Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 50


Inggit tidak bisa tidur meski malam sudah larut, entahlah, pikiran gadis itu mendadak tidak tenang dan merasa waswas. Ia membalikkan tubuhnya dan menemukan Biru yang masih terjaga tengah menatapnya juga.


Semalam setelah mengucapkan selamat tidur, Biru merebahkan tubuhnya di kasur bagiannya. Ia memandangi punggung Inggit yang terlihat tak tenang, namun Biru belum berani memeluk. Bukan apa-apa, posisi mereka yang sangat dekat di atas ranjang membuat pikiran pria normal itu susah mengendalikan diri. Sebagai laki-laki yang normal, apalagi jelas itu halal baginya tentu saja Biru menginginkan, tapi ia harus menahan diri menuruti hasratnya sebab istrinya masih belum menerimanya dengan lapang.


Yah, Biru akui, ia sudah salah menilai dan bahkan berbuat sesuatu yang menyakitkan, tapi bukankah ia ingin berubah. Ia memang pecinta wanita, tapi itu dulu, bahkan dengan Hilda pun Biru tidak pernah bermain perasaan, hanya sekedar butuh. Biru akui, sedikit perasaan itu mungkin ada, tapi selebihnya hanya saling memenuhi kebutuhan yang tidak seharusnya. Apalagi jelas, larangan itu menentang agama.


Papa benar, mungkin selama ini aku cukup meresahkan, sehingga Papa menyegerakan aku menikah, agar aku tentram dan mendapatkan seseorang yang tepat.


Setelah Biru renungi berkali-kali, ia sangat beruntung bisa menjadi bagian dari hidupnya. Inggit itu selain cantik, ya istriku cantik , dia juga manis dan tidak suka caper. Walaupun sedikit keras kepala, dan cukup membuat penasaran. Dari sekian banyak wanita berlomba ingin menjadi teman kencannya, tapi kenapa sampai detik ini, Inggit tidak merasa tertarik dengannya. Apakah mungkin pria itu kurang tampan, atau memang Biru bukan type- nya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Biru lembut, mata mereka saling bersirobok dalam diam.


"Nggak tahu, tiba-tiba kantukku hilang," jawab Inggit jujur. Jarum jam pendek sudah menunjuk di angka sebelas, namun gadis itu malah susah terpejam.


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanyanya ambigu. Biru hendak mengambil guling yang memisahkan mereka di tengah, tapi Inggit menahannya.


"Jangan macam-macam!" ancamnya memperingatkan. Biru malah tersenyum menggoda.


"Sekali macam saja," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan mereka yang saling bertautan.


"Jangan menggodaku Al, kamu akan berakhir sakit hati karena aku tidak bisa membalas perlakuan mu," ucap Inggit dingin.


"Kenapa kita tidak mencoba saja, kita mencoba untuk hubungan kita," ucap Biru sungguh-sungguh.


"Maaf, Al, aku tidak bisa menerima sesuatu yang pernah dimiliki sahabatku," jawab Inggit cukup menohok. Biru langsung terdiam, ia merasa tidak punya kata untuk menyelamatkan hatinya, ia merasakan hantaman kecil, yang mampu menyesakkan dada. Jawaban itu datar saja, tapi cukup membuat Albiru sadar, bahwa dirinya memang benar-benar hina dan tak pantas dengannya.


"Apa aku terlihat buruk dan menjijikkan di mata mu, bisakah aku memperbaikinya untukmu?"


"Bukan untuk ku, tapi untuk dirimu sendiri," jawab Inggit diakhiri dengan senyuman. Ia bangkit dari ranjang, sengaja menghindari tatapan Biru yang mengiba, Inggit pasti goyah kalau sudah melihat tatapan memelasnya, tapi ia harus bisa menguatkan hatinya. Sesuatu yang diawali dengan niat tidak baik, baginya tidak ada kesempatan untuk mencoba, terlebih hubungan mereka yang dulu dijalani benar-benar toxic.


Inggit meninggalkan Biru dengan ponselnya, sejatinya apa yang sebenarnya digelisahkan, hubungan mereka kah? Atau perasaan lain??


