Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Operasi Siti


Indira terperangah mendengar perkataan Aisha.


"Saya yakin jika menjadi seorang dokter sudah cukup membuat anda sibuk. Seharusnya anda sudah tak punya waktu lagi untuk mencampuri urusan orang lain apalagi berprasangka buruk." Aisha beranjak dari duduknya.


Indira ikut berdiri dengan panik.


"Bukan begitu maksudku," ucap Indira dengan mimik wajah malu.


"Tapi saya tahu maksud anda." Aisha tersenyum.


Indira langsung terlihat salah tingkah, hingga tak menghiraukan Aisha yang berpamitan dan kini telah pergi meninggalkannya.


Aisha berjalan gontai sambil sesekali tersenyum mengingat kembali perkataan Indira padanya tadi. Kini dia juga mengerti kenapa suaminya tidak menyukai rekan kerjanya itu.


Sementara itu, Indira menatap kepergian Aisha dengan perasaan kesalnya. Wanita yang dia pikir pasti mempunyai pola pikir yang kolot sesuai dengan penampilannya justru ternyata adalah wanita yang pintar bahkan bisa dengan mudahnya menebak maksud dari perkataannya tadi.


Indira lantas berbalik arah, berjalan menuju ke ruang kerjanya dengan masih membawa perasaan dongkol tentunya karena rencananya yang tidak berhasil.


***


"Iya Ummi. Aku sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit untuk menemani kak Siti," ucap Lela dengan sang ibunda yang berada di ujung telepon.


Zayn yang sedang menyetir sesekali melirik istrinya yang tengah berusaha menenangkan ibundanya.


"Ummi tidak perlu khawatir. Doakan saja agar operasi Kak Siti berjalan dengan lancar sehingga ikhtiar yang sedang dilakukan oleh Kak Siti untuk memperoleh momongan ini berhasil."


"Iya Ummi. Insya Allah aku akan menjaga Kak Siti dan juga Aisha. Ummi tidak perlu cemas."


Beberapa saat kemudian Lela menyudahi pembicaraannya. Sejenak tertegun sambil menghela napas panjang mengingat betapa Ummi yang sangat mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya.


Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia melirik sang suami di sampingnya.


"Boleh matikan AC-nya?" pinta Lela.


Zayn langsung menuruti keinginan istrinya. Dengan sigap dia mematikan AC lalu melihat sang istri yang langsung membuka jendela kaca mobil.


Lela memejamkan mata seakan menikmati semilir angin yang masuk menerpa wajahnya. Angin yang kali ini terasa segar setelah semalaman hingga tadi pagi kota diguyur hujan yang tak henti.


Zayn tiba-tiba memegang tangan istrinya.


Lela menoleh melihat sang suami sambil tersenyum.


"Kamu tahu. Jawaban seorang ibu ketika ditanya diantara semua anaknya siapa yang paling disayanginya," tanya Zayn.


Lela tak segera menjawab. Dia nampak tertegun sejenak.


"Seorang ibu pasti akan lebih menyayangi anaknya yang sakit diantara mereka yang sehat dan yang pergi sampai dia kembali," jawab Lela penuh haru, tertunduk sedih menahan pilu memikirkan Ummi yang selalu sedih memikirkan anak-anaknya yang selalu saja terkena masalah. Setelah dirinya kini Ummi harus memikirkan masalah kak Siti yang sedang diuji dengan momongan.


"Itulah kenapa doa seorang ibu itu mustajab. Menembus langit, mengguncang Arasy. Karena kasih sayang tulus yang tak akan terbalaskan dan tak minta dibalas." Zayn tersenyum pada istrinya.


Lela ikut tersenyum sambil mengangguk.


***


Di tengah persiapan operasi, Siti yang sudah siap duduk di atas kursi roda yang akan membawanya ke ruang operasi, sambil menunggu perawat datang, dia melihat Andre yang malah terlihat tegang menghadapi operasi sang istri.


Siti menarik tangan suaminya yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depannya.


"Kenapa sayang? Apa kamu perlu sesuatu?"


Siti menggelengkan kepalanya.


Andre langsung berjongkok di depan istrinya.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Siti sambil memegang wajah suaminya.


Andre menatap lekat wajah istrinya.


"Apa kamu takut operasi ini tidak berhasil?"


Andre menggelengkan kepalanya.


"Aku mengkhawatirkanmu." Andre berbicara pelan.


"Jika aku boleh jujur. Aku tak menginginkan anak lagi jika harus seperti ini caranya. Aku lebih takut jika terjadi sesuatu padamu."


Siti kaget.


"Kita bisa hidup berdua, tidak ada anak tak masalah,jika kamu tetap menginginkan anak, kita bisa mengadopsinya," lanjut Andre lagi.


"Sayang." Siti semakin kaget.


"Jika kamu mau, kita masih punya waktu untuk membatalkan operasi ini." Andre berkata dengan sungguh-sungguh.


"Sayang. Ada apa? Kenapa kamu begitu khawatir. Ini operasi kecil, bukan operasi besar. Insyaallah aku akan baik-baik saja." Siti menenangkan suaminya.


"Aku tahu itu. Tapi entah mengapa aku merasa sangat takut sekali."


"Pikiranku kemana-mana. Aku berpikir yang tidak-tidak. Aku takut dokter melakukan suatu kesalahan di dalam nanti, atau kondisimu tiba-tiba drop, aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berpikir seperti itu." Andre tampak sangat cemas.


Siti tersenyum.


"Sayang. Lihat aku. Aku akan baik-baik saja." Siti kembali memegang wajah suaminya.


"Doakan agar aku baik-baik saja ya, jangan berpikiran macam-macam."


Andre menatap wajah istrinya.


"Kamu harus baik-baik saja." Andre mengecup kening Siti.


Siti mengangguk dan tersenyum.


Andre memeluk erat istrinya.


"Aku tahu jika aku berlebihan," ucapnya pelan.


Andre mempererat pelukannya ketika dia menyadari betapa dirinya sangat mencintai istrinya. Wanita yang datang tiba-tiba di hidupnya itu kini menjadi wanita yang sangat berarti di hidupnya. Siti baginya adalah wanita istimewa, cahaya di hidupnya yang datang disaat dirinya bisa dibilang tak punya apa-apa, tidak seperti wanita lainnya yang mendekatinya karena uangnya, Siti bahkan mau menjadikannya suami saat dirinya tak lagi kaya dan menerima dirinya yang apa adanya.


Siti akhirnya dibawa ke ruang operasi, Andre bersama Aisha dan Lela menunggu di luar ruangan. Semuanya berdoa agar operasinya berjalan lancar.


***


Anita berjalan menuju ruang operasi, walaupun dia tahu jika dirinya telat karena Siti yang sudah mulai dioperasi.


Langkahnya melambat ketika melihat beberapa orang perawat yang sedang berkumpul diam-diam memperhatikan dan menertawakannya.


Anita semakin memperlambat langkahnya ketika dia menyadari jika perawat itu rupanya sedang mengobrol dengan Indira. Mereka semua menatapnya sambil sesekali sambil berbisik-bisik di depannya.


Anita tersenyum sambil kemudian menghampiri mereka semua.


Tak menyangka jika akan dihampiri, beberapa orang perawat langsung terdiam dan mundur ketakutan.


Begitu juga dengan Indira yang langsung terdiam.


"Kunci ketenanganku adalah aku tidak akan menghiraukan orang-orang yang sedang membicarakanku di belakangku. Cukup bagiku saat orang itu terdiam ketika melihatku." Anita menatap mereka semua satu persatu sambil terus tersenyum.