
"Kok bisa gini? Apa itu sakit, kamu nggak pa-pa 'kan, sayang?" cemas Biru meneliti istrinya.
"Udah pasti sakitlah, kok pakai ditanya sih," jawab Ares yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Hish ... orang gue nanya istri kenapa jadi elo yang jawab, lagian ngapain sih ngikutin ke sini?"
"Inggit, lain kali hati-hati ya, sebaiknya tidak usah lagi berurusan dengan Hilda, walaupun niatmu baik, tapi cewek kaya dia nggak bisa di baik-baikin, salah-salah kamu yang kena, untung nggak parah-parah amad, itu sudah termasuk tindakan kriminal. Mantan kamu tuh, Al, heran gue, kok lo bisa suka sama dia," celoteh Ares panjang lebar.
"Mungkin saat itu gue khilaf, so ... gue nggak mau bahas dia, aku minta maaf sayang, seharusnya aku tidak membiarkanmu menemui wanita itu, jadi gini deh, apes ...." keluh Biru merasa bersalah. Inggit hanya menanggapi kedua pria yang selalu terlibat cek-cok itu dengan senyuman.
"Aku urus administrasi dulu ya, kata perawat, tidak harus opname karena lukanya nggak begitu parah, kamu cukup istirahat di rumah."
"Iya, tadi hanya sedikit pusing, eh ... tahu-tahu udah di sini."
Biru melakukan administrasi pembayaran sekaligus menebus obat di apotik, sementara Okta dan Ares terlibat obrolan kecil sambil menunggu pria itu. Setelah menunggu lumayan lama, mereka akhirnya bisa pulang bersama.
Ares duduk di kursi kemudi ditemani Okta, di sampingnya. Sementara di jok belakang Inggit dan Biru, dengan bahu pria itu sebagai sandaran. Biru merengkuh tubuh istrinya dengan sayang, sementara perempuan itu cukup menikmati perjalanan dengan mata terpejam.
"Kita pulang ke rumah mama aja gimana?" tawar Biru memberi pilihan. Tangannya terulur mengelus kepalanya dengan lembut. Kejadian itu pun tak lepas dari tatapan Ares yang melirik lewat pantulan rear vision mirror.
"Rumah kita aja, nggak enak kalau sedang nggak vit gini tinggal di rumah mama, nanti ngrepotin," jawab Inggit merasa sungkan.
"Oke deh, senyamannya kamu aja, tapi nggak usah dibawa banyak aktivitas dulu ya?" ujarnya perhatian.
"Hmm," jawab Inggit hanya dengan gumaman, memejamkan matanya.
Selama perjalanan Ares fokus menyetir, Okta sibuk dengan ponselnya, Biru dengan pikirannya sendiri, dan Inggit benar-benar tertidur karena merasa lelah.
"Sayang ... ayo turun, sudah sampai." Biru menepuk pipi istrinya pelan. Inggit mengerjap beberapa saat, untuk mengeja kejadian yang baru saja terkumpul dalam kesadaran.
"Eh, sudah sampai ya?" Gadis itu segera turun.
"Makasih Res, Okta, kalian nggak masuk dulu, mumpung masih cerah nih."
"Kita langsung balik aja ya, lain kali mampirnya, mau balik ke kantor," tolak Ares beralasan.
"Idih ... bilang aja mau pulang berdua," cibir Biru mengerling.
"Ya emang cuma berdua, emang lo mau nemenin? Balik lagi ke kantor? Nggak 'kan?"
"Iya, iya sana pulang, thanks semuanya. Awas, Ta! Berdua-duaan yang ketiga setan," goda Biru sebelum masuk ke rumah.
Inggit di bantu Biru langsung menuju kamar, pria itu terlihat masih sangat mencemaskan istrinya. Tiba-tiba Biru mencium gadis itu begitu saja.
"Istirahatlah ... aku yang akan memanjakanmu mulai hari ini," ucap pria itu seraya membantu Inggit berbaring di atas kasur.
"Makasih, Al." Inggit menahan tangan pria itu ketika hendak beranjak.
"Kenapa?" tanya Al bingung.
"Mau ke mana, sini aja temenin." Biru tersenyum, ternyata Inggit akan lebih manja dari dirinya kalau sakit. Bahkan tidak mau ditinggal sama sekali.
Sementara Okta dan Ares, langsung pulang. Kedua manusia berbeda gender itu terlibat obrolan yang seru selama perjalanan pulang.
"Udah makan belum, Ta?" tanya Ares tiba-tiba.
"Hmm, kebetulan belum sih, tadi keburu ada insiden jadi belum sempat."
"Gimana kalau cari makan dulu, kebetulan juga tadi lagi makan siang tapi belum sempat kenyang langsung buru-buru ke rumah sakit."
Sebenarnya Okta merasa tak enak, tapi lebih tidak enak lagi kalau harus menolak.