Biru memegang dadanya yang berdenyut nyeri, ia baru ingin memulai, jangankan sambutan, sapaan pemanis bibir pun tak menyambangi itu, semua karena ulah Biru yang buruk di masa lalu.


"Semua orang berhak menentukan pilihannya menjadi yang terbaik, aku hargai keputusanmu walaupun aku tidak menyukainya, apakah kamu mencintai pria lain?" Biru menghampiri Inggit yang tengah berdiri di tepian jendela kamar, ia menatap bintang dengan wajah tenang.


"Terimakasih Al," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan matanya.


"Nggit!" panggil Biru memperhatikan istrinya dari samping.


"Hmm," jawab Inggit hanya dengan gumaman.


"Nggit, aku tidak bisa melarang hati kamu untuk jatuh cinta dengan siapapun, tapi status dan agama kita melarang itu karena kita mempunyai hubungan yang sah."


"Jangan khawatir Al, aku tahu batasan, dan tidak berniat untuk jatuh cinta dengan siapapun," jawab Inggit datar.


"Termasuk dengan suamimu?" tanyanya penuh harap. Inggit menatap Biru dalam.


"Kamu tahu jawabannya," katanya seraya melangkah menghindari jarak dengan Biru.


Jawaban apa? Bahkan aku tidak tahu bagaimana harus bersikap, Tuhan ... please ... aku sudah jatuh cinta. Jarang-jarang loh aku begini, apakah nasibku akan patah hati.


Rasanya susah sekali melunakkan hati Inggit, sudah mencoba dengan cara yang halus, tidak mempan, sedikit pemaksaan berakhir benci, cara sederhana tidak mendapat balasan, terus dengan cara apalagi??


Aha!


Batin Biru bersorak riang, mendadak kepalanya dipenuhi dengan lampu pijar buatan Thomas Alva Editson. Sesuatu yang berharga memang harus diperjuangkan, sedikit memaksa, tapi jangan terlalu kentara. Semangat Biru! ia terkekeh sendiri kalau pada akhirnya harus menggunakan cara konyol yang menggelitik.


Oke baiklah, kita mulai dari sini.


"Inggit, ayo istirahat, tidur bestie nanti kamu sakit." Biru pantang menyerah, tidak akan mundur sebelum berhasil mendapatkan hatinya. Tidak boleh dirinya yang patah hati, dan tidak ada sejarahnya Albiru Rasdan patah hati dan kecewa karena seorang wanita. Sisi lelaki pria itu terkoyak, ia merasa harus menang dalam bentuk apapun. Inggit menyorotnya aneh bin heran.


"Jangan menatapku seperti itu, ini hal yang sangat wajar antara istri dan suami. Bantu aku berubah untuk menjadi orang yang lebih baik, agar nanti jika jodoh kita harus berakhir, kamu hanya akan mengingat tentang diriku yang manis," ucap Biru meneduhkan. Inggit mengangguk senang, terlepas dengan hati mereka seperti apa nantinya, berpisah pun Inggit berharap tidak ada permusuhan.


"Deal!" Biru menyodorkan tangannya, Inggit menyambut uluran tangan itu tapi siapa sangka Biru langsung menarik tangan itu dan menciumnya.


Sambil menyelam klelep, eh salah, sambil menyelam minum air, jangan lupa ditambahkan sedikit gula agar lebih manis. Semanis bayangan hidupku bersamamu. Eaa


Tipe-tipe kang ngayal dulu!


"Ih ... kamu mah curi-curi kesempatan, dasar kang modus!" Inggit melempar bantal ke tubuh Biru.


"Adoh ... " Biru mengaduh seraya memegang dadanya dramatis, menampilkan cengiran di wajahnya seakan timpukan itu sakit.


"Lebay ...!" Inggit melempar senyum sengit, lalu segera merebahkan tubuhnya di kasur dengan menarik selimut agar membungkus dirinya.


"Inggit, sakit, tanggung jawab bestie ....!" rengeknya berakting.


"Diem Biru, tidur!!" pekik Inggit dari balik selimut.


"Bagi selimutnya, aku nggak kebagian." Mereka malah berebut satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah, tarik kanan tarik kiri hingga menyebabkan kegaduhan di kamar tidur.