
"Astaga ... ini scene yang paling menjijikkan!" Ares membuang muka.
"Omo omo omo mata indah gue ternoda." Nathan ikut menimpali
"Anjir ... ini lebih dari ekspektasi yang ada." Devan cukup antusias, dengan sengaja merekam aktivitas mereka dengan kamera tersembunyi yang telah dipersiapkan.
"Dasar, wanita samp*h!" tukas Biru memcemooh.
"Kalian siapa? Kenapa kalian di sini mengganggu kenyamanan hidup saya!" seru pria berkisar umur setengah abad itu.
"Om keluar om, kita masih berbaik hati, sebelum istri om kita panggil ke sini!" ancam Biru mulai tak ramah. Pria bernama Gala itu menunjuk-nunjuk penuh amarah seraya berjalan keluar. Sedikit sempoyongan, dengan bau khas alkohol sangat menyengat dari mulutnya.
"Kalian! Awas saja kalau sampai berani melapor, ikut campur urusan saya!" ancamnya di sela rasa tak nyaman.
Sementara perempuan binal itu sendiri, langsung menutup wajahnya. Bersembunyi dibalik selimut.
"Lo keluar! Gue tunggu di ruang depan!" Biru berseru lantang, tentu saja untuk membuat wanita itu membuat pengakuan.
Hilda mengumpat kesal, jangankan mendapat fantasi melayang, ia bagai tertimpuk kotoran lawan. Rupanya sang mantan berulah demi perempuan yang katanya dulu sama sekali bukan tipenya. Begitu keempat cowok itu keluar, Hilda langsung berkemas, merapikan pakaiannya yang sudah setengah polos. Hatinya mengumpat kesal seraya mencari alasan untuk mangkir dari segala tuntutan di depan mata.
"Apa yang ingin lo katakan, Al?" seru Hilda gusar.
"Dasar, banci semua bisanya keroyokan," lontarnya mulai menyusun pembelaan.
"Nggak usah basa-basi, Da. Lo mau ngaku sendiri atau kita paksa." Tak ingin menunda terlalu lama, Biru langsung pada intinya.
"Ngaku apa, lo kenapa sih, Al. Lo keberatan lihat gue deket sama orang lain. Ayolah Al, kita mulai dari awal lagi." Hilda mencoba menggoda. Jangankan tergoda, Biru malah jijik dibuatnya.
"Lo, berani sentuh gue, gue nggak segan buat dorong lo." Hilda bukanya marah malah tertawa sumbang.
"Lo jangan terlalu kasar, bahkan di perut sini, ada anak lo yang sedang tumbuh. Lo akui atau tidak, lo adalah bapaknya."
Gila
"Lo 'kan yang nyolong foto dokumentasi gue, lo juga 'kan yang nyebarin ke internet dan dinding kampus! Setahu gue kalian itu berteman baik, bahkan yang gue tahu, Inggit selalu bela lo dan juga ngejaga perasaannya buat lo, tapi apa ini balasanya yang katanya seorang sahabat, lo kejam, Da!"
"Iya, kenapa?! Ini impas untuk penghianat seperti dia, dia ngrebut lo dari gue, dia membuat lo berpaling dari gue, dan lo ngebuang gue gitu aja. Sakit, Al."
"Asal lo tahu ya, Da. Gue dan Inggit sudah menikah jauh-jauh hari, dan lo tahu? Dia selalu membentengi diri untuk tidak terlalu dekat dengan gue karena dia menjaga persahabatan kalian, bahkan Inggit kekeh berpisah karena tidak mau nyakitin elo. Tapi, tentu saja gue tidak mau, karena gue tahu, wanita mana yang pantas untuk dicintai dan layak untuk dipertahankan. Bukan seperti diri lo, yang mengobral tubuh lo untuk orang lain, padahal status lo waktu itu menjalin hubungan dengan gue."
"Kenapa? Lo keberatan, iya, gue bukan wanita bodoh yang bakalan diem nerima cinta dari lo yang nggak jelas, lo pikir cuma lo yang bisa mainin perasaan cewek, seharusnya lo nggak usah terlalu berkoar-koar, karena kita impas, sama-sama main dengan orang lain."
