Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 79


"Aku tidak peduli, aku merindukanmu, sayang." Biru berhambur memeluk istrinya. Tiga hari tidak bertemu serasa tiga bulan, mungkin malah lebih. Katakanlah pria itu lebay, tapi itu faktanya, Biru tidak bisa menunda rasa rindu yang ingin tumpah.


"Aku kangen banget," ucapnya seraya mendekap begitu erat. Menikmati pelukan itu lebih lama. Menghirup wangi tubuh dan rambutnya yang sukses membuat pria itu candu.


"Kamu kok nekat sih, nanti kalau Romo tahu, kamu benar-benar bisa dideportasi," protesnya merasa cemas. Biru sedikit mengurai pelukannya, namun tidak sampai melepas, hanya memberi jarak agar keduanya bisa saling menatap.


"Yang penting tidak di deportasi dari hatimu," ucap Biru seraya menunjuk hatinya dengan jari telunjuk. Inggit tersenyum tipis.


"Kamu berantakan banget, ngapain coba malam-malam malah datang. Malam tuh istirahat, tidur."


"Nggak bisa tidur, aku nginep di sini ya?" pintanya nglunjak, menjawil dagu istrinya seraya tersenyum. Inggit memonyongkan bibirnya.


"Nggak boleh lah, aku bisa kena damprat Romo, tahu sendiri kalau marah kaya apa," jawab gadis itu cemberut.


"Jangan sampai ketahuan lah, kita diam-diam kencan, emang nggak kangen sama aku?"


"Hmm ... kangen nggak ya?" Inggit sengaja menggoda.


Biru yang gemas langsung menyambar pipi gadis itu secara bertubi. "Wajib kangen, dilarang lupa apalagi sampai nggak mikirin aku. Jadi, kita impas."


"Serah kamu aja deh," jawabnya pasrah.


"Beneran? Minta french kiss boleh?" pinta Biru tersenyum penuh harap. Matanya menyorot lembut dan dalam.


Inggit bergeming, tidak mengiyakan pun tidak menolak, saat itulah pria itu perlahan mengikis jarak. Tanpa dikomando, gadis itu menutup mata lentiknya, seakan memberi izin suaminya menyentuhnya.


Perlahan, sesuatu yang terasa dingin itu mulai menyambangi bibir. Menyapu lembut, hangat nan penuh mendamba. Kedua tangan Biru memegang wajah gadisnya saat indera pengecap pria itu mulai tergelincir ke dalam mulut wanitanya. Mengabsen, mencecapi, saling bertukar saliva satu sama lain.


Remasan lembut di ujung rambut yang diciptakan tangan gadis itu memberikan sensasi yang luar biasa pada Biru. Mereka saling menumpahkan kerinduan, begitu menikmati pertemuan mereka yang menggelora. Seperti perangko dan amplop, keduanya tak mau lepas, hingga sedikit memperlambat gerakannya, dan kembali menatapnya begitu dalam dan lekat.


Saat Biru Ingin mengulanginya lagi, sebuah panggilan dan ketukan pintu menyerbu pendengaran keduanya.


"Inggit!" Suara khas Ibu melengking di ujung pintu. Buru-buru gadis itu menjauh dari suaminya yang masih betah mendekapnya tak berjarak.


"Ibu?" Netranya menyorot Biru dengan cemas. "Kamu cepet pulang, nanti kalau mereka tahu, aku bisa kena omel," resah gadis itu mendorong tubuh Biru agar menjauh dari tubuhnya. Pria itu menggeleng pelan, sangat tidak rela jika harus berpisah lagi.


"Sayang, ayo makan malam dulu," ujar Ibu menyeru. Membuka pintu kamar setelah diketuk beberapa kali.


"Eh, iya Bu, sebentar lagi Inggit nyusul," jawab gadis itu sedikit gugup. Ibu menatap putrinya datar, namun pintu balkon yang terbuka cukup lebar menarik perhatiannya. Wanita paruh baya itu masuk tanpa diduga.


"Ee ... Bu, kenapa?" Inggit langsung menyela.


"Kebiasaan banget sih, malam-malam buka pintu dan jendela. Udara di luar dingin dan lembab. Angin malam tidak baik untukmu, Nak," tegurnya seraya menutup pintu itu kembali dan tak lupa menguncinya.


