Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 69


"Inggit awas ....!" Biru yang melihat pergerakan mobil berjalan cepat, langsung menarik gadis itu dan membawa ke dalam pelukannya. Namun, tarikan yang cepat, membuat tubuh tidak seimbang dan mereka terguling bersama ke bahu jalan.


"Aww ..." desis Inggit mringis, menahan sakit, saat lututnya terbentur trotoar. Sementara Biru sendiri, hanya mengalami luka lecet.


"Apanya yang sakit, sayang?" ucap Biru panik, langsung bangkit dan meneliti tubuh istrinya. Saat hendak menyentuh kakinya, Inggit menepis dengan kasar.


"Jangan sentuh!" tepisnya kasar. Biru bergeming, menatapnya lekat, pada siku lengannya.


Inggit hendak bangkit, namun kesulitan, sepertinya mengalami cidera kaki dan harus diperiksa. Biru yang melihat istrinya mendesis sakit langsung mengangkat tubuh gadis itu, tak peduli si empunya marah atau kesal.


"Semarah apapun kamu denganku, aku tidak akan mendengar, jika kamu terluka aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap pria itu dingin. Mendudukkan Inggit di atas motornya.


"Diem, pegangan yang erat, kita akan sampai lima belas menit dari sekarang." Inggit menurut, tak lagi menyela atau menolak, ia merasakan kakinya kaku dan berdenyut nyeri. Sebelumnya, Biru juga menghubungi sahabatnya untuk mengambil motor Inggit yang terparkir di pinggir jalan tak bertuan.


Sesampainya di halaman rumah sakit, Biru langsung menggendongnya, membawa ke ruang unit gawat darurat. Petugas medis langsung memeriksanya.


"Mbaknya kenapa, Mas?" tanya perawat seraya mengambil tindakan.


"Jatuh, Sus, tolong ya, kasihan istri saya kesakitan," jawab Biru adanya.


Selama pemeriksaan, Biru menunggu di luar, luka luarnya tidak begitu parah, hasil ronsen juga menyatakan aman, hanya cidera pada kakinya karena membentur terlalu keras saat ambruk sebelum terguling bersama. Jadi fix untuk sementara Inggit tidak boleh banyak gerak, dan tentu saja kesulitan untuk berjalan, malah hampir belum bisa. Kendati demikian, Inggit tidak diharuskan untuk rawat inap karena seluruh fisiknya sehat, hanya saja gadis itu butuh Biru karena saat ini, kaki yang biasa wira-wiri itu sedang butuh istirahat.


Setelah mengurus administrasi pembayaran, Biru langsung bertolak ke rumah. Selama perjalanan pulang pun, mereka saling mengunci rapat mulutnya, engggan bersuara atau lebih tepatnya Inggit masih malas dan kesakitan, namun saat ini ia tidak bisa menyela, sebab tubuhnya pun sedang ingin dimanja oleh raganya.


Biru menggendongnya, dan langsung membawa gadis itu ke kamar, membaringkan perlahan, dengan lembut membantu menumpuk bantal, dan menempatkan di belakang punggung Inggit, agar bisa bersender nyaman.


"Kamu harus banyak istirahat, tolong menurut, tepis dulu marahmu, simpan sejenak boleh, biarkan aku merawatmu sampai sembuh," ucap pria itu tulus.


Inggit bergeming, tidak menanggapi apapun itu. Hatinya gundah gulana, sebenarnya ia ingin kabur dan menjauh dari pria itu, tapi sepertinya alam pun tak merestui itu, terbukti kakinya tidak bisa jalan untuk beberapa waktu, entah sampai kapan, yang jelas rasa sakit dan nyeri itu sedikit berkurang setelah mendapat suntikan pereda nyeri.


"Sayang, aku minta maaf, aku tahu kamu marah, benci sama aku, tapi tolong percaya, bukan aku yang nyebarin foto itu," jelasnya sendu. Meraih tangan istrinya, namun lagi-lagi Inggit menghindari, jelas Biru merasa sakit hati, namun ia akan bersabar untuk membuktikan kalau ia tulus dan peduli, tidak ada niatan untuk berpisah.


"Kamu keluar dari kamar, Al, aku ingin sendiri." Inggit membuang muka, lelehan bening itu kembali berdusta tanpa permisi. Padahal sebelumnya sudah diperingatkan untuk tidak lagi menangis untuk hal yang paling krusial dalam hidupnya sekali pun.


Kenapa ini rasanya sakit!


Inggit menangis dalam diam, sementara Biru terdiam di tempat, ia tidak berniat untuk pergi dari kamar, malah terkesan abai, menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa penat, mungkin mengguyur kepalanya akan sedikit memberikan sentuhan sayang setelah terasa pening dan kacau seharian.


Usai aktivitasnya di kamar mandi yang lebih lama dari biasanya, Biru langsung keluar dan memakai bajunya, berjalan mendekati meja belajar, sempat menghubungi seseorang yang cukup serius, lalu tergerak membuka laptopnya. Pria itu nampak serius menatap layar monitor. Selama itu juga, tanpa Biru sadari ia mendapatkan perhatian khusus, Inggit mengamatinya dengan teliti, dan berusaha menyelami hatinya saat ini.


