuk Arion.
Pernikahan tidak selucu itu, hanya atas dasar rasa ingin menikmati lalu dengan entengnya Arion mengajaknya menikah. Amber jelas merasa kesal dan direndahkan. Ia seorang janda, namun bukan berarti Arion bisa meremehkan harga dirinya.
Mengingat bagaimana mudahnya Arion mengucapkan kalimat 'pernikahan', membuat Amber merasa ragu terhadap laki-laki itu.
Sementara Amber sedang kacau dan kesal di rumahnya, Arion justru merasa marah pada dirinya sendiri dengan segunung rasa bersalah.
Terlebih, pagi ini sopir yang biasa bertugas untuk menjemput Amber rupanya kembali ke kediamannya dengan tangan kosong. Arion paham Amber sedang marah dan menghindar darinya, namun laki-laki itu tidak bisa melakukan apapun karena ia memang bersalah.
"Apa yang sudah aku lakukan? Seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu secara spontan," gumam Arion.
Laki-laki itu memejamkan mata, bersandar pada kursi di ruang kerjanya.
Arion tidak bisa menyangkal, bahwa hal pertama yang ia sukai dari Amber adalah pesona memikat dan kehangatan tubuh wanita itu yang begitu memabukkan. Sejak pertama kali bibir mereka bersentuhan, Arion merasa dimabuk gairah. Hasratnya berapi-api setiap kali Amber ada di dekatnya.
Saat itu, Arion tidak memikirkan apapun. Ia hanya menginginkan Amber, menginginkan tubuh wanita itu. Arion hanya mendambakan rasa bisa memasukinya, serta mendengarkan ******* penuh gairah dari bibirnya.
Namun perlahan, saat Amber memasuki rumahnya dengan tulus dan penuh kasih merawat serta menjaga Aara, Arion merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan.
Selain mencuri hati putri kecilnya, Amber juga telah membawa lari hati seorang Arion Maverick, duda kaya dengan sejuta pesona.
Tok ... Tok ... Tok ...
Arion terbangun dari lamunannya, laki-laki itu meninggalkan kursi dan membuka pintu. Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Arion.
"Tuan, apakah Nona Amber belum sampai? Nona Aara sudah bangun dan menanyakan keberadaannya," jelas sang kepala pelayan.
"Ah, baiklah. Tolong datang ke kamar Aara lima belas menit lagi," ucap Arion.
Laki-laki itu meninggalkan ruang kerjanya dan bergegas menemui Aara di kamarnya. Arion melihat Aara masih berbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Arion. Ia mendekati Aara dan mencium kening putrinya.
"Selamat pagi, Daddy. Di mana Mama Amber?" tanya Aara. Biasanya ia sudah melihat Amber di sampingnya saat membuka mata.
"Hmm, hari ini Mama Amber tidak bisa datang karena ada keperluan mendadak. Mungkin Mama Amber sedang ada urusan penting, jadi Daddy yang akan mengantar Aara sekolah," jelas Arion.
"Bolehkan Aara menelepon Mama?"
Arion terdiam beberapa saat, ia tidak yakin jika Amber akan bersedia menerima panggilan video darinya.
"Tidak, Sayang. Biarkan hari ini Mama Amber menyelesaikan urusannya. Kita tidak boleh mengganggunya, ya?" bujuk Arion. Ia berusaha keras membuat putrinya mengerti.
Meski terlihat jelas kekecewaan yang dialami oleh Aara, Arion tidak bisa memenuhi permintaan gadis kecil itu. Sebagai gantinya, Arion memenuhi janjinya untuk menggantikan Amber mengantar Aara ke sekolah pagi ini.
...****************...
Aara sudah tiba di sekolahnya, Arion memutar kemudinya dan meninggalkan area sekolah. Laki-laki itu merasa bingung, dan tanpa sadar kini ia telah sampai di kompleks perumahan tempat Amber tinggal.
"Apa dia benar-benar ada urusan mendadak? Atau hanya berniat menghindariku?" gumam Arion. Mobilnya berjalan sangat lambat mendekati rumah Amber, laki-laki itu menginjak rem saat melihat Amber duduk di teras rumahnya sendirian.
"Apa dia akan memaafkanku?"
Arion mendesah resah. Sejak awal ia paham jika Amber memiliki sifat keras dan tegas. Namun ia tidak bisa hanya menunggu dan berdiam diri, ia harus melakukan sesuatu.
Dengan pelan, mobil Arion kini memasuki halaman rumah Amber. Laki-laki itu turun dari mobil dengan perasaan cemas. Ia masih bisa melihat kekesalan di wajah wanita cantik yang masih duduk dengan santai menikmati minuman di cangkirnya.
...🖤🖤🖤...