
[Temui gue, di klinik kampus]~
"Siapa sih, nggak jelas banget," gumam Biru lalu. Mendapat pesan misterius tak mampu menggugah selera pria itu. Emang dasar tipikal cowok cuek, yang udah jelas aja kadang dibiarkan saja, apalagi yang belum jelas.
Biru melangkah lebar mengayunkan kakinya menuju parkiran. Ia harus segera pulang, sore nanti bahkan harus bersiap kerja.
"Bro, nanti temenin gue ya, sekalian kalian main di kafe," seru Biru melambai pada kedua sahabatnya yang berjalan mendekat.
"Yoi, kita pasti datang, sambil cari jodoh siapa tahu nyangkut di sana."
"Serah deh, yang penting datang."
"Datang doang nggak asyik kalau nggak bawa gandengan, ngajakin Inggit kira-kira mau nggak ya?" Nathan tengah menimbang-nimbang. Seketika Biru menyorot muram.
"Nggak bakalan mau, percuma, mending lo cari cewek lain."
"Ish ... Kartoyo mah, belum dicoba udah pesimis."
"Dia sibuk, udah, nggak usah ngeyel."
"Kok lo sok tahu, dari mana coba?"
"Ya ... gue nebak aja," jawabnya santuy
"Sotoy lo."
"Udah, nggak usah ngegas, terima nasib aja kalau nggak mau. Noh si Rere, dia boleh juga, roman-romannya naksir sama lo." Tunjuk Biru pada salah satu mahasiswa kemayu yang kebetulan tengah melintas di sebrang mereka.
"Astaghfirullah ... cewek tulen Kartoyo, bukan cabe-cabean. Oke lah, pulang dulu ya, sampai ketemu di peraduan cinta kita berdua," selorohnya genit.
"Amit-amit, menggilani tuh bocah, kurang minum obat, seandainya setok cewek di dunia ini telah habis pun, gue tidak akan milih lo." Seketika Biru begidik ngeri membayangkan kerlingan nakal Nathan. Nathan dan Devan langsung terkekeh bersama.
Biru pulang dengan semangat empat lima, ketika sampai rumah senyumnya tambah lebar melihat motor Inggit sudah terparkir di sana. Itu tandanya si empunya motor ada di rumah. Entah mengapa ia jadi pingin cepet pulang dan bertemu dengan gadis itu, jangan-jangan karma Devan masih berlaku, bucin sama cewek yang nolak dirinya.
Ya Tuhan ... semoga nggak gitu, Inggit bisa lihat kesungguhan hati gue, kalau gue itu beneran sayang.
Biru membuka pintu utama dengan hati berdebar, kok jadi deg degan, padahal juga tadi siang ketemu di kampus. Sepi, ternyata ruang tengah yang menjadi favoritnya tak berpenghuni. Biru beralih menuju kamar, di sana juga sama, bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan. Rapi, tiada jejak yang melintas.
Pria itu mulai gusar, menuju dapur juga tidak ada, kamar mandi, halaman belakang, ruang laundry, semua kosong mlompong tak menemukan sosoknya.
"Inggit ke mana sih," gumamnya mulai dongkol, entah mengapa tidak menemukan istrinya di rumah mendadak ia resah gelisah. Seketika ia merogoh ponsel di saku celananya, benda pipih itu iya tempelkan dekat telinganya menanti sautan dari istrinya.
Bunyi deringan telepon terdengar begitu nyaring dan nyata, Biru bergumam sebal setelah melihat ponsel Inggit terdampar di sofa. Jadi, kira-kira ke mana gadis itu pergi? Biru menjadi sangat khawatir dibuatnya.
Satu jam kemudian, saat Biru tengah menunggu dengan gusar, Inggit pulang dengan wajah lelah. Biru yang melihat itu spontan mendekat khawatir dan langsung membrondong dengan banyak pertanyaan.
"Dari mana aja sih, kenapa nggak ngasih kabar?" omel Biru perhatian.
"Rumah sakit," jawab Inggit lalu.
"Romo sakit lagi, kenapa nggak bilang, 'kan kita bisa berangkat bareng."
"Apaan sih, bukan, nganterin tetangga yang mau lahiran. Apa sih cerewet banget kaya emak-emak." Inggit menyorot malas.
"Khawatir Inggit, khawatir ... bedain antara cerewet dan khawatir."
"Serah deh, sama aja nggak beda jauh, kepo amad." Inggit berlalu dan langsung menuju kamar mandi. Berlarian di Koridor rumah sakit membuat gadis itu gerah dan ingin segera mengguyur tubuhnya yang penat.
Sabar ... Al, orang sabar tambah ganteng!
"Aaaaa ...!!!"
