Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Rasa Terima Kasih


Claire tidak merasa keberatan dengan siapapun Arion menjalin hubungan ataupun mencari ibu untuk putri mereka, Aara. Namun, Claire hanya ingin putrinya mendapatkan kasih sayang penuh dari wanita yang akan menjadi ibu sambungnya.


"Aku menyayangi Aara, Nona. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik. Namun prasangkamu tentang aku dan Tuan Maverick itu salah. Kami tidak punya hubungan apapun," jelas Amber.


Meski wanita itu sadar jika ia dan Arion dekat, namun belum bisa dikatakan jika mereka memiliki hubungan. Karena keduanya hanya sebatas saling menginginkan dalam hal yang berbeda.


"Tapi Arion terlihat menyukaimu," gumam Claire.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu, Nona?"


"Aku menjadi istrinya selama lima tahun. Meski tidak ada rasa di antara kami, aku bisa memahami sifatnya. Arion jelas tidak suka orang asing berada terlalu dekat dengannya, apa lagi makan bersama seorang pengasuh di meja yang sama. Jelas itu bukan sifatnya," jelas Claire.


"Orang bisa berubah, Nona." Amber menyangkalnya.


Claire tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. "Semoga saja," ucapnya.


Beberapa menit kemudian, mobil telah sampai di halaman depan kediaman Arion.


Claire menyerahkan Aara dari pangkuannya ke dalam gendongan Amber.


"Apa kau tidak ingin mampir?" tanya Amber.


"Tidak, ini sudah larut malam," tolak Claire.


"Hmm, baiklah." Amber mengangguk, ia berdiri dan mengamati hingga mobil yang ditumpangi oleh Claire menghilang di balik gerbang besi.


Dengan hati-hati, Amber menggendong Aara masuk ke dalam rumah. Suasana rumah sudah sangat sepi, lampu-lampu utama telah padam digantikan oleh cahaya remang dari lampu hias kecil.


Amber menaiki tangga dengan Aara dalam gendongannya. Gadis kecil itu masih tertidur pulas.


Saat hendak membuka pintu kamar Aara, terdengar suara pintu ruang kerja Arion terbuka.


"Kalian sudah pulang?" tanya Arion. Ia berjalan mendekat. Laki-laki itu mengambil alih Aara dari gendongan Amber.


"Maaf jika kami pulang larut. Aara enggan berpisah dengan Nona Claire," jawab Amber.


"Jadi, kau berhasil mempertemukan Aara dan Claire?" tanya Arion setelah memasang selimut di atas tubuh Aara.


"Hmm." Amber mengangguk. "Aara hampir tidak mau pulang."


"Lalu?" Arion mengeryitkan dahi.


"Nona Claire berjanji akan berusaha menemui Aara setiap akhir pekan."


"Omong kosong!" gumam Arion pelan.


"Nona Claire ibunya. Dia pasti berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya," ujar Amber. Ia tersenyum tipis menatap Arion.


Arion tampak menghela napas panjang. Ia cukup terkejut karena Amber berhasil membawa Aara menemui Claire, sementara Dayana, sudah berulang kali gagal membawa Aara untuk bertemu dengan ibunya.


"Aku harus pulang, besok pagi-pagi sekali aku akan datang seperti biasa," pamit Amber.


"Mau mampir minum bersamaku?" tawar Arion.


Amber terdiam sesaat. "Tidak, aku harus pulang," tolaknya.


Arion menatap Amber, memperhatikan wanita itu dengan seksama.


"Jangan menatapku, kau membuatku tidak nyaman," ujar Amber sambil berlalu meninggalkan Arion. Ia benar-benar merasa gerah setiap kali mata tajam kecoklatan laki-laki itu mulai memperhatikannya dengan pandangan aneh.


"Baiklah, aku akan mengantarmu!" seru Arion. Ia berjalan menyusul Amber.


"Tidak! Tidak perlu. Ada sopir yang mengantarku."


"Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyenangkan putriku hari ini, aku sendiri yang akan mengantarmu," ucap Arion. Ia tidak mempedulikan wanita yang sedang protes melakukan penolakan.


...🖤🖤🖤...