
"Kok kalian bisa barengan?" tanya Hilda penuh selidik, menyorot keduanya tak suka.
"Bisa lah, kan kita bar---" Omongan Biru menguap tanpa tuntas, sebab Inggit langsung menyela.
"Baru ketemu di jalan," sela Inggit cepat.
"Kebetulan lewat saat gue sedang nunggu angkot, ayo Da, masuk kelas, dosen sebentar lagi pasti datang," sambung Inggit mengalihkan topik. Biru ingin protes tapi melihat Inggit yang menatap garang, ia mengurungkan niatnya.
"Lo duluan Nggit, gue ada ngomong penting sama Biru," ucap Hilda yang diangguki Inggit. Gadis itu meninggalkan suaminya dalam diam, entah apa yang ingin mereka bicarakan, Inggit tidak berminat untuk tahu.
Biru langsung berlalu begitu melihat Inggit melangkah menjauh dari parkiran. Hilda segera menghadang pria itu dengan kesal.
"Lo kenapa menghindar dari gue sih Al, gue mau ngomong," pinta Hilda menahan laju langkah Biru.
"Maaf, Da, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, hubungan kita sudah berakhir. Sorry, gue harus kelas sekarang."
"Biru! Lo nggak bisa buang gue gitu aja dong, setelah semuanya yang terjadi di antara kita, lo mau lepas gitu aja, gue nggak mau!" pekiknya lantang. Biru menghentikan langkahnya yang mulai terayun.
"Kenapa? Bukannya lo udah tahu karakter gue seperti ini, lo paham 'kan, jadi menyingkir dari hadapan gue sekarang!" bentaknya kesal. Soal memutuskan cewek ala Biru memang terkenal tanpa perasaan. Ia memang playboy ulung, yang terdampar di muara setiap penggemarnya. Selain wajah yang rupawan, sudah pasti alasannya karena kaya.
Biru sudah menggunakan alternatif pertama dengan cara halus, tapi respon cewek selalu sama, tidak terima dan tidak mau berakhir, jadi ... ia terpaksa mengakhiri sendiri saja dengan atau tanpa persetujuan dari lawan bicaranya.
Hilda menghela napas dalam, ia kembali mengejar Biru sampai ujung parkiran.
"Al, oke kalau kita putus, tapi gue pingin tetep kita berteman, lo nggak harus ngejauh dari gue, 'kan? Sebagai permintaan terakhir gue, gue minta nanti kita ketemuan usai kelas," ucap Hilda di tengah nada kecewa. Ia menatap punggung Biru yang mulai menjauh. Tersenyum miring, dengan rasa muak.
Hingga jam pertama berakhir, Hilda tidak mengikuti makul pertama, perempuan itu entah ke mana, ia hanya mengirim pesan menitip absen. Inggit menjadi curiga dan sedikit kepikiran, mungkinkah mereka jalan berdua? Baru saja gadis itu mengemas buku di meja, Hilda menghubungi dan meminta Inggit menemuinya di longue student.
"Lo ke mana, Da? Kenapa bolos?" tanya Inggit begitu sampai. "Gue beli cemilan di kantin sebelah, gue haus, lo mau pesen apa? Sekalian gue beliin," ujar Inggit lalu. Hilda menggeleng pelan.
Inggit menuju kantin yang tak jauh dari longue student, ia sengaja membeli beberapa cemilan untuk teman ngobrol sembari menunggu jam kedua yang masih lumayan panjang. Tak sengaja netranya bertemu dengan Biru yang tengah asyik jajan di kantin dengan dua sahabatnya. Pria itu tersenyum, memperhatikan Inggit dari kejauhan. Inggit hanya menyorot malas tanpa membalas, meninggalkan kantin setelah melakukan pembayaran.
"Ini minum dulu, kayaknya lo butuh aqua deh," selorohnya demi melihat Hilda bermuka masam.
"Jadi lo pagi-pagi datang ke kampus cuma duduk diem di longue seperti ini, sungguh membanggongkan," omel Inggit seraya membuka bungkusan jajan yang baru dibeli.
"Percuma masuk, hati dan pikiran gue sedang nggak konsen," jawabnya tak bersemangat.
"Mau ngomong apa, Da? Lo ada masalah?"
"Lo kenapa tadi bisa bareng doi, bukannya lo paling anti sama tuh orang," tanya Hilda penasaran. Ia jelas menaruh curiga dengan gelagat sahabatnya yang tak biasa itu.
"Emm ... itu ... kebetulan aja lewat, gue pikir nggak ada salahnya, gue juga lagi buru-buru," kilahnya memberi alasan, Inggit terpaksa menyembunyikan kebenaran demi menjaga persahabatan mereka.
"Gue diputusin Biru," ucapnya lesu.
"Bukannya lo udah tahu karakter tuh orang, sering gonta ganti cewek? Lo kenapa sedih, lo juga sama 'kan nggak setia," sela Inggit datar.
