Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
CT scan


Zayn tertegun tak percaya ketika istrinya tiba-tiba memeluknya erat. Rasa sakit akibat dari pukulan preman seolah kalah oleh rasa bahagianya kini melihat sang istri tengah ada di dalam pelukannya.


"Minggirlah. Aku tidak takut melihatnya. Aku lebih takut lagi jika kamu terluka," ucap Lela di dalam dadanya sambil terisak.


Zayn tersenyum.


Melihat itu, Ammar menjadi emosi, dia merasa sangat marah melihat Lela memeluk suaminya di hadapannya.


Ammar dengan sigap mengambil balok kayu dari salah seorang preman, dengan cepat menghampiri Zayn dan memukul kepalanya dengan kencang.


Zayn langsung ambruk seketika, Lela yang kaget langsung melihat Ammar yang kini sudah berdiri di depannya dengan penuh kemarahan.


Ammar tersenyum sinis sambil terus menatap Lela tajam.


Lela berusaha menghentikan tangisnya sambil berjongkok melihat sang suami yang sudah pingsan. Dengan tangis yang ditahannya, dia menyimpan kepala suaminya di atas pangkuannya.


Lela menatap kosong wajah suaminya. Tak lagi menangis, dia melirik Ammar yang masih berdiri di hadapannya.


"Kamu kira aku akan takut jika bertemu denganmu?" tanya Lela tersenyum sinis.


"Bagaimana aku bisa takut jika dalam setahun ini kamu selalu ada dalam ingatan dan pikiranku?"


"Awalnya memang membuatku gila, tapi sekarang aku terbiasa. Aku sudah bisa berkompromi dengan hati dan pikiranku. Jika kamu tak bisa lagi menyakitiku. Kamu sebenarnya hanya manusia pengecut yang hanya berani pada perempuan saja."


"Benarkah? Aku tidak bisa lagi menyakitimu?" Ammar tersenyum sambil membuka ikat pinggangnya, sesuatu yang selalu dia lakukan dulu ketika akan menyiksa Lela.


Lela tersenyum.


"Sudah aku katakan jika aku tidak takut padamu. Aku justru heran pada kamu yang masih berani untuk menemuiku."


"Kenapa aku harus takut padamu hah?" Ammar memutar-mutar ikat pinggang di tangannya.


"Bukan takut. Seharusnya kamu malu."


"Malu? Kenapa aku harus malu padamu?" Ammar tertawa.


Lela melirik mantan suaminya.


"Seharusnya para pria malu bertemu dengan jandanya yang masih perawan."


Seketika raut wajah Ammar berubah.


"Apa penyakitmu sudah sembuh?" tanya Lela lagi sambil tersenyum sinis.


Ammar membelalakkan matanya marah.


"Penyakit yang membuatmu tidak bisa menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami untuk memberikan nafkah batin pada istrinya."


Ammar semakin terlihat marah, dia membalikkan badannya melihat para preman yang diam-diam tersenyum menertawainya.


"Penyakit itu juga yang membuatmu memukuliku dengan dalih ingin mengajariku, padahal kamu malu jika aku tahu kondisimu yang tidak normal."


"Diam kamu!" Ammar membentak Lela.


"Kenapa? Malu? Pada mereka?" tanya Lela tersenyum sinis sambil menunjuk para preman yang kini semakin terang-terangan menertawai Ammar.


Ammar yang sudah kalap melempar sabuk di tangannya. Dia lalu menghampiri para preman itu dan memukul salah seorang diantara mereka dengan balok kayu yang sedari tadi di pegangannya.


Orang itu langsung ambruk seperti Zayn. Membuat lima orang temannya yang lain meradang. Secepat kilat mereka langsung menghajar dan mengeroyok Ammar dengan tanpa ampun.


Ammar yang berusaha melawan malah semakin membuat para preman itu kalap. Dengan tanpa rasa iba, Ammar terus dipukuli hingga babak belur dan akhirnya jatuh tak berdaya ke bawah dengan wajah dan badan yang penuh luka dan darah.


Para preman kemudian pergi membawa temannya yang pingsan.


Sementara Lela tak memperhatikan dan memperdulikan semua kejadian itu, dia hanya kembali menangis sambil berusaha menelepon seseorang untuk meminta bantuan membawa Zayn ke rumah sakit.


Tak lama security datang, dia tampak kaget melihat kondisi Ammar yang mengenaskan.


Tak lama kemudian Zaidan yang ditelepon Lela juga datang bersama istrinya dia langsung menghampiri Lela yang memeluk erat suaminya yang masih pingsan.


