
Inggit menyorot horor suaminya, bukannya ia tidak mau, namun rasa yang tertinggal masih begitu terasa.
"Jangan natap aku kaya gitu, aku 'kan cuma menyampaikan jeritan hati Bondan, mana tahu tuan rumah mengizinkan."
"Sedang tidak ada orang, jangan bertamu siang-siang." Inggit jelas mendrama.
Biru manyun, dengan gemas ia bangkit dari tidur manjahnya, dan mendaratkan ciuman gemas di pipi istrinya.
"Jangan khawatir, Bondan bawa oleh-oleh lho," ujarnya mengerling. Inggit mengeryit geli, suaminya ngeyel sekali. Tidak tahu apa ya, kalau alumni gadis itu masih pegal dan ngilu.
"Sayang ...." rengek pria itu bergelayut manjah. Tangannya mulai iseng. Membuat Inggit gemas dan menepisnya.
"Janga nakal, Ihk .... aku marah nih," ancam perempuan itu mrengut.
"Pelitnya ... emang orangnya ke mana sih, Bondan nunggu aja deh sampai dibukain pintu masuknya."
Inggit menyorot lelah, pertahanan bisa runtuh kalau mantan player ini berulah. Apalagi dengan sengaja mempertontonkan bentuk tubuhnya yang sixpack itu. Jelas, Inggit menjadi salah tingkah.
"Pakai baju Al, kalau nggak, aku timpuk," ujarnya siaga satu.
"Nggak mau, gerah sayang ... butuh penyegaran dalam hidupku."
"Nyemplung sana ke bak," jawab Inggit ngasal.
"Ya ampun teganya, teganya, teganya."
"Munduran Al ... jangan terlalu dekat, katanya gerah?" ujar Inggit mendorong tubuh suaminya yang bertelanjang dada itu.
"Ah ... istriku cantiknya, manis sekali, pujaan hatiku," puji Biru seraya bernyanyi dengan nada absurd.
"Suaramu jelek, jangan merayuku, masih sakit Al," jawab Inggit malu-malu langsung mendekat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Biru mengelus kepala istrinya perlahan, lalu mendaratkan ciuman sayang pada pucuk kepalanya.
"Maaf ya, iya deh aku sabar menanti nanti malam." Inggit mendongak, menatap suaminya dan tidak menemukan kemarahan di matanya. Seketika perempuan itu menjadi lega.
"Hari ini kamu tidak ada kegiatan?"
"Ada lah," jawab Biru semangat.
"Apa?"
"Merusuh jejakmu, melukis bintang pada tempat yang telah tersedia, dan menggambar sungai madu cinta." Pria itu mengerling.
"Eh ... dasar, mesum!"
Dua hari di rumah aja membuat perempuan itu hampir tak bisa berjalan normal. Suaminya benar-benar nakal sekali, tidak memberikan kesempatan untuk minggat walau sejenak.
"Udah lumayan terbiasa kok, walaupun masih sedikit terasa ngilu dan nyeri. Hari ini ada acara kumpul sama anggota KKN, baru mau membentuk proker dulu."
"Ya udah aku anterin saja, nanti juga pulangnya aku jemput, aku juga ada ketemuan sama anggotaku."
Mereka datang ke kafe tempat berjanji sesuai kesepakatan bersama anggota.
"Cie ... ke mana pun diantar sama pawangnya," ledek Okta begitu pasangan halal itu datang menyambangi meja.
Mereka langsung masuk diskusi. Berhubung ini pertemuan yang kedua jadi sudah mulai mengenal satu sama lain. Ditambah ada grub chat yang menghubungkan antar sesama anggota, sehingga memudahkan diskusi apa-apa yang masih harus dirembug kadang di share di grub chat.
Mereka terlibat diskusi panjang yang cukup serius. Sabtu besok mereka sudah harus menghadiri pelepasan dan langsung berangkat sorenya. Karena waktu yang mepet membuat anggota gercep menyiapkan semuanya. Seperti sumber dana tambahan, yang anggota cari dari sponsor yang mereka cari secara terpisah sesuai jobdesc masing-masing.
Hingga menjelang sore, diskusi mereka yang sudah memakan waktu berjam-jam baru usai. Satu persatu meninggalkan lokasi.
"Sampai ketemu lusa teman-teman, untuk hal yang masih perlu dibicarakan bisa share di grub. Gue pulang dulu ya?" pamit Okta paling pertama.
"Ta, buru-buru amad sih, masih sore juga," timpal Dara sesama anggota wanita di kelompoknya.
"Sorry gaes ... anak emak jadwal padat, harus pulang tepat waktu. Bye duluan ya," seru perempuan berparas cantik itu.
"Inggit, mau bareng?" tawar Daffa tiba-tiba.
"Makasih Fa, nggak usah, sedang dijemput," tolaknya halus.
"Ya udah, aku tungguin aja, sampai Biru datang," kekeh pria itu ngeyel.
"Nggit, aku tuh seneng banget waktu kita bisa seanggota gini, jadi kangen sama nasi goreng buatan kamu, dulu sering ya buatin bekal buat aku. Hehehe." Daffa nyengir. Sementara Inggit hanya menimpali dengan senyuman tipis.
"Ah, itu hanya masa lalu Fa, tidak usah diingat-ingat," tegur Inggit merasa tak nyaman. Ditambah teman yang lain sudah pada pulang tinggallahereka berdua saja yang tersisa.
"Kamu nggak pulang?" tanyanya merasa mulai jengah.
"Sebentar lagi, Nggit, kamu banyak berubah ya?" ujarnya meneliti mantan pacarnya.
"Maybe!" jawabnya ambigu.
"Sorry, aku duluan ya," pamit Inggit karena merasa jengah. Ia akan menunggu suaminya sembari jalan saja yang penting tidak duduk berdua yang bisa menimbulkan asumsi lain bagi yang tak sengaja melihatnya.
"Inggit, boleh minta tolong, pinjam ponsel ya, paketan aku habis, aku butuh mengirim pesan pada seseorang," pintanya merasa tak enak.
"Owh ... boleh, ini Fa." Inggit yang hendak berlalu, mengurungkan niatnya sejenak, menyodorkan benda pipih itu ke tangan pria itu, sengaja Daffa menahan tangannya, jadilah mereka saling bertumpuk membuat Biru yang baru datang salah paham.
"Apa-apa ini, kalian ngapain berdua-duaan," murka Al menyorot marah. Dengan cepat menarik tangan Inggit dan membawanya keluar.
"Al, Al ... kamu salah paham?"