Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 54


Biru tak kuasa menolak ajakan Hilda saat perempuan berstatus mantan itu meminta untuk di antar pulang. Sebenarnya ia yang sudah membuat janji dengan Inggit, tapi entah mengapa permintaan Hilda tidak mampu di cegah, bahkan perempuan itu nekat saja langsung menaiki si kuda besi kesayangan mantan kekasihnya itu.


"Gue anter pulang Da, sorry, mungkin ini yang terakhir, gue harap lo jangan lagi recokin hidup gue," pinta Biru berharap Hilda mau mengerti.


"Iya, tapi gue ingin yang terakhir ini kita jalan, agar gue bisa memaafkan lo dan melepas dengan tenang," ucap Hilda berbohong.


"Lo mau ke mana?" tanyanya tak sabaran, bukan karena cepat ingin jalan tapi ingin cepat semua berakhir.


"Ke mall, kita belanja, main, nonton, pokoknya melakukan sesuatu yang menyenangkan, setelah itu gue janji, nggak akan minta lagi, please Al, turutin gue yang terakhir kali sebelum kita benar-benar menyudahi hubungan ini," ucapnya sendu. Biru nampak Dilema, keluar dari lingkaran Hilda ternyata sulit juga, ia pantang menyerah, Biru pikir tak apa kalau hari itu menjadi hari terakhir mereka.


"Oke, gue turutin kemauan lo terakhir kali, tapi gue cuma bisa nganter lo belanja selebihnya gue nggak mau," jawabnya datar. Hilda berseru senang, ia hendak mendaratkan kecupan singkat di pipi pria itu, tetapi keburu Biru menghindar, entah mengapa Biru merasa benar-benar risih.


Saat kendaraan mulai membelah jalanan, berkali-kali Biru mengurai pelukan hangat Hilda yang mengunci dari balik punggungnya. Biru sungguh merasa tidak nyaman, dan rasanya benar-benar aneh.


"Tolong jangan begini, Da, lepasin tangan lo, gue juga jalannya pelan-pelan," sergah Biru menepis dan memisahkan tangan Hilda yang saling bertautan, mengurung posesif.


Hilda mendengus kesal, namun ia segera menormalkan ekspresi wajahnya agar Biru tidak berubah pikiran. Susah payah perempuan itu membujuk, entah siapa perempuan yang telah menggantikan posisinya hingga Biru pun merasa risih bila Hilda sentuh. Hilda benar-benar penasaran, laki-laki itu berubah seratus delapan puluh derajat.


"Al, apa lo tengah dekat dengan seseorang?" tanya Hilda hati-hati. Mereka sudah sampai di mall. Entah mengapa Biru ingin cepat berakhir dan terbebas dari perempuan sahabat istrinya ini.


"Bukan urusan lo," jawab Biru ketus. "Cepat selesaikan kegiatan lo, apa yang ingin lo beli, gue harus cepat pulang!" sergahnya terdengar menjengkelkan.


"Ikh ... baru datang juga," rengek Hilda manja, bergelayut di lengan Biru.


"Jalan sendiri Da, kita sudah bukan pasangan kekasih," tepis Biru ketus.


"Iya, iya, gue jalan sendiri," jawab Hilda mengalah. Setelah puas berbelanja, Biru ingin segera pulang tetapi perempuan itu merengek lapar. Biru mendes*h dalam, ada rasa dongkol tetapi kembali mengingatkan ini yang terakhir. Akhirnya pria itu mengiyakan, anggap saja hari ini sedekah untuk mantan kekasihnya.


Mereka mengunjungi food court terdekat di mall, Hilda sengaja berlama-lama, untuk membunuh rasa curiga Hilda berdalih belajar bersama dengan gadis itu yang pura-pura ingin meminjam laptop karena harus deadline tugas.


"Al, gue boleh pinjem laptop lo, nggak? Ada deadline tugas gue hampir lupa, nanggung nih, kalau harus pulang," kilahnya mencari alasan.


Biru yang tengah asyik menyelingi aktifitasnya dengan bermain game, mengiyakan, iya Biru sengaja mensiasati kebersamaan mereka dengan bermain game di ponselnya, berharap Hilda jenuh tapi ternyata perempuan itu tak protes malah nugas, enggan bertanya Biru mengiyakan saja dan menyodorkan laptop kesayangannya itu yang baru ia ambil dari tas punggungnya.


Biru asyik dengan ponselnya, sementara Hilda asyik dengan kegiatan di laptop Biru. Hilda yang memang tahu paswordnya lancar jaya mengakses isi berkas pria itu. Ia cukup sibuk tanpa mempedulikan Biru.


"Udah belum, Da, gue harus pulang sekarang, hari sudah lumayan sore, gue harap setelah ini lo bersikap biasa saja," pamit Biru mantap. Hilda mengangguk dengan seringai tipis di wajahnya.


