
Bus yang membawa rombongan peserta KKN baru saja memasuki halaman kampus. Terlihat jelas, binar bahagia itu tersirat di wajah pria yang baru saja melewati LDR panjang.
"Kita langsung pulang ke rumah Mama sayang, sopir yang jemput," ujar pria itu menginterupsi.
"Terserah kamu, Mas, pulang ke mana aja," ujarnya sibuk merapikan barang bawaan.
Biru menggendong tas besar miliknya, dan membawa punya istrinya. Sementara perempuan itu sendiri menenteng printilannya.
"Sayang, ayo masuk, itu mobil kita sudah datang." Sopir yang di utus mama nampak sudah hadir di sana.
Biru membuka bagasi, memasukkan barang-barangnya ke sana. Sejoli itu memasuki mobil, Inggit telihat tidak bersemangat, mungkin perempuan itu kecapean.
"Kamu kenapa sayang, muka kamu pucet?" tanya Biru meneliti istrinya.
"Sepertinya aku masuk angin, Mas." Biru menarik kepala istrinya agar bersendar di bahunya.
"Nggak boleh sakit, sandaran di sini, sebentar lagi juga sampai."
"Hmm ...." jawabnya mulai menutup matanya.
"Sayang, bangun, sudah sampai."
Keduanya turun dari mobil langsung disambut Bu Diana.
"Assalamu'alaikum ... Ma," sapa Inggit dan Biru berjamaah.
"Waalaikumsalam ... akhirnya yang udah ditungguin sampai juga," jawab perempuan itu sumringah.
Ibu dan anak mantu itu saling memeluk rindu. Biru terharu melihat betapa mamanya begitu menyayangi istrinya.
"Langsung masuk kamar ya Ma, mau mandi dulu," pamit Biru begitu menyambangi rumah orang tuanya.
"Iya, istirahat saja, kalian pasti capek," ujarnya pengertian.
Seharian Inggit dan Biru di kamar, keduanya baru keluar kamar selepas ashar.
"Sayang, aku mau keluar sebentar mau nitip apa?" tanya Biru membelai istrinya yang masih tiduran.
Inggit menoleh dengan penuh tanda tanya. "Mau ke mana?" Matanya memicing penuh selidik.
"Masya Allah, lihatinya jangan gitu Dek, aku cuma mau ketemu sama Nathan Devan sebentar."
"Ngapain? Nggak mau ditinggal, suruh mereka ke sini aja." Inggit memeluk perut suaminya dalam keadaan duduk.
"Iya deh, nggak jadi pergi, nanti aku suruh mereka ke sini. "
Biru mengalah, akhir-akhir ini Inggit terlihat lebih manja tidak seperti biasanya. Ia juga sudah tidak canggung membalas entah itu cium*n atau pelukan. Malah kadang Inggit dulu yang memulai,
Semenjak pulang dari KKN, pasangan muda yang terlihat semakin harmonis itu selalu kompak dan tidak lagi menutupi hubungan mereka. Berangkat ke kampus pun selalu bareng. Jika tidak ada kegiatan yang berarti, Al akan menunggu Inggit kuliah, bahkan sampail selesai.
Memasuki semester tujuh membuat keduanya sibuk. Sibuk mengejar target untuk bisa skripsi dan lulus tahun ini.
"Kamu mau ambil skripsi semester ini?" tanya Biru ikut tertantang. Kalau istrinya lulus dirinya belum jelas nggak mau.
"Iya, Mas, pengen cepet lulus, kamu jangan ngikutin gaya aku dong Mas, sesuai sama kemantapan hati dan kesiapan serta kesanggupan juga. Takutnya nanti keteteran sama pekerjaannya."
"Terima kasih sayang, insya Allah aku bisa, asal selalu ada kamu di sisiku, aku selalu bisa," ujarnya percaya diri.
Mereka bahkan kompak untuk mengikuti kelas skripsi. Menambah kelas tentu membuat keduanya lebih sibuk, tetapi tak mengapa, tak sekalipin mereka berkeluh pada pasangan yang ada semangat membara saling memberi support.
"Sayang, kamu masuk kelas Z, dapat dosbing siapa?"
"Pak Wirawan, kalau kamu siapa?"
"Pak Darren, nggak sama ya, semangat sayang kita pasti lulus tahun ini. Aamiin."
Mereka tengah belajar bersama, usai makan malam bareng keluarga, Inggit dan Biru selalu memperhatikan jadwal makul untuk besok. Kegiatan lainya yang bisa memungkinkan mereka bareng atau malah tidak sama sekali karena jadwalnya yang beda jauh.
"Kamu pulang duluan aja, aku masih ada kelas satu lagi," ujar Inggit mengintrrupsi.
"Aku tungguin nggak pa-pa, sekalian sama ngerjain tugas yang belum selesai," jawabnya santay.
Al lebih senang menunggu istrinya di lab atau perpustakaan. Tidak ada waktu yang ia buang sia-sia, dirinya bahkan sangat bersemangat dan terpacu untuk lebih bisa lagi, istrinya itu tipikal cewek yang cerdas, dan mau belajar, Al sangat beruntung memiliki perempuan itu. Namun, kadang ia juga insecure saat Inggit lebih unggul dalam berbagai hal.
Dampak positifnya, tentu terpacu untuk lebih semangat lagi, mengejar mimpi bersama istri tercinta.
Inggit mendatangi ruang lab yang belakangan menjadi favorit suaminya itu. Suasana santai, Biru masih terlihat sibuk di depan layar laptop.
"Udah selesai?" tanyanya seraya menyodorkan satu cup boba di tangannya.
"Udah, kamu udah kelar kelas, aku mau yang itu saja," tunjuk Biru pada cup yang lainnya." Biru menunjuk cup yang sudah hilang separonya.
"Kamu kebiasaan, dikasih yang masih utuh mintanya yang bekasan aku," gerutunya manyun.
"Habisnya enak, bekas kamu," jawab pria itu enteng.
"Mas, minggu depan aku sidang," ucap perempuan itu cukup membuat Biru membola.
"Beneran? Secepat itu, pinter banget sih kamu." Biru mencubit
pipi istrinya dengan gemas.
"Aduh ... sakit sayang," keluhnya mengaduh dengan pipi cemberut.
"Masya Allah, cantik banget kalau cemberut," pujinya tulus.
"Aku kapan ya?" tanyanya pada diri sendir.
"Semangat sayang, semoga cepet nyusul ya. Aamiin."
"Aamiin ..."
"Sayang, pulangnya mampir ke rumah ibu ya, aku kangen banget, ibu juga undang kita buat makan malam," ujarnya dengan nada sendu.
"Boleh sayang, jangan mellow gitu, malam ini kalau mau nginep di rumah ibu juga boleh, tapi aku minta dobel ya," ujarnya mengerling.
"Ish ... kamu mah suka gitu, nggak ikhlasan." Inggit manyun plus pura-pura merajuk.
"Ya udah minta banyak aja," ujarnya tersenyum nakal.
"Genit banget Mas, mesum terus!" tegurnya gemas.
"Biar Al junior cepet launching, nggak sabar pingin lihat dua garis milikmu," jawabnya tersenyum. Tangannya refleks menyentuh perut istrinya yang rata.
"Aamiin ... semoga Allah cepat mendatangkan kehidupan baru di rahimku," doanya tulus.
"Aamiin ...."