Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Permintaan Maaf


Zayn duduk di tepi kasur sambil terus memijat keningnya. Tak lama Lela datang dengan membawa gelas dan obat untuknya.


Lela duduk di samping sang suami, segera memberikan obat itu dan meminta suaminya untuk segera meminumnya.


"Sekarang istirahatlah." Lela meminta suaminya untuk berbaring.


Zayn tetap duduk sambil terus memijat kepalanya yang dirasanya semakin pusing.


Lela lalu memegang kepala suaminya, ikut memijatnya dengan rasa penuh kekhawatiran.


"Jika pusingnya tidak berhenti, apa tidak sebaiknya kita ke Rumah Sakit saja sekarang?"


Zayn langsung melihat istrinya sambil tersenyum.


"Tidak perlu. Sebentar lagi juga pusingnya akan hilang karena reaksi obat yang aku minum barusan."


"Kalau begitu berbaringlah. Siapa tahu pusingnya akan sedikit berkurang."


"Baiklah." Zayn tiba-tiba merebahkan dirinya di atas pangkuan sang istri.


Bukannya kaget Lela malah tersenyum melihat kepala suaminya sudah ada di pangkuannya.


Zayn terlihat memejamkan matanya, berharap bisa mengurangi pusing yang dirasakannya.


Namun kemudian dia tersenyum ketika dirasanya Lela mengelus kepalanya pelan.


Zayn membuka matanya, menatap wajah sang istri di atasnya.


"Dimana kak Mira? Bukannya dia mau menginap?"


"Di rumah Kak Zaidan. Katanya Kak Mira mau tidur disana padahal aku sudah memintanya untuk tidur disini."


Zayn terkekeh.


"Pengertian sekali kakakku," ucapnya sambil kembali memejamkan mata dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Lela hanya tersenyum seakan mengerti maksud perkataan suaminya.


"Berdoa saja semoga sakit kepalaku ini tidak segera sembuh," ucap Zayn pelan masih sambil terpejam.


"Kalau tiba-tiba saja aku sembuh maka aku akan..."


"Ya Allah berilah kesembuhan untuk suamiku." Lela memotong perkataan suaminya.


Zayn langsung membuka matanya.


"Apa kamu bersungguh-sungguh dengan doamu?" tanyanya sambil melihat sang istri.


Lela mengangguk. "Tentu saja. Istri mana yang mau melihat suaminya sakit."


Zayn langsung beranjak, kembali duduk sambil terus melihat istrinya.


"Apa kamu tahu konsekuensinya jika doamu dikabulkan?" tanyanya sambil terus menatap sang istri.


"Apa ada konsekuensinya?" tanya Lela balik.


"Iya. Dan itu cukup berat."


"Oh ya? Apa itu?"


Zayn perlahan mendekatkan wajahnya pada sang istri.


"Apa kamu sudah siap?" Zayn berbisik sambil terus mendekati wajah istrinya.


Lela tak menjawab. Dia hanya terus memundurkan wajahnya hingga akhirnya membuat tubuhnya ambruk ke atas kasur.


Zayn mengungkung tubuh istrinya, memandang wajah Lela dengan penuh hasrat. Menggiatkan naluri kelelakiannya yang kini meronta.


Lela hanya terdiam pasrah, walaupun sebenarnya dia merasa sangat takut dan gemetaran, kedua tangannya meremas sisi bajunya.


"Kalau aku meminta hakku malam ini, akankah kamu bersedia tanpa merasa terpaksa?" tanya Zayn pelan.


Lela tak segera menjawab, dia hanya terus menatap mata sang suami yang terlihat begitu berhasrat padanya.


"Apakah kode-kode yang kuberikan belum membuatmu mengerti jika aku sudah rela melakukan kewajibanku sebagai seorang istri? Jika aku sudah ingin segera memenuhi hakmu sebagai seorang suami."


Jawaban Lela bak angin segar bagi Zayn yang sebenarnya masih di selubungi rasa ragu.


"Aku siap." Lela kembali memastikan kesiapannya.


Ibu jari Zayn berpindah mengusap bibir merah istrinya, membuat Lela langsung membuka matanya.


Sayangnya hasrat yang semakin menguat, sepertinya membuat saraf-saraf di kepala Zayn juga ikut menegang. Membuat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.


Zayn kembali mengecup kening istrinya, menatapnya penuh cinta sebelum akhirnya dia tumbang di samping Lela.


"Sepertinya doamu kali ini tidak dikabulkan Allah. Kepalaku malah semakin sakit." Zayn memegang kepalanya.


Lela kembali menatap wajah suaminya yang berbaring di sampingnya dengan khawatir.


"Sepertinya sekarang giliranmu yang harus bersabar menunggu kesembuhanku." Zayn melihat istrinya sambil tersenyum.


"Semoga saja ini bukan karmaku."


Zayn terkekeh.


***


Anita terus menatap layar monitor USG di depannya dengan serius, sebelah tangannya sibuk menggerakkan alat USG di atas perut Siti.


