
"Ini apa?? Bukan punya gue!!" pekik Inggit reflkes melempar benda keramat ke muka Biru, perempuan itu ngacir dengan wajah yang tiba-tiba memanas.
"Apaan sih, lebay banget, tinggal di jemur juga," gerutunya seraya menggeleng pelan. Diam-diam pria itu mengulum senyum melihat Inggit yang terkesan malu.
"Baru pegang wadahnya aja udah panik dan di lempar, apa kabar kalau lihat isinya." Biru terkekeh sendiri membayangkan. "Dasar cewek polos," imbuhnya lirih. Biru menjadi gemas sendiri.
Inggit hampir tidak punya muka setelah kejadian tak terduga di halaman belakang. Ia merasa aneh dan sangat malu, apalagi muka Biru yang datar dan biasa saja setelah kejadian itu. Suasana mendadak canggung.
"Nih, makan ini dulu untuk mengganjal perut, dari tadi pesan makanan tapi belum sampai-sampai." Biru menyodorkan kemasan biskuit. Karena perut memang terasa lapar, Inggit langsung menerimanya tanpa menyela. Ia sama-sama makan dalam diam.
"Hari ini, lo ada kelas nggak?" tanyanya di sela kunyahan.
"Siang, sampai sore. Emang kenapa?"
"Habis dari kampus bisa ikut ke rumah Mama, beliau menyuruh kita main ke rumah, katanya kangen sama kamu."
"Nggak janji, gue sibuk sampai sore," jawab Inggit lalu, meninggalkan Biru sendirian di ruang tengah.
"Mau ke mana sih? Emang nggak capek baru pulang dari Jogja udah mau main." Biru mengekori istrinya sampai kamar.
"Kepo! Bukan urusan lo!" ketusnya melirik sengit. Biru membuang napas kasar.
"Kalau lo nggak percaya bisa hubungi Mama sekarang." Biru menyodorkan handphone miliknya. Inggit menatapnya jengah.
"Nanti gue usahain," final Inggit mengalah. Karena bingung mencari alasan untuk menolak, Inggit mengangguk saja, lagian kalau mertuanya yang baik hati itu yang minta, sungguh Inggit tidak bisa menolak.
"Nggit!" panggil Biru lirih, duduk di pinggir ranjang.
"Apa sih, sana keluar! Ngapain ngikutin gue mulu dari tadi," jawabnya kesal.
"Kalau seandainya gue mutusin Hilda, apa lo mau ngejauh dari Ares dan Nathan." Tiba-tiba Biru berkata demikian. Inggit yang tengah sibuk dengan ponselnya langsung melirik pria berstatus suaminya itu.
"Nggak tahu," jawabnya datar.
"Kamu suka sama Ares?" Inggit bergeming, menyorot tajam pria yang mendadak cerewet itu. Meninggalkan kamar dengan tatapan tak ramahnya.
"Nggak jelas banget tuh cewek, ditanya bukannya jawab malah melototin. Apaan sih!" Biru kesal sendiri, menggerutu tanpa jeda.
"Aneh banget tuh orang! Putus ya putus aja pakai laporan. Dikira gue tempat konsultasi hati apa!" Bukan hanya Biru yang menggerutu, Inggit pun sama.
Inggit tengah fokus bersosmed ria ketika bel rumahnya berbunyi. Perempuan itu segera menuju pintu utama dan melihat siapa yang bertamu di jam random begini.
"Permisi mbak, pesanan atas nama Albiru Rasdan," sapa Abang grab food.
"Owh ... iya, Pak bentar." Inggit masuk ke kamar untuk mengambil uang.
"Al, pesenan lo datang." Inggit memberi tahu walau sebenarnya enggan.
"Owh ... tolong ambilin uang di dompet gue, Nggit," pinta Biru yang tengah sibuk di depan laptopnya.
"Di mana?" Inggit sama sekali tidak melihatnya.
"Laci nakas," jawab pria itu tanpa mengalihkan tatapannya pada layar laptop. Inggit mengambilnya sesuai instruksi. Setelah mengambil beberapa uang lembar berwarna merah, Inggit segera menuju depan. Rupanya suaminya itu delivery makanan cukup banyak.
Selesai makan Inggit langsung bersiap ke kampus. Gadis itu sudah mandi dan sudah siap dengan setelannya. Sama halnya juga dengan Biru, pria itu juga bersiap ke kampus. Mereka berangkat menggunakan motor sendiri-sendiri. Sesampainya di parkiran mereka hampir bersamaan, mereka memarkirkan motor berdekatan.
"Nanti jangan lupa, usai kelas langsung pulang, kita akan ke rumah Mama," ujar Biru sebelum meninggalkan parkiran kampus.
Hari ini ada kelas Bu Citra. Inggit memasuki kelas seperti biasa. Selama sembilan puluh menit mengikuti materi dengan lesu, sedikit capek dan masih mengantuk. Usai kelas gadis itu belum beranjak, masih setia menghuni bangkunya dengan kepala ia jatuhkan ke meja. Rasa kantuk membuat Inggit memutuskan untuk diam sejenak.
"Nggit, lo kenapa, nggak semangat?" sapa Hilda mendekat.
"Mager, lo mau langsung pulang?"
"Iya, duluan ya," pamit Hilda berlalu meninggalkan ruangan.
Sementara Biru sudah menunggu di parkiran dengan resah. Ia ingin cepat pulang ke rumah. Sejak tadi handphone pria itu berdering, rupanya Hilda yang menghubunginya. Gadis itu meminta bertemu setelah tiga hari ini Biru menghilang. Karena tak bisa menghindar, Biru akhirnya mengiyakan pertemuan mereka. Biru juga merasa harus berbicara mengenai hubungan mereka.