"Lo benar-benar wanita samp*h! Penyesalan terbesar dalam hidup gue adalah, gue pernah mengenal lo."
"Terserah lo mau ngatain gue apa? Tapi yang jelas, gue nggak akan ngebiarin kalian hidup bahagia di atas derita gue, gue bakalan bales rasa sakit hati gue!"
Biru sebenarnya hanya butuh pengakuan Hilda, dan ia sengaja memancingnya dengan kata-kata. Walaupun Biru akui, dirinya juga sedikit terpancing emosi. Biru benar-benar tidak habis pikir, wanita yang dulu pernah menjadi teman kencannya bisa seliar ini.
"Cabut guys!" seru Biru mengkode sahabat-sahabatnya untuk meninggalkan lokasi.
Sementara Hilda sendiri, walaupun berhasil meluapkan seluruh emosi dan isi kepalanya. Ia tetap sisi wanita yang rapuh, dan mengharap dicintai. Bahkan, Laki-laki penghangat ranjang itu cuma pelarian semata untuk hidupnya. Rasa sakit itu semakin bertambah nyata, setelah mengetahui fakta bahwa mereka, Inggit dan Biru sudah menikah.
Kalian benar-benar pasangan brengs*k!
Geram Hilda penuh dendam, seakan tidak akan membiarkan orang lain bahagia diatas rasa sakit dan kehancurannya.
"Serem juga ya mempunyai mantan saiko kaya Hilda?" itu suara Nathan. Mereka sudah keluar dari lokasi kejadian dan terlibat obrolan di rumah sederhana Biru. Mereka berkumpul untuk berdiskusi dan merekap tayangan yang baru saja mereka ambil dari kamera tersembunyi. Foto-foto dan vidio Hilda bersama pria itu iya dapatkan, itu hanya untuk membuktikan jika wanita itu berulah, Biru bisa mangkir dan segera menunjuk bukti, bahwa hubungan dengannya sudah berakhir.
Tentu saja ada yang paling penting, Biru berhasil merekam percakapan mereka tadi, termasuk pengakuan Hilda yang dilontarkan begitu gamblang dan nyata. Biru akan memproses ke jalur hukum bila perlu.
"Yes ...! Kita dapat buktinya." Nathan dan Devan berseru senang selesai mengedit, dan membuang kata-kata yang harus di cut.
"Gimana menurut lo, Al," tanya Ares yang masih mereka-reka adegan.
"Al!" seru ketiga cowok random itu kompak.
"Apa sih! Gue nggak budeg, nggak usah pada teriak."
"Lo kenapa? Kita lagi pada bantuin lo di sini, lo malah sibuk melamun sendiri."
"Iya, sorry, gue nggak kuat kalau di rumah ini, terlalu banyak kenangan manis yang sudah kita lewati, gue benar-benar kangen, ini penyiksaan namanya."
"Samperin gih, lo ajak pulang, bilang ke orang tua Inggit, semua masalah sedang ditangani dan akan segera beres."
"Tidak semudah itu Waluyo! Romo itu tipikal yang begitu alot, gue tidak boleh menemui Inggit sebelum kasus ini ditutup."
"Yang sabar, Al, rindu itu berat, cukup Dilan saja, kenapa lo ngikut?"
"Ah ... ini lebih sakit dan nelangsa, gue harus telphon sekarang." Beberapa kali Biru melakukan panggilan, namun tidak ada sautan.
"Bro, gue harus ke rumahnya sekarang, gue nggak kuat, sumpah ini berat," ujar Biru bergegas meninggalkan teman-temannya.
Sesampainya di halaman rumah Romo, Biru langsung bergegas mendekati pintu yang kebetulan terbuka. Pria itu langsung berhambur mendekat, ia tertegun sesaat melihat istrinya yang tengah menangis di hadapan kedua orang tuanya. Terlihat, Romo begitu marah.
"Assalamu'alaikum ....!" salam Biru mengalihkan semua perhatian orang di sana.
"Ada apa Romo? Kenapa Romo memarahi Inggit?" tanyanya mulai cemas.