Inggit menjerit histeris, seketika Al yang sudah melangkah menjauh berbalik ke kamar langsung berhambur menghampiri. Pria itu termangu di tempat, menormalkan penglihatan dengan objek yang luar biasa di depannya. Inggit yang ketakutan tanpa sadar berlari keluar dengan tubuh berbalut handuk saja.
"Kecoa Al, di kamar mandi ada kecoa," adunya ketakutan.
"Owh ... kecoa," sautnya datar. Susah payah pria itu mengontrol hasrat tubuhnya.
"Kok owh doang sih, ya di matiin dong, 'kan geli," protes gadis itu merinding.
Biru masuk ke kamar mandi, ia melepas sendal yang ia pakai lalu melempar ke arah kecoa yang sedang asyik wira-wiri.
"Hap ...! Yes," satu lemparan objek tepat sasaran cukup membuat binatang bertubuh kinclong itu terkapar. Biru menyiramnya dengan air dan seketika beres. Namun, tidak afdhol rasanya kalau tidak menjaili istri ketusnya, seketika otak cerdasnya merespon tanggap ide yang diciptakan.
"Belakang kamu Inggit, kecoa ...!" pekik Biru lantang. Seketika Inggit menjerit ketakutan dan berhambur lompat ke tubuh Biru.
"Mana? Di mana?" tanyanya gusar. Biru ngeblank, susah payah menelan salivanya gugup. Istrinya dalam gendongan dengan posisi tubuh setengah polos.
Inggit masih sibuk meneliti sekitar dengan tubuh dalam gendongan. Sementara Biru bergeming, cukup menikmati maha karya Tuhan yang tak sengaja disuguhkan di depan matanya.
"Mana sih, boong ya? Turunin gue!" Inggit salting sendiri, kedua tangannya menggenggam erat simpul handuk di dadanya.
"Seksi," celetuknya tanpa berkedip.
"Kok mesum sih!" bentak gadis itu kesal. Tangannya melayang ke udara siap menabok muka tampannya.
"Nggak sengaja bestie ...!" Biru menangkap tangan Inggit yang mengudara. Inggit mendelik sengit. Satu tangan kirinya yang tersisa bersiap menerjang, sayangnya nihil, pria itu lebih gesit membaca pergerakannya.
"Ikh ... lepasin!" Gerakan Inggit yang berontak membuat handuk di tubuhnya melorot, spontan Inggit memekik histeris, seketika Biru bagaikan mendapat jackpot durian runtuh, membeku dengan muka bengong.
Astaga ... Tuhan, gue lihat semuanya
Seketika pria itu menggeleng cepat, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara Inggit sendiri sudah melesat entah ke mana, Biru yakin, gadis itu tidak baik-baik saja setelah semua terpampang nyata.
Satu jam berlalu, Biru kembali masuk ke kamar dan menemukan gadis itu tengah tiduran di sana dengan selimut membungkus seluruh tubuhnya. Pelan-pelan Biru mendekati ranjang.
"Nggit, hmm ... sorry, soal yang tadi gue nggak ada maksud," ucapnya lirih. Inggit bergeming, ia menyembunyikan kepalanya di bawah selimut, rasanya begitu malu dan kesal.
"Nggit, kok diem, seharusnya nggak usah malu juga, 'kan kita suami istri, jadi ... tubuhmu halal dalam penglihatanku," ucap Biru hati-hati. Biru menjadi gemas sendiri, istrinya itu sepertinya benar-benar menghindarinya karena kejadian tadi.
Tak ada respon, Biru mendes@h pelan. "Aku berangkat dulu ya, jangan kangen, aku pulangnya malam," pamitnya masih tak ada sautan. Biru berlalu keluar kamar dengan maklum, mungkin gadis itu masih syok dengan insiden sore tadi.
"Mau ke mana sih?" tanyanya menghentikan langkah Biru yang sudah di ambang pintu. Bibirnya langsung ketarik ke atas begitu suara Inggit mengalun.
Pria itu berbalik, "Kerja," ucapnya merasa senang sedikit diperhatikan.
"Owh ... hati-hati!" ucapnya kembali berbaring dan memunggungi pintu.
"Makasih."
"Hmm .... "
Biru tidak lantas pergi, pria itu malah berbalik dan mendekat kembali.
"Inggit!" panggil Al lirih di dekat telinga, hampir berbisik, padahal sepi hanya berdua.
"Astaghfirullah ... Al, kok ngagetin sih. Katanya berangkat?"
"Ada yang ketinggalan?"
Inggit terdiam, namun matanya tersirat tanda tanya, sebenarnya ia juga kepo Biru kerja apa, tapi terlalu malu menanyakan itu semua.
Cup
"Assalamu'alaikum ... " satu kecupan ia daratkan di pipi diakhiri salam. Membuat gadis yang belum genap dua puluh satu tahun itu terbengong di tempat. Sementara pelakunya pun sudah lebih dulu melesat, sebelum si empunya pipi mengamuk.