Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Menghindarinya


Amber membulatkan matanya lebar, menatap Arion dengan tatapan sengit. Menikah? Apa laki-laki itu benar-benar sudah tidak waras? Amber menggelengkan kepala pelan.


"Menikahlah denganku!" seru Arion. Ia menarik lengan Amber yang hendak membuka pintu mobil.


Dengan cepat Amber berbalik dan melotot pada laki-laki itu.


"Apa kau sedang mabuk?" tanya Amber.


"Aku benar-benar dalam keadaan sadar dengan apa yang aku katakan. Menikahlah denganku!" ucap tegas Arion.


"Kalau kau tidak mabuk, artinya kau memang gila," decak kesal Amber.


"Benar! benar aku gila. Aku menggilaimu!"


Amber menghela napas panjang. Ia tersenyum miring, lalu membuka pintu mobil dan keluar dengan cepat.


Arion tidak tinggal diam, laki-laki itu keluar menyusul Amber dan mencegah wanita itu masuk ke dalam rumah dengan menarik tangannya.


"Kenapa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Arion.


"Kenapa? Apa kau tidak sadar jika caramu ini salah? Seperti inikah caramu meminta seorang wanita untuk menjadi istrimu?" tanya Amber.


Arion terdiam, melepas tangan Amber dengan perlahan.


"Kau memintaku menikah denganmu? Demi apa? Demi memuaskan gairahmu?" tanya Amber. "Kenapa tidak cari pekerja se*ks komersial saja?"


"Bukan begitu, Amber!" sangkal Arion. Laki-laki itu paham jika dirinya sudah salah langkah sejak awal, namun ia tidak bisa menyembunyikan sifat dan karakter asli dirinya.


"Apa aku salah? Bukankah sejak awal kau hanya menginginkan tubuhku? Mendambakannya? Menikah tidak selucu itu, Tuan Maverick. Kau harus belajar cara memperlakukan wanita dengan lebih baik!"


"Amber, maafkan aku," ucap Arion dengan nada lemah. Sepertinya ia memang harus mengakui kesalahannya, karena pada awalnya ia memang tertarik pada Amber karena pesona memikat wanita itu.


Amber mendengus kesal. Wanita itu berjalan meninggalkan Arion dan masuk ke dalam rumahnya.


Amber berdiri di balik pintu, merasakan dadanya yang terasa nyeri sekaligus kesal. Bagaimana bisa ia bertemu dengan laki-laki segila Arion?


Hingga beberapa saat, Amber tak kunjung mendengar suara mobil Arion meninggalka halaman rumahnya. Wanita itu mengintip di jendela kaca dengan menyingkap sedikit gorden, ia melihat Arion berdiri mematung menatap pintu rumahnya.


Amber mendadak merasa takut. Ia mengenal Arion sebagai laki-laki pantang menyerah dan bertindak cepat tanpa pikir panjang. Wanita itu segera mengunci pintu dengan rapat dan berlari masuk ke dalam kamar.


"Dia tidak akan mendobrak rumahku, kan?" batin Amber khawatir.


Wanita itu berbaring di atas ranjang dan memakai selimut dengan perasaan cemas. Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam, dan sikap Arion membuatnya merasa ketakutan.


...****************...


Pagi-pagi sekali Amber terbangun, wanita itu terkejut mendapati suara alarm dari ponselnya sudah berdering nyaring. Semalam ia tertidur tanpa sadar, ia bergegas keluar kamar dan mengintip ke halaman depan rumahnya.


Amber tidak mendapati Arion berada di sana, namun wanita itu melihat sebuah mobil sudah terparkir di halamannya.


Sejenak ia merasa ragu, namun perlahan membuka pintu dan mendekati mobil tersebut.


"Nona," sapa seorang laki-laki paruh baya yang tiba-tiba ada di belakangnya.


"Ah! Kau mengejutkanku, Pak!" seru Amber sambil berbalik dan menepuk dada.


"Maaf, Nona belum siap?" tanya sopir tersebut.


Amber mengamati dirinya, ia bahkan masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin. Wanita itu terdiam sesaat, mengingat apa yang Arion katakan padanya semalam.


"Mohon maaf, Pak. Sepertinya hari ini saya tidak bisa datang ke rumah Tuan Maverick. Saya ada kepentingan mendadak," ujar Amber beralasan.


"Ah, begitu. Baiklah, akan saya sampaikan pada Tuan," jawab sopir tersebut. Amber mengangguk dan berterima kasih.


Masih ada perasaan cemas, takut, sekaligus kesal terhadap Arion karena sikap laki-laki itu semalam. Amber merasa jika ia harus menjaga jarak dan menghindari Arion untuk sementara waktu.


...^^^🖤🖤🖤^^^...