
Zayn langsung tertegun sejenak mencerna perkataan Lela.
"Pertama kalinya?" tanyanya kemudian sambil menatap wajah istrinya tak mengerti.
Lela tak menjawab, dia hanya langsung memalingkan wajahnya dari sang suami, tatapannya yang tadinya berani, berubah menjadi ragu dan malu.
Bahkan kini Zayn merasakan jika tangan istrinya yang sedari tadi mengalungi lehernya mulai mengendur dan perlahan Lela melepaskannya.
"Apa maksudnya perkataanmu tadi?" tanyanya sekali lagi menelisik.
Lela masih tak mau menjawab. Dia terdiam terus memalingkan wajahnya.
Zayn yang penasaran akan mencoba mencari tahu dengan caranya.
Dengan secepat kilat, Dia menyergap tubuh istrinya, mendorongnya perlahan untuk berbaring di atas tempat tidur.
Zayn yang kini sudah mengungkung tubuh sang istri sejenak menatap wajah Lela di bawahnya yang kini tak seagresif tadi, malah dia merasakan tubuh istrinya yang sedikit gemetar ketakutan.
Zayn lalu memegang dagu sang istri, mengusap bibir merahnya dengan ibu jari, lalu perlahan mengecupnya seperti yang Lela lakukan tadi padanya.
Lela menerimanya namun dengan reaksi tubuhnya yang menegang, tak sesantai tadi, dia bahkan merasakan jika kedua tangan istrinya meremas sprei di bawahnya.
Zayn kembali mengecup bibir istrinya, namun kali ini dilanjutkan dengan ********** pelan, naluri kelelakiannya yang sudah tergulung birahi membawanya pada insting alami untuk memulai ritual pemenuhan nafkah batin mereka untuk pertama kali.
Zayn melepaskan ciumannya, ketika menyadari jika Lela tak membalas sesapan bibirnya. Untuk orang yang sudah menikah, seharusnya Lela tahu apa yang harus dilakukannya, membuat Zayn semakin penasaran dengan maksud perkataan istrinya tadi. Benarkah jika ciuman ini adalah kali pertamanya?
Namun dia tak akan lagi menanyainya, Zayn akan kembali mencari tahu dengan caranya.
Dia kembali ******* bibir sang istri, seperti tadi, tak ada penolakan namun Lela tetap seperti amatiran. Zayn tak akan lagi menghiraukan itu, kali ini tangannya mulai aktif bergerilya, menyingkap dan membuka pakaian yang dikenakan istrinya.
Lagi-lagi Lela terdiam pasrah, namun tidak dengan reaksi tubuhnya yang semakin terasa menegang tak karuan, meski begitu tetap Zayn akan melancarkan aksinya karena hasratnya yang kini sudah tak tertahankan.
Zayn mulai mencumbu istrinya, dengan penuh cinta, tidak tergesa-gesa, dia ingin menikmati setiap momen penyatuan keduanya dengan penuh perasaan dan penghayatan.
Zayn akhirnya bisa membuat istrinya terbuai. Lela melupakan ketegangannya, sekujur tubuhnya melemas merasakan yang sebenarnya baru dirasakannya. Nalurinya juga menuntunnya untuk akhirnya balas menyesap bibir yang sedari tadi mencicipi bibirnya, membuat Zayn tersenyum senang di sela-sela pagutannya membuatnya juga semakin bergairah dengan langkah selanjutnya karena Lela telah memberinya kode jika istrinya itu telah juga mulai menikmatinya.
Perlahan Zayn menyentuh Lela merajalela dimana-mana, napas keduanya saling bersahutan kian memburu, seiring dengan sentuhannya yang semakin intens, membuat Zayn yakin jika Lela telah siap menerimanya, dia mulai mendesakkan dirinya.
Akhirnya penyatuan itu terjadi, Lela memekik kecil sambil merintih kesakitan disertai dengan air mata yang merebak dari kedua sudut matanya merasakan ada jika bagian dari dirinya yang terkoyak. Membuat tangannya meremas kuat kain sprei di bawahnya.
Tentu saja, Zayn melihat kesakitan istrinya, dia segera menuntaskan hasratnya tak rela melihat bening kristal terus keluar dari kedua manik mata sang istri.
