Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Rasa Tulus


Amber menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Arion.


Selagi ia sedang kesal dan gelisah karena sikap laki-laki itu, Amber melupakan sosok gadis kecil yang begitu menyayanginya dan selalu mengharapkan kedatangannya.


Jika Amber mementingkan egonya dan bertindak gegabah, maka ia bisa saja menghancurkan hati seorang anak kecil yang sudah memberikan sebagian besar hatinya untuknya.


Aara, berulang kali nama itu terlintas di pikiran Amber.


"Kau paham Aara selalu ingin bersamamu. Bahkan pagi ini, aku harus membujuknya untuk pergi ke sekolah dan berbohong agar dia tidak kecewa karena ketidakhadiranmu," jelas Arion.


"Aku mohon Amber. Sekarang, kau adalah salah satu orang terpenting dalam hidup Aara," lanjutnya.


Amber menghela napas panjang. Rasa kesal dan kecewa terhadap Arion, harus berimbas pada anak yang tidak mengerti apa-apa.


"Bolehkah aku libur selama dua hari kedepan?" tanya Amber. Ia butuh waktu untuk sendiri, sekaligus memantapkan hati agar tidak dengan mudah tergoda oleh segala bujuk rayu laki-laki di depannya.


"Tentu saja, tentu. Asalkan kau kembali, aku tidak keberatan," jawab Arion. Laki-laki itu tampak bahagia. Paling tidak, kini ia sudah punya jawaban pasti saat nanti Aara bertanya tentang Amber.


Setelah mendengar kesediaan Amber untuk tetap menjadi pengasuh Aara, kini Arion bisa bernapas dengan lega. Jika saja karena ulahnya Aara harus kehilangan Amber, maka Arion tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Setelah kepulangan Arion, Amber memutuskan pergi ke rumah balet dan menenangkan diri di sana. Seperti biasa, ia menggunakan sebuah tiang besi sebagai pelampiasan segala rasa yang membebani hatinya. Menari adalah kesukaannya, sebuah hal yang menenangkan dan menyenangkan hatinya.


...****************...


Setelah tiga hari menikmati waktu dengan santai dan menganggur, pagi ini seorang sopir sudah tiba di halaman depan rumah Amber, menandakan bahwa hari kerja telah di mulai.


Meski mengasuh adalah sebuah pekerjaan, namun tidak bagi Amber. Mengurus Aara dan merawat gadis kecil itu bukanlah hal yang merepotkan. Bahkan hal itu kini menjadi kegemaran baru bagi wanita itu.


"Mama Amber!" Aara berteriak senang. Gadis kecil itu sudah berdiri di depan pintu utama. Ia masih mengenakan pakaian tidur, lengkap dengan boneka di pelukannya.


Aara berlarian menuju halaman dan menyambut Amber saat mobil yang ditumpangi oleh wanita itu berhenti.


"Mama!" seru Aara.


"Sayang, kenapa bangun pagi sekali?" tanya Amber. Ia memeluk lalu menggendong Aara masuk ke dalam rumah.


"Aara rindu Mama. Jadi Aara tunggu Mama," jawab Aara polos.


"Mama Amber juga rindu, Sayang. Rinduuu sekali," ucap Amber sambil mencium pipi Aara dengan gemas.


Amber menggendong Aara kembali ke kamarnya. Saat mereka sedang menaiki anak tangga, Arion diam-diam memperhatikan Amber dan Aara dan pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


Pukul tujuh pagi, Aara telah siap dengan seragam sekolahnya, sementara Arion telah menunggu di meja makan.


"Daddy!" Aara berteriak dan berlari kecil mendekati Arion. Amber mengikuti anak itu dari belakang.


"Hai, Sayang. Bagaimana tidurmu, nyenyak?" tanya Arion sambil mengangkat Aara ke pangkuannya.


"Hmm." Aara mengangguk. "Aara senang ada Mama Amber," lanjutnya. Arion tersenyum, lalu memindahkan anaknya ke kursi di sampingnya.


"Makanlah," ucap Arion pada Amber. Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Sebelum makan, Amber terlebih dahulu mengambil nasi dan lauk pauk serta sayur untuk Aara. Wanita itu sudah berusaha keras untuk mengajarkan Aara makan sendiri. Meskipun punya banyak pelayan dan seorang pengasuh, Amber ingin Aara belajar mandiri sejak dini dan tidak bergantung pada orang lain.


"Hari ini aku ada banyak pekerjaan. Apa kau bersedia menginap? Mungkin aku akan pulang dini hari, atau bahkan menginap di kantor," ujar Arion setelah mereka bertiga menyelesaikan sarapan.


"Baiklah." Amber mengangguk.


"Sayang, baik-baik ya di sekolah. Baik-baik sama Mama Amber, ya." Arion mengusap lembut rambut anaknya.


"Siap, Daddy!" jawab Aara.


Amber dan Aara kembali ke kamar untuk mengambil tas sekolah, Arion pun bersiap untuk segera pergi bekerja. Setelah semua siap, Amber dan Aara segera keluar dari rumah. Seorang sopir sudah menunggu untuk mengantar mereka.


"Amber," ujar Arion saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobil. Sementara Aara sudah masuk lebih dulu.


"Ya?" Amber menoleh.


"Terima kasih sudah menepati janjimu untuk kembali ke rumah ini. Sekali lagi, maafkan aku."


"Hmm, yang sudah-sudah biarlah berlalu."


"Terima kasih."


Amber mengangguk dan masuk ke dalam mobil, Arion membantunya menutup pintu. Laki-laki itu melambaikan tangan saat mobil berjalan meninggalkan halaman rumahnya.


Mendengar ucapan terima kasih serta permohonan maaf dari Arion pagi ini, membuat Amber merasa aneh. tiba-tiba ia menjadi gelisah dan tidak tenang. Amber bisa merasakan ketulusan Arion serta penyesalan yang laki-laki itu rasakan.


...🖤🖤🖤...