Anita menarik Lela untuk ikut pergi ke dalam mobil. Zaidan lalu segera pergi dari sana setelah berpesan pada pihak sekuriti untuk segera menelepon polisi dan Ambulance agar membawa Ammar ke rumah sakit.


***


Di Rumah Sakit.


Siti dan Aisha memeluk Lela yang sedari tadi terdiam dengan tatapan kosongnya. Mereka berusaha menyadarkan Lela yang nampaknya masih syok akan kondisi suaminya.


Sementara Alvian bersama beberapa orang dokter lainnya masih memeriksa keadaan Zayn di ruang gawat darurat. Melihat kepalanya yang mengeluarkan darah, Alvian hanya berharap jika saudara iparnya itu tidak mengalami luka yang serius.


Kembali lagi pada Lela dan yang lainnya yang menunggu di ruang tunggu, mereka tampak risau menunggu kabar akan kondisi Zayn.


Tak lama Ambulans datang, mereka tertegun jika itu adalah Ammar yang dibawa oleh para polisi memasuki ruang gawat darurat.


Tak berapa lama Alvian datang menghampiri mereka semua.


"Bagaimana kondisinya?" Zaidan menghampiri Alvian.


"Kami harus melakukan CT scan dulu untuk melihat seberapa parah luka di kepalanya."


Lela yang mendengar kembali menangis. Aisha dan Siti menenangkannya.


"Kapan hasilnya akan keluar?"


"Aku akan usahakan secepatnya."


Semuanya terdiam.


"Sudah malam. Sebaiknya kalian pulang saja, biar para pria disini yang menunggu." Alvian menghampiri istrinya.


Aisha langsung melihat kakaknya.


"Kakak ingin disini menemani suami kakak." Lela semakin terisak dalam tangisnya. Menolak untuk disuruh pulang.


Beberapa saat kemudian.


"Alhamdulillah. Hasil CT scan menunjukkan tidak ada luka yang serius, walaupun tidak juga mengatakan jika ini luka ringan, namun bisa dikatakan jika benturan keras pada kepalanya tidak mengakibatkan sel-sel saraf di otaknya terganggu atau ada pembengkakan. Untungnya hanya terjadi luka di tulang tengkoraknya saja, walaupun sedikit retak tapi kita harus tetap bersyukur jika cederanya tidak serius." Dokter bedah syaraf melihat semuanya.


Semua orang langsung merasa bersyukur. Terutama Lela yang langsung memeluk Aisha dengan bahagia.


"Pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan."


"Kita hanya bisa menunggu sampai pasien sadar," ucap Dokter itu lagi sebelum akhirnya pergi.


Semua orang menunjukkan wajah yang lega.


"Kalian pulanglah, biar aku disini bersama Lela." Anita melihat Aisha dan Siti.


"Iya kak, pulanglah. Bawa Aisha pulang, ini sudah sangat malam, tidak baik untuk kehamilannya." Lela melihat Siti.


Siti mengangguk. Dia dan Aisha akhirnya terpaksa pulang meninggalkan Lela, namun sedikit tenang karena ada Anita yang menemaninya.


Andre mengantar keduanya pulang, sementara Alvian memilih untuk tetap di Rumah Sakit sampai Zayn siuman, setidaknya itu akan membuatnya sedikit tenang jika harus meninggalkannya. Dia akan pastikan dulu jika Zayn baik-baik saja.


***


Sementara diluar ruangan Zaidan dan istrinya juga Alvian sedang berbicara dengan beberapa orang polisi yang menanyakan peristiwa tadi.


Di dalam ruang perawatan Lela tengah termenung sambil menatap wajah suaminya yang masih belum sadarkan diri. Matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana suaminya tadi terus berusaha melindunginya dari Ammar.


Lela kembali menangis. Dia tak menyangka jika suaminya rela mengorbankan dirinya demi untuk melindunginya hingga rela dipukuli berkali-kali.


Dia lalu melihat kepala suaminya yang diperban, lalu melihat beberapa luka lainnya, ada beberapa di bagian tangan juga wajahnya akibat dari perkelahian itu.


Perlahan Lela memegang tangan suaminya. Dia lantas mengeratkan genggaman tangannya, sambil menangis dan menunduk mencium tangan Zayn, Lela berdoa kepada Allah SWT memohon agar suaminya segera diberikan kesembuhan.


"Jika aku tahu kalau harus terluka dulu baru bisa memelukmu, aku akan melakukannya dari dulu." Zayn yang rupanya sudah sadar tersenyum melihat istrinya.