Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Malu


"Sayang. Kamu belum berkemas?" tanya Andre ketika memasuki kamar malah melihat Siti termenung di atas tempat tidur.


Pertanyaan Andre memecahkan lamunan Siti, membuatnya kaget dan langsung berdiri menghampiri sang suami.


"Apa kita tidak jadi pulang hari ini?" Andre menatap wajah istrinya heran.


Siti tak segera menjawab, dia hanya terus menatap wajah suaminya dengan ragu.


"Ada apa sayang?" tanya Andre merasa aneh dengan sikap Siti.


Siti memegang tangan suaminya, mengajaknya untuk duduk di atas tempat tidur.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan."


Andre menatap lekat wajah istrinya, bersiap mendengarkan dengan seksama.


"Tadi pagi aku pergi ke klinik dokter Anita."


"Iya. Untuk menemani Aisha kan?"


"Iya. Tapi sebenarnya bukan hanya untuk menemani Aisha saja. Tapi aku juga sekalian memeriksakan diri."


Andre mengerutkan keningnya.


"Memeriksakan diri? Memangnya kamu kenapa? Kamu sakit? Atau?" Andre termenung sejenak.


"Kamu hamil sayang?" tanyanya antusias.


Andre memegang perut istrinya dengan sumringah wajahnya tampak berbinar karena bahagia.


"Tidak. Tidak." Siti buru-buru memegang tangan suaminya yang tengah memegang perutnya.


Tak bisa dibayangkan betapa hancur hati Siti melihat ekspresi suaminya yang begitu bahagia karena mengira dirinya yang tengah hamil.


"Aku tidak hamil." Siti melihat suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.


Andre tertegun sambil melihat istrinya yang sedang berusaha menahan tangisnya.


"Sayang. Ada apa?" tanyanya heran.


"Aku. Ada masalah dengan rahimku." Siti mengatakan intinya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


Andre tertegun.


"Dokter Anita bilang jika aku tak bisa mengandung." Siti menunggu reaksi suaminya.


Andre hanya terus menatap wajah istrinya dengan tajam.


Siti yang merasa jika suaminya kecewa langsung menundukkan kepalanya.


"Terus kenapa?" ucap Andre tiba-tiba.


Siti mengangkat kepalanya kaget.


"Aku memang menginginkan seorang anak. Tapi jika kamu tak bisa memberikannya ya sudah. Tidak apa-apa. Dengan atau tanpa anak tak akan merubah apapun. Baik itu perasaanku padamu dan pernikahan kita."


Siti terharu. Kini air mata yang sedari tadi dia tahan tumpah ruah membasahi pipinya.


Siti langsung memeluk suaminya.


"Sebenarnya dokter Anita memberikan solusi untuk mengatasi masalah di rahimku."


"Dokter Anita menyarankan agar aku melakukan operasi." Siti lantas menjelaskan semuanya secara terperinci agar suaminya mengerti.


"Sayang. Apapun yang membuatmu nyaman aku akan selalu mendukung apapun keinginanmu. Jika kamu memang mau melakukan operasi aku pasti akan mendukungmu sepenuhnya. Tapi jika kamu tidak mau, tidak usah merasa kamu harus melakukannya demi untuk memenuhi keinginanku mempunyai seorang anak."


"Aku ingin melakukannya. Biar bagaimanapun selain berdoa kita tetap harus berikhtiar. Lagi pula mempunyai anak bukan hanya keinginanmu saja. Aku juga sebenarnya sangat mengharapkan hadirnya anak sebagai pelengkap kebahagiaan kita."


Andre tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Seperti kataku tadi jika aku akan selalu mendukung apapun keinginanmu."


"Terima kasih."


"Jadi kita belum akan pulang?"


"Belum. Besok kita akan datang ke rumah sakit."


"Baiklah."


***


Lela menutup sambungan teleponnya. Menyimpan ponselnya lalu menatap keponakan sang suami yang sedari tadi terlelap tidur di pangkuannya.


Tak terasa air matanya mulai meleleh, mengetahui jika baru saja kakaknya memberitahu akan rencana operasi yang akan segera dilakukan Siti demi untuk mendapatkan keturunan.


Lela merasa sedih. Kali ini Allah memberikan ujian kepada kakaknya dari masalah keturunan. Dari pembicaraan di telepon tadi, dia tahu jika sang kakak memendam kesedihan dan keputusasaan, dia takut jika operasi tetap membuatnya tak bisa memberikan anak untuk sang suami.