"Eh, bukannya tadi katanya mau balik ke kantor?"
"Tadinya iya, cuma nanggung juga, ya udahlah nggak jadi aja."
"Tadi kamu kelihatan panik juga waktu aku telphon, masih berharap ya?" tuduhnya. Bukan rahasia umum lagi kalau Ares menaruh hati pada Inggit.
"Hah! Menaruh apa? Nggaklah ... biasa aja, emang jelas gitu ya?" Ares balik bertanya.
"Iya, jelas, sorry tadi nggak tahu lagi cara hubungi Biru, berkali-kali masuk tapi nggak diangkat, tapi kok bisa barengan gitu datangnya, atau emang lagi di tempat yang sama?"
"Iya, tadi kebetulan kita sedang bareng, pas banget kamu telphon, langsung panik Biru. Handphone tuh orang ketinggalan di ruang kerja ayahnya. Makasih ya udah hubungin aku, makasih juga udah nolongin Inggit dan ngejaganya."
"Sama-sama," jawab Okta datar saja. Mobil berbelok dan sampailah di sebuah restoran. Okta mengekor Ares yang berjalan sedikit di depan.
Lain Ares lain juga pasangan yang satu ini. Setelah beberapa hari Inggit hanya di suruh diam tanpa aktivitas yang berarti, gadis itu tentu saja mulai bosan. Ia merasa sudah sehat dan bisa beraktivitas kembali. Emang dasar Biru yang terlalu memanjakannya.
"Sudah dibilangin diem di kamar, sayang, nanti urusannya bakal ribet kalau kamu tambah sakit."
"Apa sih, udah sehat kok, 'kan yang sakit kening aku, lainnya enggak. Ini juga lukanya udah kering, aku bosan nggak ngapa-ngapain."
"Kamu kok manis banget, jangan-jangan timpukan kemarin membuat otak kamu bergeser, sehingga membuat kejutekanmu selama ini hilang."
"Aku nggak gitu kali, Al. Kamu suka berlebihan."
"Mama, telphon, mau ngajakin ke puncak, boleh ya?" pintanya semangat.
"Baru juga sembuh udah mau kluyuran, nggak boleh!" tolaknya cepat.
"Udah sembuh kok, nggak pa-pa Al, kasihan mama udah semangat dan aku juga udah iyain."
"Gimana sih, orang belum ngomong apa-apa kok main iyes aja, pokoknya nggak boleh!" Biru sedikit kesal, walaupun mama yang minta tapi tetap pria itu keberatan mengiyakan.
"Terserahlah, kamu ngomong sendiri ke mama, nggak enak aku nolaknya," ujarnya pasrah. Menyambar handuk dan melangkah menuju kamar mandi.
Sementara Biru sendiri terlihat sibuk dengan laptopnya. Derit pintu kamar mandi yang terbuka, cukup mengalihkan perhatian Al, dari layar monitor. Gadis itu terlihat lebih segar, cantik dan pastinya menarik perhatian. Mata elang Biru menyorot lembut pada seseorang yang tengah bersolek di depan cermin.
"Kenapa, Al, terpesona ya?" ujar Inggit mengerling.
"Kamu sekarang pintar menggoda, sini deh." Biru menarik tangannya hingga wanita itu terjatuh di pangkuannya.
"Wangi banget, ngabisin sabun berapa botol?" Biru mengendus-endus tengkuknya.
"Ikh ... jangan gitu dong, bulu kudukku berdiri semua," protes Inggit merasa geli saat pria itu menciumi belakang telinganya. Tangan kanan gadis itu terulur mendorong wajah Biru.
"Apa sih, Nggit!" Biru menangkap tangan itu dan menyimpannya dalam genggaman. Dalam seperkian detik, mata mereka saling bersitatap begitu dalam, saat Biru hendak mengikis jarak, bel pintu rumah lebih dulu menyapa. Membuat fokus kedua orang yang tengah dimabuk asmara itu pun, ambyar sudah.
"Bentar, Al, aku lihat dulu siapa yang datang."
"Hmm," jawab Biru sedikit kesal, hampir saja menyentuh sesuatu yang membuatnya sudah berfantasi lain.
Biru kembali menyibukkan dengan laptopnya, lamanya Inggit tak kembali, membuat ia menyusul, rupanya istrinya tengah sibuk di dapur.
"Ehem! Ada yang udah keramas nih," ledeknya seraya menaik turunkan alisnya. Pria itu mendekat, satu tangannya menarik pinggang Inggit, sehingga mereka tak berjarak sedikit pun.
"Ehem juga, emang ada yang salah?" Inggit ikut menggoda.
"Enggak, tapi bikin ser-seran, dan nyut-nyutan," jawabnya mengerling. Pria itu memainkan rambut dan mengendusnya.