Tiba-tiba hasrat ingin ke kamar mandi begitu kuat, ia mencoba bergerak namun kesusahan, kaki kirinya benar-benar terasa sakit untuk bergerak sedikit saja.


"Aww ... " desisnya kuat, membuat Biru langsung tanggap dan menoleh padanya. Ia lekas menghampiri dengan wajah panik.


"Mau ke mana, kamu kalau butuh apa-apa 'kan bisa bilang?" tegur Biru mencoba sabar, istrinya itu tipe yang keras kepala dan gengsian.


"Mau ke kamar mandi, gendong ...." rengeknya terdengar manja, walau muka cemberut tapi mendengar ia meminta gendong, seketika membuat Biru tersenyum dalam hatinya.


"Kamu ngapain masih di sini?" Inggit menyorot malas. Biru yang tahu maksud istrinya pun tidak lekas keluar, ia ingin tahu reaksi selanjutnya.


"Aku udah tahu nggak usah dijelasin, keluar Albiru Rasdan!" suara gadis itu melengking, naik beberapa oktaf, tangannya mengambil gayung berisi air dan siap melemparnya.


"Iya, iya ... aku keluar, tenang sayang, panggil aku segera jika selesai dengan urusanmu," ucap pria itu berjalan menjauh.


Inggit kesal, namun saat ini ia butuh Biru, bahkan untuk urusan ke kamar mandi sendiri pun saat ini harus meminta bantuan orang itu. Mau tidak mau, Inggit harus menekan egonya, dan menerima keadanya saat ini.


"Al!" panggil gadis itu menyerukan namanya, pria itu yang sebenarnya sudah stanby di depan pintu karena khawatir, langsung bergegas masuk.


"Udah?" tanyanya memastikan.


"Belum! Ya udah lah, 'kan aku manggil kamu!" bentak Inggit ketus.


Biru tidak menanggapi gadis itu, ia langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa ke ranjang.


"Aku mau pulang ke rumah Ibu," ucap Inggit setelah Al hendak melangkah, ia berbalik dan menatapnya dalam.


"Aku tidak mengizinkan, kamu tanggung jawabku, aku yang akan mengurusmu sampai kamu sembuh, setidaknya bisa berjalan lagi."


"Aku ini merepotkan, kalau hanya sebatas tanggung jawab saja itu tidaklah penting, aku yakin, orang tuaku masih mau menampungku kembali."


"Aku tahu kamu marah dan kecewa sama aku, tapi tolong menurut saja dalam seminggu ini, anggap saja itu adalah tebusan hadiah dari tantangan kemarin, kamu masih ingat 'kan? Kamu wajib patuh dengan perkataanku selama satu minggu, dan saat ini aku akan menagihnya. Tetap diam di rumah, apapun yang terjadi, sesulit apapun itu kita akan melewati bersama dalam seminggu ke depan."


Dan selamanya.


Tekad Biru dalam hati, pria itu tidak berniat untuk berpisah. Hatinya sudah terpaut, jadi, senekat apapun gadis itu ngeyel, jawaban Biru tetap sama, mempertahankan untuk memperbaiki menjadi lebih baik.


Saat menjelang malam, Biru sudah terlelap, Inggit merasa haus tapi kasihan menilik suaminya yang terbaring di dekatnya dengan lelap.


"Al, Biru!" Inggit menepuk pipinya pelan, kalau tidak butuh-butuh amat juga sebenarnya Inggit sungkan, dan kasian.


"Hmm, apa sayang, mau apa?" jawabnya sayu.


"Aku haus, bisa minta tolong!" pintanya merasa tak enak, membangunkan suaminya yang baru saja terlelap, entah mengerjakan apa di laptopnya ia terlihat sibuk sekali tadi.


"Tunggu sebentar," jawab pria itu menilik nakas, ternyata gelasnya kosong, ia segera mengambil dan memberikan pada istrinya. Karena mengantuk, Biru langsung kembali ke kasur dan menjatuhkan bobot tubuhnya di bagiannya.


"Al, jangan merem dulu, aku mau ke kamar mandi," ucap Inggit sungkan, gadis itu nampak ragu-ragu untuk mengatakan.


"Ya!" jawab Biru cepat, bangkit dengan muka ngantuk, dan langsung membawa istrinya kembali ke kamar mandi. Sesaat selesai, Inggit kembali berteriak meminta tolong, Biru dengan sigap menggendongnya kembali.


Saat ingin membaringkan tubuh istrinya, tak sengaja pria itu ketarik. Rupanya rambut Inggit yang rusuh itu, nyangkut di kancing piyama Biru, alhasil pria itu tidak bisa bergerak menjauh. Kantuk yang sempat menyerang langsung hilang bertemu dengan istrinya begitu dekat.


"Aww ... jangan bergerak, Al, sakit," keluh Inggit mengaduh saat tidak sengaja ketarik rambutnya.


"Terus gimana, boleh semalaman begini?" tanyanya gamang.


"Kalau tidak ada pilihan tidur saja," jawabnya cepat. Inggit terlelap begitu saja dengan kepala menyandar dada bidang suaminya, rambut yang bergerak nyangkut seakan menyatukan mereka.