Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 65


"Udah selarut ini masih juga gangguin istri orang, dasar pria kurang kerjaan," dumel Biru menggerutu. Inggit diam-diam tersenyum simpul dalam hatinya.


Inggit melirik sekilas, merutuki ibu jarinya yang hampir mengetik balasan, karena merasa tak enak, gadis itu pun membiarkan saja pesan tersebut tanpa balasan. Membiarkan ponsel tersebut begitu saja di atas meja.


"Kenapa nggak dibalas, nggak enak sama aku?" tanya Biru masam. 


"Ya udah sini aku balas." Inggit menyambar ponselnya yang baru beberapa detik ia taruh di atas meja. 


"Jangan, nggak boleh dibalas!" cegah Biru berseru. Inggit tersenyum tipis mendengar larangan pria itu. 


"Kenapa senyum-senyum, seneng banget ya kalau aku sengsara?" 


"Banget," jawab Inggit terkekeh. 


"Jahat sih emang, sampai kapan kamu mau menutup hatimu untukku?"


"Sampai kamu bisa membuka gembok hatiku."


"Ya, aku pasti berusaha membuka dengan kunci keberuntunganku, tunggu saja, aku akan membuktikan kalau aku layak untuk kamu pertahankan. Pede banget aku tuh emang." Biru terkekeh pelan.


Cinta tak mengenal ruang dan waktu, semua akan bertemu pada satu titik kesepakatan yang membuat hati begitu yakin dan siap menerima dengan sepakat kata dan harapan. Walaupun pria itu tidak bisa menjamin kapan itu terjadi, tapi setidaknya ia berusaha untuk memperbaiki. Selebihnya biarlah takdir yang menentukan mereka. 


"Pulang!" 


"Ya, aku ngantuk, capek, dan lelah."


"Ayo!" Keduanya sudah siap di atas motor, Biru menarik tangan Inggit agar memeluknya.


"Pegangan yang kuat, kita akan segera sampai," ucap Biru seraya mempertemukan jari jemari Inggit agar saling bertautan mengunci tubuhnya. Sesekali tangan kiri pria itu ikut bergabung di sana, menggenggam lembut tangan istrinya, sementara tangan yang lainya fokus mengemudi.


Udara malam lumayan dingin, Biru melajukan motornya pelan-pelan. Walaupun suasana dingin karena angin malam yang menerpa tubuhnya, tapi suasana hangat yang melekat pada punggungnya memberikan rasa nyaman yang merasa enggan untuk berakhir.


"Sepertinya perjalanan kita kurang jauh," celetuk pria itu setelah berhasil memarkirkan motornya di halaman rumahnya.


"Kenapa, bukankah kita harus segera sampai, kamu nggak capek?"


"Momen ini sangat disayangkan, saat kamu memelukku dari belakang, jujur aku enggan singgah, aku takut besok tak ada kesempatan lagi menghabiskan banyak kesempatan begini."


"Owh ... " Tiba-tiba wajah Inggit menjadi panas, ia berlalu meninggalkan Biru, lebih dulu masuk dan langsung ke kamar. Biru mengekor tanpa kata. Keduanya sibuk sendiri bersiap untuk ke tempat peraduan.


Inggit mendadak canggung, biasanya mereka akan menuju ranjang secara terpisah. Seringnya Inggit sudah berbaring, dengan Biru menyusul dan beristirahat begitu saja. Malam ini keduanya bahkan masih sama terjaga, dan Inggit mendadak salah tingkah saat pria itu terdiam menyorotnya lembut tanpa jeda.


Inggit langsung menuju sofa dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sana. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan berharap segera terlelap.


Belum genap satu menit gadis itu berbaring, seseorang masuk dan langsung bergabung berbaring menghimpit di sebelahnya.


"Sepertinya kamu menginginkan pelukan hangat dariku sepanjang malam, sudah jelas aku melarangmu tidur di sofa, masih saja tidur di luar, itu berarti menginginkan aku menghampirinya," jelas Biru dengan percaya diri sekali.


"Ngapain sih ngikutin, aku tidak bisa tidur, ini terlalu sempit, tubuhmu menghimpitku," keluh Inggit gemas.