Inggit bernapas lega saat Ibu hanya menasehati tanpa memeriksa keluar. Sudah bisa dipastikan Biru masih di sana. Inggit mengekor ibunya menuruni anak tangga. Bersikap biasa saja walau sebenarnya hati dan pikirannya masih terlalu sibuk memikirkan suaminya.


Gadis itu menikmati hidangan makan malam dengan tak tenang. Gurat wajahnya yang terlihat aneh mampu terbaca Bu Tami yang duduk tepat di depannya.


"Inggit, kamu kenapa?" tanyanya penuh selidik. Romo yang tengah khusuk menikmati hidangan yang tersaji ikut menatap putrinya.


Sementara Biru sendiri, nelangsa kedinginan di pojok balkon. Nyamuk yang berlalu lalang semakin menambah derita pejuang backstreet yang kesepian. Cukup lama pria itu berselimut dingin, kemeja navy yang membungkus tubuhnya tidak mampu memberi kehangatan pada dirinya. Berkali-kali bibirnya menggerutu, saat secara paksa harus melakukan donor darah pada serangga penghisap itu.


Plak


Satu tangkupan berhasil ia dapatkan, dengan gemas pria itu berseru senang. Lumayan menciptakan kesibukan di tengah malam. Semakin menambah derita yang lagi membujang.


"Lama banget sih, Nggit, dingin," keluhnya di tengah tiupan angin yang mlipir ke tubuhnya.


Pria itu bernapas lega saat pintu balkon dibuka, buru-buru Biru berdiri dan beranjak mendekat. Rasa dingin yang menyerbu tubuh mendadak lenyap mendengar deritan pintu terbuka.


"Inggit, kenapa lama banget, aku kedinginan," keluhnya langsung menerjang masuk. Kedua netranya membulat sempurna saat menemukan orang di depannya tengah menyorot garang.


"Ro-romo?" sapanya tergagap.


"Ngapain kamu ke sini? Sudah Romo bilang, jangan datang sebelum urusanmu selesai, pulang sana ke habitatmu!" usirnya ketus.


"Tapi, Romo, Biru masih kangen," jawab pria itu jujur.


"Dilarang kangen, apalagi rindu. Tidak usah datang sebelum masalah kamu bereskan, dan jangan berani kamu menemui Inggit secara diam-diam, Romo tidak segan-segan membawa anak Romo pindah, bila perlu mengirimnya nan jauh di sana."


"Eh, jangan Romo, jangan! Biru berjanji semua masalah akan segera diatasi dengan baik. Tolong jangan bawa Inggit ke mana-mana, Biru akan menjemputnya kembali."


"Sudah sana pulang, ngapain masih di sini, buang-buang waktu damai orang tua saja," usirnya ketus. Biru mengangguk patuh.


"Mau ke mana?" tanyanya melihat Biru yang keluar lewat pintu balkon.


"Pulang, katanya di suruh pulang, emang nggak jadi ya? Boleh nginep di sini?" Wajah Biru berbinar.


"Nginep di bulan sana, pintu keluar di sana, bukan loncat kaya maling!" tukasnya ketus.


"Besok-besok, ketahuan manjat pakai tangga lagi. Tangganya tak patahin!" Biru begidik ngeri menangkap kilatan amuk Romo.


"Permisi Romo, Bu, Biru pamit dulu."


"Hmm, sok lah ... lama amat!"


"Sayang ... pulang dulu ya, titip rindu untuk besok," pamitnya seraya nyengir dengan mengangkat tangan membentuk finger heart. Inggit tersenyum tipis melihatnya, sementara Ibu cukup diam mengamati, kalau Romo jangan tanyakan lagi, masih setia dengan wajah garangnya.


Ghem!


"Nggak usah lebay, banyak drama amad. Awas saja besok berani datang sebelum masalahmu beres, tak penggal lidahmu yang bisanya cuma ngomong tanpa bukti!"


Biru mengangguk ngerti, sangat tidak rela melangkahkan kaki menjauh pergi. Hati dan pikirannya masih tertinggal, namun ia berjanji dalam hati, akan segera membereskan masalah yang ada. Supaya bisa menjemput istrinya kembali.


Inggit kembali menuju balkon kamarnya, jaket hangat berbahan katun itu ia lempar ke bawah saat Biru melambai pamit.


"Makasih sayang," ucapnya tersenyum penuh semangat. Melempar kiss bye dari bawah sana.