Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 44


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Inggit berlalu, ia menaruh tasnya ke atas lantai dan duduk sebentar melepas sepatunya. Membawa kebelakang.


"Belum ngantuk," jawabnya berbohong. Biru sengaja menunggu gadis itu, dirinya bahkan baru sampai rumah sejam yang lalu. Langsung membereskan semuanya agar Inggit tidak menaruh curiga.


Inggit masuk kamar, melewati Biru yang tengah duduk di ruang tengah, dan menuju kamar mandi. Sudah larut malam untuk mandi, gadis itu hanya bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Saat keluar dari kamar mendapati suaminya sudah duduk di atas ranjang, Inggit mendesah pelan menatap Biru. Suara bariton pria itu menghentikan langkah Inggit yang hendak beranjak.


"Mau ke mana, Nggit, istirahatlah di kamar," serunya, terdengar cukup jelas. Inggit kembali memutar badan, menatap ragu, terakhir satu ranjang Inggit dikerjain pria itu berakhir dengan mencuri gambar dirinya. Melihat tatapan itu, Biru paham kekhawatiran perempuan berstatus istrinya itu.


"Jangan khawatir, aku masih tetap menjaga perjanjian kita, istirahatlah di ranjang bagian kamu, kamu pasti lelah butuh tempat yang sedikit longgar." Biru meyakinkan gadis itu. Dalam hati ia bersorak senang saat Inggit mengangguk pelan. Biru benar, Inggit memang sangat lelah, setelah perjalanan berjam-jam, rasanya ia langsung ingin rebahan di tempat peraduannya.


Inggit mendekati ranjang, sialnya tak ada guling di sana. Ia membelakangi Biru saat membaringkan tubuhnya, rasa lelah cepat membawa Inggit terlelap, tapi tidak untuk pria itu. Biru bahkan mulai gelisah dan tidak bisa tidur, padahal ia juga cukup lelah. Menatap punggung Inggit yang terlihat tenang dengan dengkuran halus.


"Nggit, kamu udah tidur?" lirih Biru memanggil, rasa penasaran membuat laki-laki itu mendekat tanpa sadar meneliti raut wajah istrinya dengan seksama. Inggit yang sudah mampir ke alam mimpi refleks saja membalikkan tubuhnya, Biru terkesiap kaget, jantungnya mendadak deg degan dengan jarak mereka yang nyaris tak ada. Mata pria itu melotot sempurna saat Inggit tanpa sadar memeluknya. Anehnya, Biru menyukai posisi itu.


"Kamu cantik," gumamnya pelan, terus menatapnya lekat. Ada rasa yang berbeda saat didekatnya, tubuhnya bahkan menginginkan hal lain. Otak nakalnya mulai berfantasi lain.


Bisikan hati dan sanubarinya mulai bercabang.


'Ia halal bagimu Biru, ayo lakukanlah!'


'Sungguh kamu pria yang tidak penyabar, setelah ini Inggit akan murka.'


Seperti dua sisi yang saling berbisik, sedetik kemudian pria itu menggeleng pelan. Ia bahkan sudah berjanji pada Inggit sebelum gadis itu beranjak ke ranjangnya. Biru lebih takut Inggit benar-benar merasa kecewa, seperti waktu itu. Sumpah demi apapun, ia hanya membenci tidak berniat mencelakai, mungkin rasa kesal lantaran penolakan gadis itu membuat Biru gelap mata. Tanpa sadar, ia telah berlaku buruk untuk istrinya sendiri.


Hari semakin larut, bahkan mungkin hampir pagi. Biru melirik jam yang menempel pada dinding, hampir pukul 3 dini hari. Mata pria itu tidak bisa terpejam barang sejenak pun. Tubuhnya malah terasa panas, sungguh ia gelisah.


Sial! Kenapa kamu begitu memesona, owh ... ayolah Biru jangan membuat mu dalam masalah.


