
Biru mrengut, sedikit ngambek tidak jelas, yang lebih tepatnya kesal dengan situasi yang ada.
"Berapa hari lagi," tanyanya tak sabaran, mendusel di ceruk leher istrinya.
"Baru dua hari, Al, ya ampun ... apaan sih, please deh ... !" Inggit kesal dengan tingkah suaminya yang rusuh.
"Emang biasanya berapa hari?" tanya lagi cukup penasaran.
"Satu minggu, bisa lebih sehari dua hari, kalau capek dan stress. Makanya jangan rusuh, sabar 'kan bisa."
"Yah ... itu sih lama," jawabnya cukup kecewa.
"Idih ... kemarin berbulan-bulan santai aja, kenapa sekarang uring-uringan sih, Pak?" ledeknya menggoda.
"Beda lah sayang, sekarang aku mudah kesetrum kalau dekat, nempel kaya gini aja Bondan menjerit ingin ditidurkan, ah ... ini sungguh penyiksaan," gerutunya kesal. Inggit diam-diam tersenyum melihat kesengsaraan suaminya yang jelas tergambar nyata. Bahkan saking gemasnya, pria itu sampai membuat bintang begitu banyak di sekitar lehernya.
"Yang benar saja dong Al, ini terlalu nakal," protes Inggit tak setuju, mendapati leher jenjangnya yang putih itu berkerlipan tanda sayang di sana.
"Salah siapa nggak boleh di tempat lain, ya sudah di situ saja yang boleh," jawabnya tenang. Membuat Inggit manyun sambil meneliti dirinya yang acak-acakan karena serangan suaminya yang cukup rusuh.
"Duh ... kentara banget lagi, kelihatan dari sudut mana pun, rese' ih ...." Inggit semakin kesal kala melihat pantulan dirinya, di usap pun semakin jelas memerah. Cermin di depannya menggambarkan muka kesal dirinya yang sibuk menutupi dengan riasan rambut sebahunya.
"Pinjam syal dong, ada nggak?" pinta Inggit setengah frustasi. Siang ini ada pertemuan yang sudah diagendakan bersama Okta. Inggit tidak mau menjadi pusat perhatian sahabatnya, atau bisa menjadi bulan-bulanan temanya kalau melihat tanda yang di lukis Biru. Karena penampilan dirinya yang penuh tanda kepemilikan seorang pria.
"Biarin aja lah, jangan di tutupin, aku suka melihatnya," ujarnya bangga dengan sudut bibir terangkat.
"Ish ... nggak cs banget sih," Inggit menghentakkan kakinya kesal, menuju lemari pakaian dan segera membongkar isinya. Sayang, barang yang ia cari tidak pernah ia temukan.
"Aku tidak punya syal, udah jangan ngambek nanti kita beli ya sayang," bujuk Biru serta memeluknya dari belakang, ia tersenyum tipis mengamati karya dirinya yang berkerlipan indah di leher jenjang istrinya.
"Makanya besok-besok bolehin aku buat di tempat yang tertutup, biar nggak repot-repot buat nutupin," ujar pria itu tersenyum.
"Nggak mau lagi, selama belum tuntas pokoknya nggak mau, harus bisa sabar, titik nggak pakai ngeyel."
"Eh, ya nggak boleh gitu dong sayang, itu adalah salah satu pahala seorang istri menyenangkan suaminya," sanggahnya penuh dengan pembelaan.
"Terserah ah ... males, Al, hari ini tuh Okta sama aku ada rencana jengukin Hilda, boleh?" pintanya sedikit ragu.
"Ya terserah kamu aja, senyamannya kamu, eh iya, aku belum cerita ya ... jadi, aku mau jujur, aku bantuin biaya rumah sakit Hilda, aku ngerasa kasihan aja, nggak pa-pa 'kan?"
"Owh ... kasihan ya, ya nggak pa-pa, 'kan uang kamu, suka-suka kamu lah mau dibuat apa coba," Inggit langsung kesal, melihat hal itu sudah pasti perempuan itu salah paham
"Sayang, aku cuma bantuin doang, nggak pernah ketemu lagi semenjak hari pertama aku antar ke rumah sakit, jangan ngambek dong, lagian aku cuma sekedar bantuin itupun aku nggak ke sana sendiri, aku lewat Nathan, aku nggak mau ketemu kalau nggak bareng sama kamu, karena ada hati dan perasaan yang harus aku jaga," ujarnya seraya meraih tangan istrinya.