Zayn berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi menunggu istrinya keluar dari dalam sana.
Cukup lama karena istrinya tak jua keluar, Zayn berniat mengetuk pintunya.
Namun tertahan ketika dia melihat pintu terbuka, Lela keluar dengan mengenakan handuk kimono melihatnya dengan ragu.
Zayn merekahkan senyuman sambil langsung memeluk istrinya, mendekapnya erat dengan berbagai perasaan yang kini bergelayut di dadanya.
Dari semua perasaan itu, sudah pasti kebahagiaan yang mendominasi, mengetahui jika istrinya adalah janda yang ia nikahi ternyata masih suci. Sudah tentu dia bahagia menjadi lelaki pertama yang menyentuh bunga pujaan hati.
"Maafkan aku. Karena aku kamu kesakitan tadi," ucapnya pelan memeluk istrinya semakin erat.
"Tidak apa-apa." Lela melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Zayn melepaskan pelukannya, menatap wajah sang istri yang terlihat sangat lelah. Dia lalu mengecup keningnya, dengan berjuta perasaan bahagia tentunya, masih tak menyangka jika istrinya masih suci tak disentuh oleh mantan suaminya.
"Kamu pasti lelah. Sebaiknya kita istirahat."
Zayn menggiring istrinya berjalan menuju tempat tidur. Lela berjalan terlebih dahulu menuju kasur, menyingkap selimut demi untuk merapikan dulu sprei yang acak-acakan. Namun dia dibuat tertegun melihat noda merah di atas sprei putihnya.
Dia yang kaget langsung melihat suaminya sambil buru-buru menutupi kembali bercak darah di atas kasur.
"Aku sudah melihatnya."
Lela langsung terlihat salah tingkah.
"Itu darah keperawanan." Zayn mendekati istrinya.
"Beberapa wanita akan mengeluarkan darah ketika pertama kali melakukan hubungan intim." Zayn seolah ingin memperjelas jika kini dia sudah tahu semuanya. Ingin melihat reaksi istrinya.
"Sebaiknya kita tidak usah membahasnya." Lela tersenyum kikuk pada suaminya sambil kemudian menarik sprei kotor itu untuk menggantinya dengan yang baru.
"Jadi itu alasannya memukulimu?" Zayn memegang tangan istrinya.
Lela tak menjawab hanya melirik suaminya sekilas sambil sibuk menggulung sprei di tangannya.
"Sudah pasti bukan karena kamu menolaknya kan?"
Lela langsung melihat suaminya sambil menggelengkan kepala cepat.
"Tidak mungkin kamu menolaknya. Kamu wanita shalihah yang tahu persis apa kewajibanmu sebagai seorang istri." Zayn menjawab sendiri pertanyaannya sambil melihat Lela yang berjalan menuju lemari mengambil sprei baru.
"Mungkinkah karena..." Zayn tak melanjutkan perkataannya karena Lela tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku sudah memintamu untuk tak membahasnya kan?" ucap Lela pelan sambil menyandarkan kepalanya di punggung sang suami.
"Cukup yakini jika membahagiakanku bukan tugasnya maka mungkin kesucianku juga bukan untuknya. Allah SWT sudah menakdirkannya seperti itu."
Zayn langsung memutar badannya menghadap sang istri.
"Maafkan aku. Kamu tahu jika sebenarnya aku sangatlah bahagia. Tubuhmu ternyata masih suci karena memang tak pantas dijamah oleh lelaki nista penganiaya wanita." Zayn memeluk kembali istrinya.
Keduanya berpelukan beberapa saat.
Tiba-tiba Lela merasakan jika suaminya terus tersenyum-senyum sendiri.
Lela melepaskan pelukannya sambil melihat suaminya heran.
"Kenapa tersenyum?" tanyanya heran.
"Haruskah aku tertawa seperti para preman itu?"
Lela mencubit perut suaminya pelan.
"Kini aku mengerti semuanya." Zayn kembali menarik Lela ke dalam pelukannya.
"Jadi besok kita akan periksa ulang ke dokter kandungan yang tadi siang." Zayn menggoda istrinya.
"Tidak!!"