
Semenjak kejadian yang hampir membuat Arion kehilangan pengasuh anaknya itu, kini Arion lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata di hadapan Amber.
Arion berusaha agar ia tidak lagi membuat kesalahan yang sama di depan Amber. Demi membuat suasana rumah serta suasana hati Amber tetap baik, Arion bahkan rela menjaga jarak serta menyaring setiap perkataan yang terlontar dari mulutnya.
Kemarahan Amber cukup mengerikan bagi Arion, karena wanita itu telah memiliki hatinya dan hati putrinya.
"Sayang, di dunia ini, siapa orang yang paling Aara sayangi?" tanya Arion pada Aara. Mereka berdua tengah menikmati waktu bersantai di halaman belakang rumah, sementara Amber sedang di dapur untuk membuat jus buah kesukaan Aara.
"Daddy!" seru Aara memberi jawaban. Arion tersenyum senang.
"Wah, terima kasih. Aara memang anak Daddy!" Arion memeluk gadis kecilnya.
"Kalau Daddy, siapa orang yang paling Daddy sayangi?" Aara balik bertanya. Ia memandang wajah Arion sambil menunggu jawaban.
"Emmm, tentu saja Aara. Aara adalah orang yang paling Daddy sayang," jawab Arion.
Aara bertepuk tangan sambil tersenyum riang.
"Apa Aara peringkat satu?" tanya Aara.
"Peringkat satu?" Arion mengernyitkan dahi, tidak memahami ucapan anak perempuannya.
"Aara adalah peringkat satu di hati Daddy. Benar?"
"Ya, tentu saja, Sayang." Arion mengangguk setuju.
"Lalu, Mama Amber peringkat berapa, Dad?" tanya Aara. Mata gadis itu berbinar, menatap Arion dengan penuh harapan.
"Mama Amber?" Arion melotot sambil sedikit berbisik.
"Hmm." Aara mengangguk sambil tersenyum lebar, menampakkan barisan giginya yang berjejer kecil dan rapi.
Suara langkah kaki dari belakang keduanya terdengar semakin dekat. Arion tidak memberi jawaban Aara melainkan mengalihkan pembicaraan mereka pada burung merpati yang sedang mengerami telur di sangkar dekat tempat mereka duduk.
"Taraaaa, jus kesukaan Aara!" seru Amber sambil meletakkan dua gelas jus buah naga serta secangkir kopi di meja.
"Ini kopi untukmu," ujar Amber sambil melirik Arion.
"Ya, terima kasih, Nona Amber." Arion tersenyum. Ia pun mulai menyeruput kopi buatan pengasuh putrinya.
"Apa Mama Amber peringkat dua di hati Daddy?" tanya Aara.
Arion tersedak, ia batuk-batuk. Arion segera meletakkan cangkir di tangannya dan menepuk dadanya pelan. Sementara Amber, mengernyitkan dahi, menatap Aara dan Arion bergantian.
"Hmm? Siapa?" Arion salah tingkah, ia menggaruk lehernya. Lirikan Amber membuat laki-laki itu menjadi gugup, ia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada putrinya.
"Mama Amber, apa Mama Amber peringkat dua? Apakah Mama Amber juga orang yang paling Daddy sayang di dunia ini?" tanya Aara lebih jelas. Hal itu membuat Arion kebingungan.
"Jawab Daddy!" desak Aara.
Anak ini memang tidak bisa memahami suasana canggung di antara dua orang di dekatnya. Amber menghela napas panjang.
"Daddy tidak sayang Mama Amber, ya?" Wajah Aara berubah sedih.
"Tidak, Sayang. Bukan begitu," kilah Arion.
"Kalau bukan begitu, lalu bagaimana?"
Pertanyaan Aara ini tidak akan pernah berakhir sebelum Arion memberikan jawaban yang memuaskan hatinya. Jika Arion ingin putrinya segera mengakhiri pembahasan yang membuat suasana menjadi semakin mendebarkan, maka laki-laki itu harus segera menjawab.
"Baiklah, Aara adalah peringkat satu, lalu Mama Amber peringkat kedua," jawab Arion.
"Horeeee! Daddy sayang Mama Amber!" seru Aara berteriak senang. Ia bertepuk tangan.
Mendengar jawaban Arion sekaligus reaksi Aara, wajah Amber berubah merona. Entah mengapa ia tersipu malu.
"Kata teman-teman, kalau laki-laki dewasa dan perempuan dewasa saling menyayangi, mereka bisa menikah. Lalu Mama Amber jadi Mommy Aara," jelas Aara dengan lugu dan polos.
......🖤🖤🖤......