
Lela membantu suaminya bangun dari kursi roda.
Dia lalu memegang tangan Zayn untuk kembali ke atas ranjang.
Zayn sudah duduk di tepi ranjang pasien, Lela memintanya untuk menaikkan kakinya agar suaminya bisa berbaring namun Zayn menggelengkan kepala.
"Aku ingin duduk saja."
Lela tak menjawab, dia langsung menyibukkan diri dengan menggeser kursi roda dan membereskan meja kecil di samping ranjang.
Sementara Zayn terus memperhatikan istrinya dengan penuh tanda tanya. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, Ammar terkapar penuh luka, dia syok mengetahui jika ternyata Ammar babak belur di keroyok orang-orang suruhannya sendiri dan penyebab yang dikemukakan oleh Lela istrinya sangatlah tidak masuk akal.
"Apa kamu mau minum?" tanya Lela sambil melihat suaminya.
Zayn mengangguk.
Dia lalu menyodorkan sebotol air mineral pada suaminya.
Bukannya mengambil botol itu, Zayn malah menarik tangan istrinya sehingga keduanya kini saling berhadapan dengan dekat.
Lela kaget.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi." tanya Zayn sambil mengambil botol di tangan istrinya lalu menyimpannya di atas kasur.
"Aku tahu kamu berbohong tadi," ucapnya lagi.
Bukannya menjawab, Lela malah akan mundur dan memalingkan wajahnya dari sang suami.
Namun Zayn tak kalah cepat, dia kembali menarik istrinya dengan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Lela.
Lela semakin kaget. Dia menatap wajah suaminya yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Katakan." Zayn menatap lekat wajah istrinya.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya," jawab Lela terbata.
"Benarkah?" Zayn malah melingkarkan sebelah tangannya lagi di pinggang sang istri, dan menariknya lebih dekat lagi hingga membuat kedua dada mereka menempel.
Lela langsung mencoba untuk mundur, namun Zayn menahannya dengan kuat.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lela dengan gugup.
Zayn tak menjawab, dia hanya terus menatap wajah istrinya.
"Lepaskan nanti ada yang masuk," ucap Lela memohon dengan suaranya yang pelan.
"Aku tidak peduli," jawab Zayn sambil terus menatap wajah istrinya yang terhalangi oleh cadar.
Lela terdiam. Sesaat keduanya saling bertatapan. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah suaminya dengan jarak yang begitu dekat seperti ini, dan untuk pertama kalinya dia melihat tatapan suaminya yang terlihat sangat kecewa padanya.
"Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan," ucap Zayn melonggarkan pelukannya hingga akhirnya melepaskan istrinya.
Lela mundur perlahan sambil memalingkan wajahnya dari sang suami. Dari nada suaranya dia sangat tahu jika suaminya bukan hanya kecewa namun sedih atas ketidakjujurannya.
"Tunggu saja. Sesuatu yang aku sembunyikan itu. Kamu akan mengetahuinya sendiri." Lela melihat suaminya.
Zayn mengerutkan keningnya tak mengerti. Dia kembali menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.
Namun Lela terus memalingkan wajahnya dari sang suami.
Tiba-tiba pintu terbuka, Aisha dan Siti datang beserta para suami mereka.
Melihat keadaan Zayn yang sudah jauh lebih baik, tentu saja semuanya senang. Mereka lega karena Zayn tidak mengalami luka yang parah.
"Aku kaget jika justru Ammar yang terluka cukup parah." Alvian melihat Zayn.
Zayn hanya tersenyum kecil sambil melirik istrinya.
"Iya. Aku pikir jika dia terluka karena baku hantam denganmu. Namun ternyata dia babak belur karena dihajar oleh orang suruhannya sendiri." Andre tertawa terkekeh.
Semuanya ikut tersenyum.
Aisha tiba-tiba menghampiri Lela.
"Kakak. Alhamdulillah kakak sudah sembuh." Aisha memeluk kakaknya senang.
"Karena semua orang terlalu panik tadi malam, tak ada yang ingat pada trauma kakak yang tidak muncul walaupun bertemu dengan mantan suami kakak."
Lela tersenyum.
"Iya dik. Alhamdulillah sepertinya kamu sudah sembuh. Mungkin ini adalah hikmah dibalik kejadian ini." Siti mengusap punggung adiknya.
Tak berapa lama mereka semua lalu keluar ruangan.
Aisha dan kakaknya juga Anita dan para suami mereka masing-masing memilih untuk membiarkan Lela dan Zayn lebih banyak menghabiskan waktu berdua di dalam ruangan. Mereka ingin agar Lela dan Zayn bisa semakin dekat seiring dengan kondisi Lela yang sepertinya sudah benar-benar pulih.