"Sorry Da, kemarin waktunya mendadak," jawab Biru cuek.
"Ya udah, sebagai gantinya kita jalan hari ini," rengek Hilda memaksa.
"Sore ini gue .... "
"Kenapa? Nggak bisa lagi? Gue nggak mau penolakan, pokoknya lo harus mau?" Hilda gemas sendiri dengan pria di depannya yang selalu mencari alasan.
"Bentar aja tapi ya, gue mau pulang ke rumah Mama," jawab Biru refleks tanpa terduga.
"Emang selama ini lo tinggal di mana, apartemen? Kok nggak ngabarin?"
Adoh ... salah ngomong lagi.
"Nggak, maksudnya habis dari kampus mau langsung pulang," jawabnya ngeles.
"Owh ... pingin banget kenalan sama Mama lo, Kira-kira kapan lo mau kenalin gue ke orang tua lo, Al?" harap Hilda mengiba.
"Kapan-kapan, Mama sama Papa sibuk, jarang di rumah," kilahnya cepat.
"Da, ada yang pingin gue omongin." Muka Biru mendadak serius. Ia sudah memikirkan kegalauan hatinya sejak semalam.
"Gue mau hubungan kita berakhir sampai di sini," ucap Biru cukup jelas. Hilda yang tidak persiapan langsung menatap tak percaya. Ia memang tidak pernah setia, tetapi putus dengan Biru tentu saja Hilda tidak mau.
"Lo jangan becanda deh, Al, gue nggak mau!" tolaknya penuh tanda tanya.
"Maaf, Da, tapi gue serius, gue udah mikirin ini baik-baik, gue harap lo mau ngerti."
"Gue nggak mau putus, gue salah apa? Pokoknya gue nggak mau putus, gue bahkan rela ngasih semua hidup gue ke elo, Al, gue nggak mau!" pekiknya tegas, suasana mendadak tidak kondusif.
Biru membuang napas lelah, Biru pikir putus dengan Hilda akan mudah seperti memutuskan cewek-cewek lain yang pernah menjadi kekasihnya. Ternyata Hilda cukup kuat bertahan, entah itu cinta atau benar seperti dugaan Inggit, dirinya hanya selingan saja.
"Pokoknya gue nggak mau putus, titik. Oke hari ini gue ngalah kalau lo nggak mau jalan, sepertinya lo masih lelah, istirahat lah Al, gue harap besok lo sudah kembali menjadi Albiru yang gue kenal, care, royal dan manis." Setelah Hilda berucap demikian, Hilda pergi meninggalkan Biru sendirian.
Cukup lama Biru terdiam, menyelami hatinya yang entah. Dirinya benar-benar dilanda kegalauan dua pilihan. Langit mulai mendung, pria itu bangkit dari sana dan segera pulang. Begitu sampai di rumah, ternyata motor Inggit sudah sampai di rumah, itu artinya gadis itu sudah pulang.
Biru memasuki rumah dan mendapati istrinya tengah menonton televisi sambil nyantai.
"Katanya sibuk sampai sore, kok udah di rumah? Kangen ya sama gue?" selorohnya, mengambil duduk begitu saja di samping Inggit.
"Amit-amit kangen sama lo, kaya nggak ada yang lain aja." Nggak tahu kenapa dekat dengan Biru selalu membuat Inggit kesel, dan naik darah.
"Gue kira kangen, salah duga berarti," gumamnya pelan. Seraya meletakkan tas punggungnya di dekat sofa.
"Taruh kamar sekalian Al, yang rapih dong, gue baru saja beberes," protes Inggit demi melihat tas yang teronggok begitu saja tak bertuan.
Tak ada sautan, suasana ruangan mendadak sunyi, hanya suara TV yang menemani. Tiba-tiba terdengar suara berisik berjatuhan di atas atap. Sontak keduanya saling melirik.
"JEMURAN!!" pekik keduanya kompak, mereka spontan lari ke belakang rumah secara bersamaan.
"Ih ... gue duluan, minggir Biru sempit." Mereka terjebak di ambang pintu belakang yang tidak begitu besar bersamaan.
"Lo yang minggir Inggit, keburu hujan!" Inggit mengalah sejenak memberi ruang Biru untuk lewat. Mengambil dengan cepat di tempat jemuran untuk menghindari hujan yang sudah kadung berjatuhan.
Baik Inggit maupun Biru, keduanya masuk rumah dengan memeluk pakaian mereka yang sudah sedikit basah. Mereka sama-sama menaruh di tempat penjemuran bagian dalam. Hujan yang mendadak besar, membuat mereka setengah basah. Tanpa sadar, Biru menatap Inggit tanpa berkedip.
"Lo kenapa lihatin gue?" tanyanya bingung, Inggit baru saja selesai merapikan jemuran agar tidak bau bila sekali tidak kering.
"Pakaian lo?" ucap Biru melongo. Inggit mengikuti arah pandang Biru ke tubuhnya. Kaus putih tipis yang Inggit kenakan cukup membuat isinya begitu kentara jika dalam keadaan basah.
"Akh ... jangan dilihat, mesum!" pekik Inggit kaget, melihat dirinya yang begitu transparan. Spontan gadis itu menubruk tubuh Biru dan menutup matanya.
"Diem, balik badan, awas kalau ngintip!" sentaknya kesal. Biru hampir tidak bisa bernapas merasakan spot jantung dadakan. Ia menurut saja ketika tubuhnya di putar, ia tertawa terpingkal-pingkal melihat Inggit yang berlari gesit meninggalkan ruangan.