Lela terus merenung sambil terus menatap bayi kecil di pangkuannya, sambil terus berharap dan berdoa kepada Allah SWT agar mempermudah proses ikhtiar sang kakak dan suaminya dalam rangka untuk mempunyai keturunan.


"Anak nakal. Kenapa kamu membuat istriku menangis." Zayn tiba-tiba duduk di samping Lela, melihat istrinya dengan khawatir.


Lela mengulum senyum sambil menyeka air matanya.


"Jangan memanggilnya anak nakal. Dia anak yang baik dan shalih." Lela terus menatap wajah keponakannya dengan lembut lalu kemudian menciuminya dengan penuh kasih sayang.


"Kalau begitu kenapa kamu menangis?" Zayn memegang dagu istrinya, memintanya untuk melihat wajahnya.


"Katakan. Kenapa matamu yang indah ini dibasahi oleh air mata," ucap Zayn lagi.


"Aku hanya sedih karena Kak Siti."


"Kak Siti?"


Lela lalu menceritakan perihal permasalahan yang sedang dihadapi kakaknya. Dengan sambil menahan tangisnya Lela seolah sangat merasakan kesedihan yang tengah dialami oleh sang kakak.


"Impian seorang wanita itu begitu sederhana. Menikah dan menjadi ibu yang seutuhnya. Meski memang ada tanggung jawab dan peran baru di dalamnya, tapi semua itu tetap akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri." Lela kembali menatap wajah keponakannya dengan penuh haru.


"Itulah kehidupan. Ada yang diuji dengan suaminya yang tak bertanggung jawab, kasar dan tidak setia, ada yang sebaliknya, suaminya sempurna namun mertua dan ipar cobaannya. Ada yang diuji istrinya tak shalihah, melawan dan membantah, ada juga yang sebaliknya istrinya shalihah namun momongan menjadi masalahnya, ada yang keduanya nyaris sempurna tapi Allah mengujinya dengan berbagai musibah dan penyakit parah. Ada yang dipermudah dengan momongan namun Allah mengujinya dengan dipersulitnya rezeki. Masing-masing orang sedang berperang melawan ujiannya masing-masing. Ada yang menyerah, ada juga yang sanggup melewatinya." Zayn tersenyum melihat istrinya.


Lela tertegun mendengarkan perkataan suaminya.


"Iya. Itu benar," gumam Lela pelan sambil tersenyum sendiri. Dia baru ingat jika terkadang semua hal tak akan selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ada Allah yang akan selalu menguji ketaatan dan kesabaran hamba-Nya.


"Semoga kakakku dan suaminya bisa melewati ini semua."


"Aamiin."


"Seperti kita yang sudah berhasil melewati satu ujian kita kemarin." Lela melihat suaminya.


"Iya. Tinggal satu ujian lagi."


"Satu ujian lagi? Apa?" tanya Lela heran.


Zayn meringis sambil memegang kepalanya.


"Luka di kepalaku ini."


Lela menahan tawanya.


"Insya Allah kamu akan segera sembuh."


"Itu harus karena ada sesuatu yang harus segera aku lakukan."


Lela tertunduk malu mendengar perkataan suaminya.


Zayn lalu menggeser badannya mendekati sang istri. Demi untuk melihat sang keponakan dari dekat.


Zayn memandangi wajah keponakannya yang masih terlelap tidur.


"Dia lucu sekali kan?" gumam Lela pelan melirik suaminya.


"Iya. Lucu sekali. Boleh aku menciumnya?"


Lela langsung mendekatkan bayi itu pada suaminya.


Namun bukannya mencium sang keponakan, Zayn malah tiba-tiba mencium pipi istrinya. Membuat Lela kaget hingga langsung melihat suaminya.


Belum habis kekagetan istrinya, Zayn malah mendaratkan ciuman keduanya. Disusul dengan ciuman ketiga dan keempat. Membuat Lela akhirnya hanya bisa tertegun dengan wajahnya yang perlahan memerah dan merona karena malu.


Zayn terkekeh melihat istrinya yang lalu salah tingkah.


"Aku suka melihat wajahmu yang kemerah-merahan karena malu."


"Aku tidak suka karena kamu selalu membuatku malu."