***
"Mantan suami Lela yang melakukannya?" tanya Amira tak percaya sambil melihat kedua adiknya bergantian.
Zaidan menghampiri kakaknya.
"Iya. Terjadi kesalahpahaman. Tapi sekarang semuanya sudah selesai."
Amira melihat Lela. Ada sedikit rasa kecewa dari raut wajahnya.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Maafkan aku kak." Lela menunduk, merasakan kekecewaan kakak iparnya.
"Kakak. Ini bukan salah istriku. Mantan suaminya yang salah." Zayn mencoba menjelaskan.
"Kakak tidak menyalahkannya. Hanya saja kakak kaget mengetahui istrimu mempunyai urusan yang belum selesai dengan mantan suaminya."
"Harusnya kamu menyelesaikan masalahmu dengan mantan suamimu dulu sebelum memutuskan untuk menikah lagi."
Lela semakin menundukkan kepalanya.
Amira mendekati adiknya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa luka di kepalanya tidak parah?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja kak. Kakak tidak usah cemas. Lukaku tidak parah. Besok juga aku sudah boleh pulang."
"Syukurlah kalau begitu. Wajar jika kakak sangat cemas, ini pertama kalinya kamu terluka dan dirawat di Rumah Sakit."
Mendengar itu, Lela tampak semakin merasa bersalah.
Setelah mereka berbincang sejenak, akhirnya Amira berpamitan untuk pulang, dia meminta maaf tak bisa berlama-lama karena meninggalkan anaknya yang masih kecil di rumah.
Zaidan mengantarkan kakaknya ke depan.
Zayn melirik istrinya yang sibuk membereskan makanan yang tadi dibawa kakaknya Amira.
"Maafkan kakakku. Dia mengatakan itu karena terlalu cemas." Zayn takut istrinya sedih akan perkataan kakaknya.
"Dia juga tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya."
"Kenapa meminta maaf? Kak Amira tidak salah. Aku mengerti perasaannya. Biarpun dia marah. Itu sangat wajar," jawab Lela masih sibuk di depan meja.
"Aku takut kamu tersinggung karena ucapannya."
"Sama sekali tidak," jawab Lela masih membelakangi suaminya.
"Kenapa kamu selalu pura-pura sibuk ketika aku ajak bicara," ucap Zayn sambil menarik pelan lengan istrinya.
"Kenapa juga kamu selalu tiba-tiba menarik tanganku."
Zayn tersenyum. Dia tidak tahu jika istrinya ternyata sedang memotong buah-buahan.
"Maafkan aku." Zayn melepaskan tangan istrinya.
Lela kembali melanjutkan memotong buah-buahan untuk suaminya.
Tak lama Lela selesai, dia menghampiri suaminya dengan membawa sepiring buah-buahan.
Zayn bergeser untuk memberi istrinya tempat agar bisa duduk di depannya. Lela akhirnya duduk di depan suaminya. Dia mulai menyuapi Zayn.
Zayn makan sambil terus menatap wajah istrinya yang terus berusaha memalingkan wajah darinya.
"Bisa tolong beritahu aku. Kenapa tiba-tiba kamu tidak takut menghadapi Ammar? Rasanya tidak mungkin jika kamu bisa sembuh dari trauma begitu saja."
Lela tak segera menjawab. Dia menarik napasnya panjang.
"Aku akan jawab. Tapi bisakah ini menjadi percakapan terakhir kita membahasnya?"
Zayn langsung mengangguk.
"Ketakutanku melihat kamu terluka lebih besar dari rasa takutku melihatnya," ucap Lela sambil menunduk. Ingatannya langsung kembali pada malam tadi, bagaimana dia melihat suaminya seorang diri harus berkelahi dengan orang-orang sangar dan bertubuh besar. Bagaimana dia juga melihat pengorbanan sang suami yang rela dipukuli demi untuk melindunginya dari Ammar.
"Apakah itu cukup untuk dijadikan alasan kenapa aku bisa tiba-tiba sembuh?" Lela mengangkat kepalanya melihat sang suami.
Tanpa diduga Zayn malah langsung menarik perlahan cadar istrinya ke bawah, sehingga kini dia bisa melihat wajah Lela sepenuhnya dari dekat.
Lela tentu saja kaget, apalagi kini suaminya memegang dagunya sambil melihatnya lekat.
"Itu lebih dari cukup." Zayn tersenyum.