Sudah lumayan lama dan Anita masih berkutat dengan alat USG-nya, wajahnya yang menunjukkan keseriusan membuat Siti dan Aisha keheranan.


"Ada apa?" tanya Siti akhirnya mencoba untuk bertanya.


Anita menarik napas panjang sambil menyudahi pemeriksaan pada perut Siti.


Dia lalu mengajak Aisha dan kakaknya untuk kembali duduk di depan meja kerjanya.


"Maafkan aku harus mengatakan ini. Sepertinya aku menemukan sesuatu yang akan membuatmu sulit hamil."


Siti dan Aisha tentu saja kaget.


"Pasca keguguran yang kamu alami waktu itu, meninggalkan masalah di rahimmu. Ada penyumbatan di saluran tuba falopi." Anita mencoba menjelaskan dengan hati-hati.


"Penyumbatan tuba falopi menyebabkan ****** tidak dapat bertemu dengan sel telur di dalam rahim, sehingga proses pembuahan tidak dapat terjadi. Kondisi ini bisa mengakibatkan gangguan kesuburan."


"Sebenarnya tidak masalah jika penyumbatannya hanya terjadi di salah satu tuba falopi saja. Kemungkinan hamil masih tetap ada, tapi dengan terpaksa aku harus mengatakan jika penyumbatan yang kamu alami sekarang terjadi di kedua saluran tuba falopi."


Siti terlihat syok.


"Tidak perlu khawatir. Ada banyak solusi untuk mengatasinya." Anita berusaha menenangkan.


"Salah satunya adalah dengan pembedahan. Pembedahan akan disarankan untuk yang mempunyai masalah dengan tuba falopi yang tersumbat. Pembedahan tergantung dengan letak tersumbatnya dan luasnya jaringan jahat. Pembedahan memiliki tujuan untuk membuka tuba falopi yang tersumbat hingga memberikan peluang untuk hamil."


Siti terlihat sumringah mendengar penjelasan Anita yang terakhir.


"Lakukan itu. Tidak masalah walaupun aku harus dioperasi asalkan aku bisa hamil."


"Tentu saja. Tapi sebelumnya kamu harus mendiskusikan hal ini dulu dengan suamimu."


"Iya kak. Kakak harus menceritakan semuanya dulu dengan suami kakak." Aisha memegang tangan kakaknya.


Siti mengangguk dengan ragu. Sebenarnya dia merasa takut memberi tahu kondisinya pada sang suami. Sudah terbayang bagaimana suaminya akan kecewa mengetahui kondisi rahimnya yang bermasalah mengingat dia sangat tahu jika Andre sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang anak.


"Tenanglah. Tidak perlu merasa cemas, seperti yang aku katakan tadi, ada banyak solusi untuk mengatasi permasalahanmu. Insya Allah selama kita terus berikhtiar."


***


"Aku ingin meminta maaf langsung padamu," ucap Meisya gagap tampak tertunduk malu di hadapan Lela. Ibunya yang senantiasa ada di sampingnya mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Aku membawanya kesini karena dia bersikeras ingin bertemu denganmu dan meminta maaf langsung padamu dan suamimu setelah mendengar apa yang terjadi pada kalian berdua. Dia merasa sangat bersalah karena apa yang dilakukan oleh Ammar adalah juga karena kesalahannya." Diah memperjelas maksud kedatangan mereka ke kediaman Zayn dan Lela.


Zayn terdiam. Sementara Lela terus melihat Meisya yang tampak sangat lain ketika terakhir kali mereka bertemu. Di hadapannya kini bukan lagi wanita anggun nan cantik dengan segala pesonanya, namun wanita yang nampak tertekan dan penuh keputusasaan. Wajahnya pucat dengan tatapan penuh ketakutan dan penyesalan. Dia lantas teringat suaminya pernah menceritakan apa yang menimpa Meisya, dan kondisinya pasca pengeroyokan itu, namun Lela tak percaya jika trauma yang dialaminya justru separah itu.


Lela beranjak dari duduknya. Dia menghampiri Meisya. Diah memberikan tempatnya ketika tahu jika Lela akan duduk di samping keponakannya.


Meisya dengan gemetar terlihat ketakutan melirik Lela yang kini sudah berada di sampingnya.


"Aku tidak akan mengatakan aku mengerti akan keadaan yang sedang kamu alami sekalipun aku pernah berada di posisimu. Mungkin bagiku mudah karena pernah aku lalui, namun akan sulit bagimu karena baru kamu hadapi. Batas kemampuan orang itu berbeda-beda. Aku hanya bersyukur telah melewatinya." Lela memegang kedua tangan Meisya.


"Tapi aku sangat tahu ketika berada di posisimu. Tidak semuanya bisa ditenangkan oleh nasihat atau pelukan seseorang, karena sebenarnya sesuatu yang berat dan membebani itu baru akan berkurang atau bahkan hilang setelah ada tetesan air mata dan tangan yang berdoa."


Meisya langsung melihat Lela dengan lelehan air mata di pipinya.


Lela tersenyum, dia memeluk Meisya dengan hangatnya.