"Anggap saja, kita sedang bersedekah untuk teman kita yang membutuhkan, aku janji nggak bakalan nemuin lagi tanpa izin darimu," ujarnya lagi. Biru mengambil dompetnya, lalu mengambil beberapa kartu ATM miliknya.
"Ini, kalau kamu nggak percaya, kamu pegang semua uang aku, aku nanti minta aja kalau mau beli apa-apa, atau keperluan lainnya." Inggit nampak melongo seraya menatap kartu-kartu itu.
"Banyak lah, aku nggak kere-kere amat, walaupun uang dari Papa sih, hehehe. 'Kan gaji aku belum turun, tapi nggak masalah, kata Papa nanti kalau aku banyak bantuin bakalan di kasih bonus yang gede, kita bisa liburan ...." ujarnya girang.
"Liburan mulu dipikiran kamu, aku ambil yang ini aja Al, semoga isinya nggak mengecewakan ya, cukup untuk biaya hidup kita sehari-hari," ucap Inggit seraya mengambil salah satu kartu yang disodorkan, Al, dan menyimpan di dompetnya.
"Aku berangkat ya, kamu sana kalau mau ke kantor Papa, aku mau jalan sama Okta habis jenguk Hilda," ujarnya semangat.
"Hmm, giliran mau main aja semangat banget ngusir aku, aku antar deh sampai tujuan."
"Ikh ... nggak usah, modus ya ... bilang aja pengen ikut jengukin mantan," tuduhnya kesal.
"Astaghfirullah ... nggak, sayang, mana ada aku kaya gitu, aku ngantar sampai tempat janjian sama Okta, habis itu aku ke kantor Papa, kamu jalan sama Okta, awas aja ketemuan sama cowok."
"Iya ... ya ampun ... dasar, posesif!" gumamnya kesal.
"Biarin lah, tapi seneng juga 'kan diposesifin?" ujarnya mengerling.
"Nggak gitu juga kali, Al, ada kalanya pasangan kita juga butuh waktu untuk dirinya sendiri, atau sekedar berbagi bersama sahabat yang ada, jadi ... saling percaya aja deh, aku rasa kejadian kemarin cukup membuat kita hati-hati dalam setiap bertindak."
"Iya, aku paham." Inggit dan Al berangkat bersama, mereka telah membuat janji untuk kegiatan masing-masing.
"Nanti, kalau sudah selesai urusannya, telfon ya, biar aku jemput sekalian," ujar Biru sebelum beranjak setelah Inggit turun dari kendaraan.
"Siap, bos, itu bestie aku udah nungguin, hati-hati di jalan." Biru mengangguk dengan senyuman.
"Okta, titip Inggit ya, awas jangan sampai lecet, atau terluka sedikit pun nanti aku nggak ngebolehin kamu main lagi."
"Lebay," cibir Okta jengah. Inggit dan Biru saling melempar senyum sebelum akhirnya benar-benar beranjak.
"Ya ampun ... mantan player bucin abis, Biru udah beneran cinta tuh sama kamu, Nggit, siap-siap aja kamu diangkremin setiap hari."
"Astaga ... bahasa kamu, Ta, emang gue ayam?"
"Hayam kampus, hahaha."
"Ngledeknya kebangetan, kalau mau kaya gitu tuh kemarin pas foto gue viral, sekarang mah percuma, Inggit Prameswari sudah kembali bersih namanya," sombongnya muncul.
"Buk, buk ... istighfar ... kemarin nangis-nangis loh," sindirnya mengerling.
"Iya ih ... anjir, gara-gara musuh berkedok sahabat, kok berasa jadi jahat banget ya, tapi ya sudah lah, semoga Hilda tidak pernah ngulangin lagi perkara apapun. Sebenarnya gue juga kasihan, tapi lebih kembali pada diri kita masing-masing, dimana kita menabur di situ kita akan menuai hasilnya. Jadi, sanksi dari kampus cukup setimpal lah. Keluarga Biru juga tidak mau memperpanjang kasus, asal Hilda tidak berulah lagi semoga saja."
"Ini beneran kita mau jenguk Hilda? Di kost-kostan?"
"Iya, beneran, udah pulang 'kan dari rumah sakit?"
Inggit dan Okta bertolak ke kost-kostan Hilda, baru saja mereka menginjakan di halaman rumah kost itu, Inggit dan Okta dibuat melongo dengan kehebohan di sana.