"Gue sama yang lain cuma selingan doang lah, gue nggak terima main putusin gitu aja."
"Apa lo mencintainya?" tanya Inggit, Hilda mengangguk yakin. "Atau lo hanya takut tidak mendapat transferan dari pria itu," jelas Inggit blak-blakan.
"Cinta, kalau uang memang penting, tapi gue bisa dapat dari yang lain. Gue pingin balik lagi, lo bisa bantu gue nggak, lo 'kan dekat sama Nathan, jadi bisa dong kita atur pertemuan bersama, gue butuh ngobrol banyak dengan Biru, gue yakin pria itu hanya sedang tersesat."
"Bantu apa, gue nggak begitu dekat dengan Nathan, tapi gue akui, dia care banget sama gue."
"Nah iya, bisa nggak kalau kita ngadain liburan bareng di akhir pekan, mungkin dengan begitu gue bisa kembali lagi lebih dekat."
Sementara trio bussy masih asyik di meja kantin, setelah mengisi perut dengan semangkuk mie ayam, mereka masih belum beranjak.
"Gue udah putus sama Hilda," celetuk Biru tiba-tiba. Nathan dan Devan menyorot datar. Mereka sudah terlalu sering mendengar kabar yang sama, 'putus cinta.'
"Jadi, cewek mana yang lo kencani setelah lo buang dia," kepo Nathan sarkas.
"Gue pingin serius dengan hubungan gue sekarang, tapi sayangnya belum ada respon dari makhluk unik itu."
"Lo ditolak?" Seakan hal yang begitu tabu mendengar kalimat itu, Devan dan Nathan terkekeh mengeledek.
"Berarti jomblo dong, mblo ... mengsedih!" cibirnya mendrama.
"Mana ada gue jomblo, tidak ada sejarahnya Albiru Rasdan jomblo, emang elo tidak laku," tukasnya sinis.
"Jomblo teriak jomblo!"
"Gue sedang mencari yang terbaik, sebrengsek-brengseknya gue, gue tetep milih yang terbaik buat calon mantu mami, so gue nggak doyan cewek rongsokan," jawabnya berapi-api.
"Dasar Suloyo, lagu lo kaya orang bener aja," cibir Devan.
"Heh, Waluyo, ini masalah masa depan, jadi jangan asal-asalan, apalagi memilih calon ibu dari anak-anak kita, mesti yang berkelas dong." Nathan menerawang.
"Sepertinya gue musti gercep deh, gue dekati ortunya dulu kali ya, gue ambil tuh hati nyokap bokapnya, terus gue pinang langsung, keren gue ceritanya." Nathan berandai-andai.
"Nathan!" panggil Inggit melambaikan tangannya, gadis yang tengah dimaksud tiba-tiba datang menghampiri.
"Ya ampun ... calon istri gue lewat," celetuk Nathan berbinar mendapati Inggit yang tiba-tiba berjalan mendekat.
"Sumpah demi apa, Inggit manggil gue," jawab Nathan girang. "Sepertinya habis ini, gue perlu syukuran," imbuhnya sebelum pria itu mendekat ke arah gadis yang menyerukan namanya.
Biru dan Devan ikut berdiri mengikuti arah suara yang menyerukan sahabatnya. Biru menyorot tajam, memperhatikan istrinya yang tengah tersenyum pada Nathan. Hatinya mendadak kesal dengan tingkat rasa ingin tahu yang dalam.
Inggit ngapain nyamperin Nathan sih!
"Heh, Kartoyo, ngapain lo ngikutin gue!" bentak Nathan kesal.
"Tidak boleh berbicara berdua saja, karena bisa jadi dosa," jawab Biru seadanya.
"Udah sana-sana, perdana nih, calon bini manggil duluan," usir Nathan ketus. Biru tidak menggubris, ia malah menarik tangan Nathan dan menyerobot posisinya yang sedikit lebih dekat.
"Lo mau ngomong apa, Nggit?" tanya Biru tanpa dosa.
"Karto----" Biru membungkam mulut Nathan yang hendak melayangkan protes dengan jari telunjuknya menempel di bibir Nathan.
"Apaan sih, minggir sana, gue yang dipanggil kenapa lo yang hebring." Nathan menepis tangan Biru dan sedikit mendorong tubuh tegapnya yang menghalang di depan.
"Apa sih, gue mau denger," jawabnya tak mau kalah.
"Bener-bener lu ya, minta di sleding, kepo bener jadi orang."
"Bodo amat, ngomong Nggit, ngapain panggil Nathan?" tanyanya mulai tak ramah.
"Kok jadi elo yang nggak sabaran, seharusnya gue yang tanya dong, kenapa Inggit?" ujarnya lembut.
Inggit menatapnya jengah, "Kalau kalian masih mau berantem, gue nggak jadi aja deh, Nathan, nanti gue telfon aja ya?" ujar Inggit lalu, Biru mendelik kesal.