Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Fitnah


Lela melepas kepergian Meisya yang dipapah oleh ibunya.


"Terima kasih, aku tahu jika kamu wanita yang sangat baik." Diah memeluk Lela.


"Aku yakin jika sekarang Meisya akan jauh lebih baik lagi. Berkatmu."


Lela langsung menggelengkan kepalanya.


"Alhamdulillah jika seperti itu. Tapi itu bukan karena aku. Hanya Allah SWT yang Maha menyembuhkan."


Diah mengangguk-anggukkan kepalanya penuh haru, berpikir jika Lela adalah wanita luar biasa, rasanya baru kali ini dia melihat seseorang memaafkan kesalahan orang lain dengan mudahnya padahal kesalahan yang telah diperbuat keponakannya sudah sangat fatal dan membahayakan.


"Baiklah. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum." Diah lantas pergi menyusul sang adik dan keponakannya.


Lela menutup pintu. Dia membalikkan tubuhnya dan kaget mendapati sang suami sudah berdiri di hadapannya.


"Jadi kamu memaafkannya begitu saja?" tanya Zayn sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa aku salah?"


"Tentu saja," jawab Zayn cepat.


"Benar juga. Seharusnya tadi aku memaki dan menjambak rambutnya. Ya kan?"


Zayn terkekeh geli.


Dia menghampiri istrinya dan langsung memeluknya.


"Kamu wanita yang sangat baik. Aku bangga memiliki istri sepertimu." Zayn mengeratkan pelukannya


"Almarhum Abah pernah bilang. Ketika seseorang melakukan kesalahan dan lalu orang itu menyadari kesalahan yang telah dibuatnya, tugas kita bukan untuk mencaci dan menghakiminya, akan tetapi rangkullah dia kembali kepada kebenaran. Jika tak mampu menjadi obat untuk luka yang dia rasakan, paling tidak jangan jadi duri yang akan membuat lukanya semakin menganga."


"Berbahagialah Abah disana karena telah berhasil mendidik putra-putrinya menjadi manusia yang berakhlak mulia."


***


Indira menggerutu.


Sekarang pergi bekerja menjadi sesuatu yang menyebalkan baginya. Bukan karena padatnya jadwal operasi dan banyaknya pasien yang harus dia tangani, melainkan kian hari seiring dengan intensitas pertemuan dan interaksi antara dirinya dan Alvian membuat rasa yang dulu ada namun hilang dan bahkan sudah gersang kini kembali menumbuhkan benih-benih cinta yang seakan mulai bersemi kembali.


Bagaimana tidak. Alvian menurutnya menjadi pria yang bukan lagi lajang tapi semakin tampan menawan, semakin berkarisma dan berwibawa. Semakin membuatnya kesusahan menjaga hatinya untuk tak terus terpesona mengingat dirinya tak mungkin dapat memilikinya.


Indira mencoba terus menata hatinya untuk tak membiarkan benih-benih asmara itu terus tumbuh subur di hatinya, walaupun sulit dia yakin jika dirinya pasti bisa jika mengingat bagaimanapun dan apapun yang terjadi, Alvian tak akan pernah dia miliki.


Dia hanya kesal kenapa sedari dulu hanya Alvian lelaki yang bisa menggetarkan hatinya, membuatnya luluh dan dengan mudah membuatnya jatuh cinta padahal masih banyak lelaki di sekitarnya yang bahkan jauh lebih tampan ingin memilikinya.


Sepanjang koridor Indira terus menggerutu sendiri, mengasihani nasibnya yang harus terus memendam cinta dan kasih tak sampai ini sedari dulu. Dia lantas menyalahkan Anita yang dianggapnya sebagai penyebab semua kenestapaan hatinya.


Masih sambil menggerutu Indira terus berjalan menuju ruang operasi, namun langkahnya terhenti melihat sosok yang sedari tadi ada dalam pikirannya. Anita.


Indira tertegun. Melihat orang yang sedari tadi dia maki di dalam hatinya kini ada dihadapannya sedang berjalan pelan sambil menunduk melihat map di tangannya.


Indira berdecak kesal, lagi-lagi untuk kesekian kalinya dia harus bertemu dengan Anita lagi.


Dia lantas berpikir heran, semenjak kerja disini beberapa kali dia melihat Anita sering berkunjung ke Rumah Sakit ini padahal dia tahu jika Anita sudah tak lagi bekerja disini, dia sangat yakin jika tak ada anggota keluarganya yang juga sedang sakit dan dirawat disini. Namun kemudian dia memilih untuk tak peduli, Indira kembali berjalan dengan mempercepat langkahnya berharap Anita tak melihat dan menyapanya. Baru beberapa langkah, Indira kembali dibuat tertegun melihat Alvian yang tiba-tiba muncul dari sebuah ruangan sedang berjalan di belakang Anita.