Biru terbuai dengan wajah ayu yang tengah berada di depannya. Tanpa bisa di cegah, Biru mempertemukan bibir mereka, dengan sekali kecupan namun terasa kurang. Alam bawah sadarnya seakan menghipnotis pria itu. Ia pun kembali mendaratkan ciuman yang kedua, Inggit sedikit terusik, gadis itu bergerak lirih, takut Inggit tahu, Biru segera melepas lum*tan yang sempat ia layangkan. Karena ia benar-benar takut tidak bisa menahan diri, akhirnya pria itu menyerah, bangkit dan turun dari ranjang.


Oh Bondan bersabarlah, karena sesuatu yang halal pun kalau belum rezekinya, Allah akan menundanya.


Biru ikut bangkit dari ranjang, sambil menunggu istrinya dari kamar mandi, ia membuka korden dan jendela kamar. Hawa sejuk langsung menyapa tubuhnya, angin yang bergerak lembut seakan menampar-nampar wajah pria itu. Ia memperhatikan Inggit yang baru saja keluar dari kamar mandi, gadis itu menggelung rambutnya asal membuat pria dua puluh satu tahun itu menatap tanpa berkedip.


Inggit yang merasa diperhatikan begitu intens, merasa aneh. Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan kamar. Sepeninggalan Inggit, Biru langsung menuju kamar mandi.


Dasar pria aneh!


Inggit membongkar tas yang semalam ia bawa. Mengeluarkan pakaian kotor dari sana dan akan segera mencucinya. Ia kebelakang menuju tempat laundry, begitu membuka mesin cuci menemukan banyaknya baju kotor Biru yang sedang proses perendaman. Ia mendesah pelan, mau tidak mau akhirnya menyelesaikan punya Biru terlebih dahulu.


"Tuh anak ngapain aja sih selama tiga hari, cucian banyak banget," gerutu Inggit seraya membenahi area sekitar.


Sebenarnya ia enggan mengurusi pakaian Biru, mereka selalu mencuci pakaiannya sendiri-sendiri. Bahkan Biru jarang sekali mencuci baju, yang Inggit lihat pria itu selalu membawanya ke tempat laundry terbaik, ia merasa bingung ketika mendapati pakaian kotor Biru yang hampir memenuhi satu tabung mesin cuci.


Karena pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar, gadis itu mulai membagi waktu dengan dapur. Ia membuka kulkas, tidak ada stok bahan makanan di sana, itu artinya Inggit harus belanja. Hanya ada beberapa butir telur yang terdampar di sana. Karena merasa lapar, Inggit langsung mengeksekusi dengan ide membuat sarapan nasi goreng. Perempuan itu menuju magicom, ia baru sadar tidak menemukan nasi di sana, ia baru saja pulang semalam dari Jogja.


"Masak apa, Nggit?" tanya Biru mendekat, pria itu baru saja keluar dari kamar dengan wajah segar, sepertinya baru saja mandi.


"Masak angin!" jawab Inggit ketus. "Kamu tiga hari ngapain aja sih, cucian numpuk, rumah kotor, kulkas kosong. Huhf ... sumpek!" protes Inggit cemberut, mendadak ia cerewet sekali.


"Ya ... melakukan hal menyenangkan seperti biasanya, aku belum sempat membawa ke laundry, jadi aku rendam saja untuk menyelamatkan pakaian kotorku," jawab Biru datar.


Inggit tidak lagi menanggapi, gadis itu menuju belakang untuk melihat cucian yang mungkin sudah di selesaikan dengan baik oleh mesin penggilingan. Biru mengekor, memastikan pakaiannya aman terkendali.


"Udah sekalian dicuci?" tanyanya ragu, mereka selalu mengurusi hal-hal pribadinya sendiri.


"Hmmm," jawab Inggit dengan gumaman, tangan kanannya cekatan mengeluarkan pakaian yang baru saja digiling dari tempatnya.


"Punya lo jemur sendiri." Biru mengangguk, Inggit sengaja mengambil yang punya sendiri. Mereka berdua kompak menenteng ember masing-masing. Saling melirik sengit memindai tatapan dari ember ke tempat penjemuran. Insting keduanya mengatakan, jemuran mereka tidak akan muat. Dengan gerakan cepat keduanya berlomba berebut tempat.


"Ini apa?? Bukan punya gue!!" pekik Inggit reflkes melempar benda keramat ke muka Biru, perempuan itu ngacir dengan wajah yang tiba-tiba memanas.