
"Selamat ya, Nggit, semoga gue cepet nyusul," ucap Nathan yang diikuti Devan.
"Eh, eh eh apa-apaan, cukup berjabat tangan!" tegur Biru posesif. Pria itu menghalangi Nathan yang hendak memeluk istrinya.
"Ish ... pelit beud jadi orang, ini namanya pelukan selamat dari sahabat. Nggak usah julid jadi orang!" Nathan tidak terima.
"Bodo amad, pelukan rasa sahabat, rasa strawberry, mangga, apel, apalah tetap nggak boleh, istriku dilarang kau sentuh walau sejumput rambut."
Mereka yang menyaksikan perdebatan keduanya hanya tertawa renyah sembari geleng-geleng kepala.
"Sorry Than, pawangnya galak," celetuk Inggit merasa tak enak.
"Sayang, mood aku lagi baik lho ... jangan nakal besok nggak bisa jalan!" ancamnya mengerling. Inggit terdiam menurut, ancamannya ngeri-nheri sedap.
"Berhubung suasanaku sedang baik, untuk merayakan kelulusan istriku kalian semua gue traktir deh!" seru Biru antusias.
Wajah berbinar langsung menyambangi duo bossy yang nglunjaknya nggak ketulungan. Mereka berdua mah suka khilaf kalau ada yang gratisan.
"Makanlah sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, jadi jangan berlebihan memesan makanan, sayang banget kalau sampai nggak kemakan."
"Belum juga pesan, udah diultimatum, ikhlas nggak sih!" gerutu Nathan sebal.
"Ikhlas nggak ikhlas kalau sama kalian mah, awas saja kalau nggak tahu aturan. Hawanya pingin meres dompet gue, lagi belajar jadi Bapak rumah tangga yang baik semoga disegerakan jadi Bapak beneran. Aamiin."
"Aamiin ...."
Mereka menuju kafe kekinian di area kota untuk sekedar acara syukur bersama. Inggit, Biru, Ares, Okta, Devan dan Nathan. Mereka kompak dengan mobil saling beriringan.
"Semoga aku cepet nyusul ya?" Doa Biru penuh harap.
"Aamiin ... semoga disegerakan, supaya bisa wisuda bareng."
Acara berlanjut sampai sore. Senyum bahagia itu jelas terukir di wajah keduanya.
"Selamat sayang, atas kelulusannya?" ucap Bu Diana menyambut kedatangan anaknya begitu sampai rumah.
"Terima kasih, Ma." Menantu dan mertua itu saling berpelukan.
"Kamu kapan sayang? Mama tunggu kabar baiknya," seru Mama Diana pada Biru putranya.
"Insya Allah segera menyusul, Ma, doakan saja semoga lancar. Aamiin."
Praktis sejak dikatakan lulus, Inggit sibuk menyiapkan untuk wisuda yang masih satu bulan ke depan. Sementara Biru, benar saja setelah istrinya lulus, seminggu kemudian Biru menyusul sidang skripsi. Keduanya sama-sama lulus di tahun ini dan bisa wisuda dalam gelombang yang sama.
"Selamat Mas, atas kelulusannya kamu yang terbaik." Biru langsung memeluk istrinya begitu keluar dari ruangan dan dinyatakan lulus.
Perempuan bergelar istri itu banyak sekali berjasa dalam hidupnya. Perempuan itu tidak pernah lelah mengajarkan kebaikan pada diri suaminya yang kadang masih bersifat kurang jelas dalam berbagai hal. Inggit akan sabar, menemuinya dan memberi semangat.
"Makasih sayang, kamu luar biasa. Dibalik suksesnya aku ada doa istri yang tulus."
Senyum tulus itu jelas terpancar di sana. Menyambangi kebahagian pada insan yang diselimuti penuh cinta.
Usai bercengkrama sebentar dengan keluarga, mereka berdua langsung ke kamar. Inggit segera mengganti pakaiannya setelah membersihkan diri. Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di perutnya saat perempuan itu tengah bersolek.
"Wangi banget, aku suka," celetuk pria itu menciumi tengkuk istrinya dari belakang.
"Mandi sana! Aku nggak suka parfum kamu nggak enak!" Inggit mendorong pelan suaminya.
"Eh, aku udah mandi sayang, ini parfum kesukaan kamu, kamu yang pilihin aromanya, kok nggak enak gimana?" Biru tak ambil pusing.
Pria itu tetap mendekat dan mencari kenyamanan dengan membenamkan kepalanya di batas leher jenjangnya. Sekali lagi, Inggit mendorong tubuh Biru, kali ini sedikit kuat dan langsung lari ke kamar mandi.
"Sayang! Sayang, kamu kenapa?" teriak Biru selaras gedoran pintu yang menggema.
Perempuan itu keluar dengan wajah pucet. Biru segera membimbing istrinya menuju ranjang.
"Dibilangin jangan dekat-dekat, aku nggak suka bau parfum kam minggur kamu membuatku mual!" bentaknya kesal di tengah energi yang tersiksa.