Melihat dokter Anita dan Alvian di waktu dan tempat yang sama membuat Indira lantas berpikir macam-macam. Sejurus kemudian dia tersenyum sinis sambil kembali melanjutkan langkahnya.


Indira segera berjalan cepat mendekati Anita dan menyapanya.


"Sedang apa disini?" tanya Indira dengan ramah.


"Aku sedang ada keperluan dengan temanku." Anita menjawab juga dengan ramah dan hangat sambil mengangkat map ditangannya.


"Dokter Alvian." tiba-tiba Indira mencegat langkah Alvian.


Alvian tentu saja kaget, dia langsung mengangkat kepalanya melihat sekilas Indira dan Anita bergantian.


"Apa operasinya sudah selesai?" Indira berbasa-basi.


"Iya." Alvian menjawab singkat sambil akan kembali melangkah.


"Tunggu dulu. Apa kamu tak menyapa mantan kekasihmu ini?" Indira menunjuk Anita.


Anita langsung terkesiap. Sementara Alvian hanya menggelengkan kepalanya sambil akan kembali melangkah.


Namun Indira menghalangi jalan Alvian.


"Kenapa? Apa kalian sudah melupakan masa-masa indah kalian dulu? Hampir 5 tahun loh kalian berpacaran." Indira tersenyum-senyum sendiri.


"Indira!" Anita menarik tangan Indira agar memberi Alvian jalan.


Indira menepisnya, sambil terus melihat Alvian yang sudah terlihat kesal.


"Maaf. Itu bukan urusanmu!" Alvian kembali akan melangkah.


Lagi-lagi Indira menghalangi langkahnya.


"Aku tahu jika kalian masih berhubungan baik walaupun masing-masing sudah memiliki pasangan. Tapi benarkah jika hubungan itu hanya sebatas pertemanan atau karena masih ada cinta yang terpendam diantara kalian?" Indira mencoba memprovokasi.


Anita kembali terkesiap. Sementara Alvian menundukkan kepalanya dengan sangat kesal.


"Indira apa maksud kamu?" Anita dibuat syok dengan semua perkataan Indira.


"Bisa saja kan kalian memanfaatkan kepercayaan pasangan kalian masing-masing dengan masih menjalin hubungan di belakang mereka diam-diam?" Indira menatap sinis Anita dan Alvian.


Anita terbelalak.


"Bisa saja Rumah Sakit ini menjadi tempat kalian untuk saling bertemu, melepas rindu."


Plakkk.


Indira kaget karena tanpa diduga Anita menampar wajahnya.


"Fitnahanmu sungguh keji." Anita yang sudah tak bisa menahan diri lagi, terpaksa memberi Indira sebuah tamparan untuk menghentikan semua perkataan kejinya.


Indira yang kaget langsung memegang pipinya dan melihat sekitarnya, untung saja mereka sedang berada di lorong yang sepi sehingga tidak ada yang melihat, jika tidak tentu saja dia akan sangat malu ditampar keras oleh Anita seperti itu.


Alvian hanya bisa tertegun juga dengan marahnya. Namun apa daya dia tak bisa melakukan sesuatu, selain bersabar dengan segala tuduhan Indira padanya dan Anita.


"Sepertinya tuduhanku benar." Indira tersenyum sinis.


"Tamparan ini bukti jika kalian masih ada sesuatu."


"Tidak usah banyak bicara. Buktikan saja jika menurutmu itu benar." Alvian melirik Indira kemudian kembali melangkahkan kakinya.


Anita terus menatap Indira dengan tajam, sorot matanya memancarkan sejuta kemarahan. Namun kemudian dia memilih untuk tak meladeni Indira lagi, Anita kembali berjalan di belakang Alvian yang sudah terlebih dahulu.


"Bagaimana dengan reaksi istri dan suami kalian ya jika mereka tahu jika ternyata kalian berdua menjalin cinta terlarang." Indira membalikkan badannya melihat Alvian dan Anita yang meninggalkannya.


Alvian dan Anita serentak menghentikan langkahnya.


Lain halnya dengan Alvian yang memilih untuk tak menggubris perkataan Indira dan kembali melanjutkan langkahnya, Anita justru langsung membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju Indira.


"Aku turut sedih dengan hidupmu. Memfitnahku menjadi bukti jika selama ini aku hidup jauh lebih baik darimu."