"Sorry, nggak bisa nganter, lo bisa pulang dengan taksi," ujarnya sekali lagi. Merasa lega sore ini menyudahi pertemuan mereka yang menurut Biru sangat membosankan.


Sementara Inggit sendiri, bentuk kesal dan protes terhadap Biru, gadis itu sengaja mengabaikan pesan dan panggilan dari Biru. Ia membiarkan saja saat handphone di tas punggungnya memekik, ia tetap tenang dan lebih memilih tenggelam dalam permainan bersama Ares.


Mereka mencoba permainan di sana, menjajal keseruan apa saja yang membuat dua remaja tanggung itu tergelak bersama. Rasa kesal yang sempat bersarang di hati Inggit karena ulah Biru melebur sudah. Ares memang selalu bisa menghangatkan suasana. Pria itu pribadi yang cukup menyenangkan.


"Nggit, sini!" serunya mendekat ke mesin capit boneka.


"Boleh, aku pasti dapat," jawab Inggit percaya diri.


Inggit mulai memainkan kendali capit pengait dan mengarahkan pada boneka yang ingin diambil, tapi lagi-lagi gagal.


"Ternyata susah juga ya?" keluh perempuan berparas ayu itu.


"Lumayan, akan aku coba untuk memenangkan. Kalau juga tak dapat, aku belikan saja," ujar Ares gampang.


"Ish ... beli mah nggak seru, nggak ada perjuangannya," jawab Inggit gemas sendiri, menatap boneka yang berkali-kali jatuh dari cepitan.


"Hampir Res, ayo hampir, hampir ... yah ... gagal lagi," seru Inggit heboh sendiri.


"Capek, makan dulu yuk," keluh pria itu. Inggit yang juga lapar langsung mengiyakan. Mereka memilih makan di food court terdekat.


"Pesen apa Nggit?" tawarnya sambil menilik buku menu.


"Nasi putih sama ayam gepuk aja, enak tuh kayaknya lalapannya, minumnya jus sirsak. Kamu mau apa?"


"Oke deh, samain aja." Mereka menunggu menu di siapkan sambil ngobrol asyik bersama. Ares dan Inggit terlihat dekat satu sama lain, tapi terlihat jelas Inggit membatasi, mungkin karena statusnya istri orang membuat gadis itu bersikap demikian. Namun, Ares tak ambil pusing bisa dekat dengannya saja cukup membuat Ares merasa senang.


"Makasih buat hari ini, aku berharap ada hari-hari banyak seperti ini," ucap Ares tersenyum. Inggit menimpali dengan senyuman hangat. Jeda sesaat, setelah akhirnya pesanan mereka datang, mereka makan dalam diam.


"Bentar ya." Tiba-tiba Ares pamit ke belakang.


"Mau ke mana?" Inggit berseru penasaran.


"Bentar doang, tunggu sepuluh menit," ujar Ares bergegas. Tak berselang lama pria itu kembali dengan menenteng boneka teddy bear berukuran sedang.


"Buat kamu." Pria itu menyodorkan boneka berukuran sedang itu dengan semringah.


"Gemes banget sih, makasih," jawab Inggit menerima benda lucu berbulu hangat warna pink itu.


"Kamu bisa peluk dia saat tidur, anggap saja itu aku, hehehe." Ares tertawa gaje, geli sendiri. Inggit menimpali dengan anggukan kecil.


Usai mengisi perut dengan alhamdulillah, Inggit dan Ares masih duduk bersahaja ngobrol sebentar, rasanya Inggit malas pulang, tapi mau tidak mau gadis itu harus pulang. Waktu sudah hampir petang, senja terlihat menyapa di ujung remang angkasa.


"Makasih udah nganter, sampai sini aja," pamit Inggit meminta turun di pinggir jalan raya, masih ada sepuluh meter lagi sampai di halaman rumahnya. Namun, Inggit memilih turun di jalan untuk menghindari Biru kalau-kalau pria itu sudah di rumah lebih dulu. Inggit malas menanggapi pria berstatus suaminya itu jika banyak tanya.


Benar saja, saat Inggit tiba di halaman rumah, hunian sederhana mereka nampak rame, dua mobil terparkir di sana. Yang Inggit yakini itu mobil orang tua Biru dan orang tuanya. Ia melangkah dengan heran. Hatinya mendadak gusar seiring kaki menapaki teras.


"Assalamu'alaikum ... " salam menggema Inggit haturkan. Nampak wajah-wajah serius langsung mengalihkan tatapannya ke arah gadis itu, dengan menggumamkan sambutan salam.


Inggit sedikit kaget saat juga melihat Romo yang tumben-tumbenan berkunjung ke rumahnya. Ibu memberi tahu Romo baru saja pulang kemarin dan Inggit belum sempat menjenguknya. Laki-laki setengah abad itu duduk di kursi roda, menyorot putrinya dengan iris coklat yang tajam.