"Udah aku ganti, jangan menolak pelukanku lagi, karena itu terasa ngilu untukku," ujarnya sendu. Dua kali pria itu didorong sengit oleh istrinya.
"Aku buatin teh hangat ya, sepertinya kamu sakit, mungkin kecapean menyiapkan ini semua makanya tumbang."
Keesokan paginya, Inggit yang sudah terjaga lebih dulu merasakan semakin berat kepalanya. pusing dan mual, persis seperti orang yang masuk angin.
"Kita ke dokter saja ya, sepertinya kamu sakit beneran?" ujar Biru cemas.
Pria itu tengah bersiap-siap memilih pakaian untuk masuk ke kantor. Semenjak sidang kelulusan, Biru langsung didaulat di kantor ayahnya.
"Aku nggak pa-pa, ini cuma masuk angin, nanti aku minum obat lah atau mungkin nggak sih kalau aku ..."
"Aku apa, Dek?" tanyanya tak sabar.
Inggit berjalan gontai menuju meja belajar, mengambil kalender yang berdiri di sana. Mulai menghitung-hitung siklus masa-masa periodenya. Benar saja, sudah telat dari beberapa minggu. Mungkin karena terlalu sibuk sampai nggak merhatiin diri sendiri.
Biru mendekati istrinya dengan wajah ingin tahu.
"Ada apa kok senyum-senyum gitu?" tanya Biru mengeryit.
"Aku boleh minta tolong nggak?"
"Tolong apa? Katakan saja sayang, aku pasti akan jabanin kalau mampu."
"Tolong beliin tespeck ya, aku udah telat minggu-minggu ini, mana tahu positif." Wajah Biru langsung berbinar, padahal belum jelas kebenarannya.
"Iya mau, tunggu di rumah saja, aku ke apotik sekarang," ujar pria itu langsung melesat pergi.
Setengah jam berlalu, Biru segera kembali dengan membawa alat pendeteksi kehamilan itu. Cukup menunggu beberapa menit, hasilnya akan muncul dengan nyata.
"Gimana sayang, apa hasilnya?" todong pria itu semangat empat lima. Menanti di depan pintu kamar mandi.
Melihat ekspresi istrinya yang mrengut, Biru langsung memeluk memberikan kekuatan ketenangan.
"Nggak pa-pa kalau hasilnya negatif, jangan sedih dan merasa kecewa, mungkin Tuhan ingin menundanya untuk hal kebaikan."
Inggit mengendurkan pelukannya, perempuan itu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi cowok sok tahu banget, orang hasilnya positif juga," jawabnya dengan menampilkan alat uji itu ke hadapannya.
Biru ikut meneliti hasilnya, benar saja ada tanda dua garis di sana.
"Masya Allah, alhamdulillah ... kamu beneran hamil? Terima kasih ya Allah, Terima kasih sayang sudah mengandung anakku," ujarnya haru.
Pelupuk matanya basah, pria itu ikut menangis haru saking senanngnya bahkan hampir berjingkrak jika mungkin.
"Ini adalah kabar spektakuler, kado terindah pernikahan kita."
Berita bahagia pun sampai pada telinga keluarga mereka. Sama-sama anak tunggal dan hamil cucu pertama. Mereka para orang tua malah pada rempong dengan urusan hamilnya putri mereka.
"Terima kasih sudah memberi warna dalam hidupku, terima kasih sudah mau menemani diriku yang sedari awal tidak berakhlaq hingga sekarang bisa lebih baik lagi. Aku bangga memilikimu dan anak kita. Love you more, Inggit Prameswari. Cerita indah kita akan terukir abadi dalam naungan hati terdalam kita."
"Aku bangga menjadi bagian dalam hidupmu, aku yang berterima kasih, Mas, kamu suami yang baik, ayah yang bertanggung jawab. Tetap mencintaiku walau masanya tak sama. tetap menjadi sandaran diriku saat diri ini rapuh dalam pijakan. Love you too, Albiru Rasdan."
Cerita mereka terukir indah pada hati pemiliknya. Saling bergandengan tangan mengantar putra putri mereka tumbuh menjadi permata dunia. Keluarga yang bahagia, keluarga yang harmonis bukan tidak ada ujian yang terlewat, semua berproses untuk berusaha menjadi lebih baik. Menikah muda bukan hal yang menakutkan, semua akan indah bila keduanya bisa menyikapi dengan peran yang tersaji di dalamnya.
Tamat
Love you all ... terima kasih salam sayang dari keluarga Inggit dan Biru. Antusiasme pembaca yang mengikuti jalannya cerita ini sampai finish. Thanks buat supportnya, pembaca setiaku terima kasih yang rajin komen, like dan vote untuk cerita ini. Pokoknya love you all ....
Ikuti terus cerita-cerita seruku yang lainnya. klik profilku baca yang masih on going di judul "Noktah Merah" up setiap hari dan pastinya tak kalah seru.
Salam sehat, waras, bahagia selalu๐๐๐