"Mau pindah sendiri, atau mau aku gendong, atau mau tidur di sofa seperti ini semalaman," tawar pria itu berbisik, sapuan napasnya menerjang pipi, membuat Inggit menahan napas untuk menghindari desiran aneh yang mulai nglunjak.


"Pindah sendiri," jawab Inggit cepat, dengan mata menyipit takut, nyaris tak ada jarak, muka mereka hanya berjarak beberapa centi.


"Tapi sepertinya aku sudah nyaman begini." Bukan Biru kalau nggak usil, ia gemas sendiri melihat istrinya yang mulai kebingungan.


"Kamu mau didorong untuk yang kedua kalinya, sepertinya kemarin belum kapok," ucap Inggit memutar kepalanya, mengalihkan wajah pria itu agar tidak tepat lurus padanya.


"Coba saja, kita akan jatuh ke dasar lantai bersama, aku akan menarikmu," tukas Biru enteng.


"Please ... aku nggak nyaman, kapan kita istirahatnya, ayo pindah ke kamar."


"Wah ... sepertinya kamu sudah tidak sabar sayang, kamar ya?" Biru jelas menggoda. Inggit memilih diam, menimpali takut salah ngomong lagi. Pria itu mengulum senyum dan bangkit begitu saja. Saat Inggit ikut bangkit, Biru langsung membungkuk dan mengangkat tubuh gadis itu begitu saja.


"Aku mau pindah sendiri, Al, bisa turunkan aku." Biru bergeming, tetap menggendong istrinya, dengan lembut membimbing ke kamar, pelan ia membaringkan di ranjang.


"Selamat beristirahat, jangan khawatir, aku nggak akan pergi, takut banget ya aku keluar kamar, sampai-sampai cengkraman ujung kausku tak mau kamu lepas," selorohnya tersenyum.


"Eh, enggak ya ... apaan." Inggit langsung melepas tangannya. Menarik selimut dan memunggunginya. Biru mengikuti gadis itu, memutari ranjang dan merangkak ke atas kasur. Inggit spontan langsung membalik badan, agar pria itu tak bisa melihat wajahnya yang mungkin saat ini tengah memerah.


"Inggit," panggil Biru lirih, setia menatap lekat punggung istrinya. Perlahan menyingkirkan guling yang selalu menjadi benteng pembatas di antara mereka.


"Udah bobok ya, padahal aku nggak bisa merem, izin memeluk ya, jangan kaget kalau bangun, kamu harus membiasakan dirimu dengan kehadiran tubuhku di sampingmu." Inggit jelas belum tidur, mendengar perkataan Biru, membuat jantung gadis itu memompa dengan cepat. Apalagi saat tangan besar suaminya mulai hinggap di atas pinggang, senada dengan punggung yang terasa menempel erat, sangat terasa perutnya yang keras menghimpit tubuhnya.


Biru langsung terlelap damai, wangi tubuh gadis itu menenangkan jiwa dan raganya, mengantarkan kenyamanan yang membuat pria itu cepat menyambangi mimpi. Berbeda dengan Inggit yang bahkan tidak bisa merem sejenak pun. Mendadak ia insomnia.


Cukup lama mata lentik itu terpejam, ia baru bisa merem setelah merasakan dengkuran halus suaminya, itu tandanya Biru benar-benar sudah pindah ke dimensi lain. Keesokan paginya, Inggit terjaga lebih dulu. Ia masih mengantuk, namun ada kuliah pagi hari ini. Perlahan gadis itu menyingkirkan tangan Biru yang masih setia memeluknya dari semalam. Lantas mengganti dengan guling untuk dijadikan ganti pelukan.


Inggit melakukan aktivitas pagi seperti biasa, terakhir ia menyiapkan keperluan Biru. Termasuk sarapan bubur ayam dalam kemasan yang sengaja ia beli dari sebrang jalan. Inggit selalu meninggalkan catatan kecil, sebagai tanda pamit dan pesan singkat yang tak mampu terucap langsung oleh bibirnya.


Lima belas menit perjalanan, meluncur bebas dengan kecepatan sedang tanpa kemacetan. Inggit berjalan gontai menuju kelas, setelah memarkirkan motornya di tempat biasa. Gadis itu sedikit bingung ketika semua orang yang tak sengaja berpapasan menatap aneh ke arahnya. Bisik-bisik mulai berdengung menghampiri telinganya.